Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Menerima Masa Lalu David


__ADS_3

Rena sedang bersiap - siap untuk berangkat ke rumah Opa dan Oma David di kota C. David mengatakan bahwa mereka akan menginap satu malam di sana karena David akan memberitahunya alasan kenapa ia ingin menikahi Renatta Azaria. Dan Rena sangat ingin tahu alasan di balik niatan David padanya.


Rena memang tidak membawa baju yang banyak dari apartemennya, tetapi untung saja David telah menyiapkan beberapa baju di dalam lemari di kamarnya.


Rena keluar kamar dengan menjinjing tas kecil dan melihat Audrey yang sedang menyantap sarapannya yang ke siangan berada di meja makan.


"Halo Audrey," sapa Rena, sambil mendekati adik perempuan David itu.


"Hi Rena," sapa Audrey balik.


"Kalian jadi ke rumah Oma dan Opa?" tanya Audrey sambil mengunyah makanannya.


"Jadi. Kamu nggak ikut?" tanya Rena.


Audrey menggeleng.


"Aku besok menyusul dengan Rico," ujar Audrey sambil tersenyum.


Audrey memang sengaja tidak ikut dengan David dan juga Rena untuk memberi mereka kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain.


"Kakak mana?" tanya Audrey sambil melihat ke sekelilingnya.


"Lagi siap - siap di kamarnya?" jawab Rena.


"Ren, aku sudah dengar apa yang terjadi," ujar Audrey sambil melirik ke arah Rena.


Rena mengerutkan keningnya, menanyakan maksud perkataan Audrey.


"Anak Aleta," ujar Audrey.


"Oh tentang itu. Ternyata sampai juga ke telinga Audrey," ucap Rena dalam batin.


"Kenapa memangnya?" tanya Rena.


"Aku tahu Kakakku memang bergaul bebas saat ia berpacaran dengan Aleta. Tetapi aku rasa anak itu bukanlah anaknya. Karena kalau anak itu anak Kak David, apa iya Aleta akan memutuskan Kakak dan menikahi Kak Varell?" ujar Audrey mengemukakan pendapatnya.


"Lebih baik kita tunggu saja hasil tes nya," ujar Rena sambil tersenyum dan mengangkat bahunya.

__ADS_1


Rena sebenarnya tidak ingin membicarakan hubungan David dan juga Aleta yang telah lalu, karena apapun yang terjadi di antara mereka, tidak perlu di ungkit - ungkit lagi. Lagi pula Rena tidak tahu benar apa yang terjadi 7 tahun yang lalu, dan Rena tidak mempermasalahkannya lagi.


Walaupun tadi malam ia merasa sangat kecewa dan hatinya terasa sakit setelah mendengar pengakuan Aleta, namun sekarang Rena bisa memaklumi dan bisa menerima masa lalu David. Rena sangat menghargai kejujuran David untuk bercerita padanya mengenai masa lalunya.


Rena merasa hubungannya dengan David sejak tadi malam, mengalami peningkatan. Ia bisa memahami David dan mulai terbuka pada David untuk menceritakan masa lalunya sendiri. Sesuatu yang Rena tidak pernah bicarakan dengan orang lain bahkan dengan teman - teman dekatnya. Karena identitasnya harus di rahasiakan rapat - rapat.


Namun sejak David mengetahui siapa ia sebenarnya, Rena merasa tidak ada yang perlu di tutup - tutupi. Dan ia pun merasa lega telah bisa mengeluarkan isi hatinya yang sudah di pendamnya selama ini.


"Kamu tidak kuatir?" tanya Audrey heran melihat sikap Rena yang terlihat santai menyikapi kemungkinan David memiliki anak di luar nikah.


Rena menggeleng, namun di dalam hati, dadanya bergemuruh mengingat pernyataan David tadi malam. "Aku tidak akan pernah menikahi Aleta, aku hanya akan menikahi seorang wanita saja dan dia adalah.... Renatta Azaria Putri Alfaro,"


"Apa yang kamu pikirkan?" tiba - tiba David berkata sambil duduk di sebelahnya.


"Ya Ampun, kamu mengagetkanku!" Seru Rena, sambil memegang dadanya.


Ia tidak sadar jika David sudah turun dan langsung duduk di sebelahnya.


David tertawa dan meminta maaf karena telah mengagetkan Rena.


"Tapi serius, Ren. Apa yang kamu pikirkan?" tanya David penasaran melihat Rena yang sedang melamun di meja makan saat ia turun tadi.


"Apa yang kalian obrolkan?" tanya David ingin tahu.


"Tentang anak Kakak," jawab Audrey dengan mudahnya, membuat Rena tertegun.


"Oh, jadi kalian sedang bergosip tentang aku?" tanya David sambil memelototkan matanya.


Audrey hanya tertawa kecil.


"Bukan bergosip, Audrey hanya bertanya, apa yang terjadi. Itu saja," ujar Rena beralasan.


"Aku bilang sama Rena kalau anak Aleta tidak mungkin anak kakak," ujar Audrey blak - blakan. Memang sudah sifat Audrey seperti itu.


"Audrey kamu tidak perlu kuatir mengenai Rena. Karena dia sudah menerima aku apa adanya," ujar David sambil melirik ke arah Rena dan mata mereka bertemu.


"Oh baiklah, aku hanya menjadi nyamuk di meja ini. Sebaiknya aku tinggalkan kalian, to do what ever you want," ujar Audrey sambil beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Salam buat Opa dan Oma!" Teriak Audrey sambil melangkah menaiki tangga ke lantai 2.


Hanya beberapa detik Rena menoleh ke arah Audrey, tahu - tahu wajah David sudah berjarak sangat dekat dengannya.


"Kapan terakhir kali aku menciummu?" tanya David sambil memandang bibir Rena.


"Kapan? Rena tidak ingat kapan terakhir kali mereka melakukan itu, tapi sepertinya belum lama," batin Rena sambil menelan ludahnya.


"Aku tidak ingat," jawab Rena.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengingatkanmu," ujar David sambil mencodongkan wajahnya ke arah Rena dan menempelkan bibir mereka berdua.


David tidak terburu - buru, ia ingin menikmati candunya perlahan, mengecup dengan lembut, membuat ujung jari Rena yang menahan dada David menjadi bergetar.


"A... ayo... ayo kita berangkat!" Ujar Rena tiba - tiba bangkit dari kursinya dan membalikkan membelakangi David.


Rena tidak tahu kenapa ujung - ujung sarafnya terasa seperti terkena setrum saat David mengecupnya, dan itu membuat Rena menjadi resah.


David yang merasakan hal yang sama pun tersenyum. Namun ia tak seterkejut Rena, karena ia telah menyadari perasaan yang di pendamnya terhadap gadis yang ada di hadapannya itu. Dan ia tahu apa sebab mereka merasakan itu.


"Ayo," ajak David sambil menarik tangan Rena menuju ke arah pintu keluar. Rena yang masih canggung pun mengikuti David keluar rumah.


Di depan pintu rumah, mobil BMW 3 series berwarna Melbourne Red yang di berikan oleh David untuk Rena sudah menunggu mereka. Salah satu pelayan memberikan kunci mobil itu kepada David.


"Mari kita coba mobilmu," ujar David tersenyum sambil membukakan pintu mobil di kursi penumpang depan untuk Rena.


Rena memasuki mobil dan tersenyum memandangi interior mobil yang di belikan oleh David untuknya.


"Bagus ya? Kamu suka?" tanya David saat melihat ekspresi wajah Rena.


"Bagus. Seharusnya kamu tidak usah membelikan mobil ini. Terlalu mahal untukku," ujar Rena merendah. Ia merasa bukanlah siapa - siapa bagi David, dan tidak sepantasnya David membelikannya mobil itu.


"Percayalah Rena, tidak ada yang terlalu mahal untukmu," ujar David tersenyum penuh arti kemudian mulai mengendarai mobil itu menjauhi teras rumahnya.


David mengendarai mobil itu dengan cepat, menyalip di antara mobil - mobil yang berjalan di jalan bebas hambatan menuju ke luar kota.


Bersambung..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2