
Austin dan Rena berencana menghadiri undangan makan dengan Satria, Direktur PT. Cahaya yang baru saja menandatangi kontrak yang bernilai cukup fantastis, yang sangat menguntungkan PT. DPA.
Hanya dalam waktu setengah jam mereka telah sampai di restoran yang di tuju dan bertemu dengan Satria yang juga baru saja datang.
"Pak Austin, Mbak Rena kebetulan sekali kita bebarengan. Mari, kita langsung saja, saya sudah membooking tempat untuk kita," ujar Satria dengan tersenyum lebar.
"Iya Pak kebetulan sekali, mari..." balas Austin dengan ramah.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam ruang VIP
yang telah di booking oleh Pak Satria. Ruangan yang di batasi oleh kaca itu berukuran cukup besar yang bisa menampung hingga 10 orang. Saat itu mereka hanya berenam. Austin, Rena, Deni, Satria,wakil direktur Satria dan Asistennya.
"Ruangan ini cukup besar Pak. Apa kita masih menunggu orang lain?" tanya Austin dengan sopan.
"Oh iya Pak. Kebetulan CEO kami ingin ikut bergabung dengan kita hari ini," ujar Satria.
"Oh tentu saja." ujar Austin. Kemudian bertanya, "Kalau boleh tahu, siapa CEO perusahaan Bapak?"
Belum sempat di jawab oleh Satria, pintu ruangan VIP itu terbuka dan masuklah Alexander David Mahendra bersama dengan Alvin.
"Selamat datang Pak David. Anda datang tepat waktu," ujar Satria sambil berdiri menghampiri David.
Austin yang menyadari bahwa CEO yang di maksud adalah Alexander David Mahendra pun terkejut. Ia tidak menyangka jika PT. Cahaya pun di miliki oleh David. Begitu pula Rena. Ia tertegun bersama Abangnya Austin. David sama sekali tidak memberitahunya mengenai hal ini.
"Pak David, kenalkan ini Pak Austin dari PT. Dua Pilar Alfaro," ujar Satria memperkenalkan mereka berdua.
Austin mau tak mau pun berdiri dan menjabat tangan David. Ia tidak bisa menolak dan membatalkan kontrak kerja sama yang telah mereka tanda tangani atau perusahaannya akan terkena pinalti yang cukup besar.
"Apa kabar Austin?" sapa David dengan tersenyum ramah. Tidak tampak sama sekali ia berusaha mendominasi pertemuan mereka.
"Baik. Aku tidak tahu kalau PT. Cahaya adalah milikmu," ujar Austin.
"Ya, memang Pak Satria ini mengelolanya dengan baik dan aku tidak terlalu banyak ikut campur tangan di dalamnya, jadi memang tidak banyak yang tahu," ujar David.
"Pak David bisa saja." ujar Satria merasa di sanjung oleh Bos besarnya itu.
"Oh iya Pak David. Kenalkan ini Mbak Rena, adik dari Pak Austin," ujar Satria hampir lupa mengenalkan Rena pada David
"Apa kabar Ren?" tanya David sambil menyalami tangan Rena. Ia berusaha bersikap formal saat itu, untuk menghargai pertemuan mereka.
"Baik Pak David," jawab Rena sambil tersenyum.
"Mari Pak, silahkan duduk." ujar Satria mempersilahkan David untuk duduk.
David pun duduk di dekat Satria, bersebrangan dengan Rena yang duduk di sebelah Austin. Selama pertemuan makan siang mereka, David dan Rena beberapa kali tertangkap basah oleh Austin saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
Dan ini membuat Austin jengah, tetapi sekali lagi tidak ada yang bisa ia lakukan.
"Saya permisi sebentar," ujar Rena mohon diri ke luar ruangan itu saat mereka telah selesai makan dan mengobrol santai.
"Silahkan Mbak," ujar Satria sopan.
Rena pun langsung keluar dan berjalan ke arah toilet. Ia menghabiskan beberapa saat di sana untuk me - refresh dirinya. Setelah itu, Rena keluar dari toilet hendak kembali ke ruangan pertemuan mereka saat sepasang tangan memeluknya dan menghimpitnya di tembok lorong restoran.
Pemilik sepasang tangan itu tidak hanya memeluknya namun juga mendaratkan bibirnya di bibir Rena, dan ********** dengan penuh nafsu.
Rena yang mengenal ciuman yang bertubi - tubi itu pun membalasnya, ikut menyesap bibir milik pria yang memeluknya dengan erat. Rena sangat rindu dengan belaian bibir pria itu hingga ia melingkarkan lengannya di leher pria itu. Memperdalam ciuman mereka hingga terengah - engah.
Saling pandang untuk kemudian saling menyesap lagi dengan ritme yang lebih pendek, beberapa kali sambil tersenyum satu sama lain.
"Aku sangat kangen kamu, Ren." ujar pemilik suara berat maskulin itu sambil menempelkan keningnya di kening Rena.
"Aku juga," jawab Rena, tidak bisa membohongi dirinya. Walaupun mereka biasa mengobrol setiap malam, tetapi Rena pun merindukan berdekatan secara fisik dengan David.
Rena menyadari bahwa mereka sedang berada di lorong restoran yang bisa saja jika sewaktu - waktu ada orang yang akan melewatinya. Ia pun melepaskan lingkaran tangannya di leher David.
"Nanti ada orang, Yang," ujar Rena sambil menunduk malu.
"Tidak ada. Alvin sudah aku suruh berjaga di depan," ujar David sambil mengerling.
David memang sudah pamit undur diri dari pertemuan mereka setelah Rena pergi ke toilet. Ia sudah sangat rindu dengan Rena, sehingga mempergunakan kesempatan itu untuk menemuinya.
"Tak apa. Apa kamu lebih memilih jika Alvin menonton kita sedang bermesraan seperti ini?" tanya David sambil menggoda Rena.
Rena memukul pundak David dengan gemas saat David mengatakan mereka sedang bermesraan.
David mengecup bibir Rena sekali lagi, kali ini dengan lembut dan tidak berapi - api seperti tadi, dan Rena melakukan hal yang sama.
Mereka berdua tersipu dan merona, sampai tiba - tiba Austin berjalan di lorong dan di ikuti oleh Alvin.
Austin berdehem, membuat kedua sejoli yang sedang berpelukkan itu melepaskan pelukannya.
"Rena! Ayo kembali!" Seru Austin pada adiknya itu.
Rena dan David saling pandang, sebelum David mengangguk dan berjalan melewati Austin ke arah ruangan pertemuan.
"Maaf Pak, saya sudah berusaha mencegahnya, tetapi Pak Austin memaksa masuk," ujar Alvin merasa bersalah tidak bisa mencegah Austin masuk ke lorong itu.
"Tidak apa," ujar David, lalu berjalan keluar lorong menuju ke pintu luar restoran.
"David!"
__ADS_1
Tiba - tiba suara seorang wanita memanggil David, di luar pintu masuk restoran. David menoleh dan melihat Aleta berjalan mendekatinya.
"Ada apa lagi, Aleta?" tanya David sambil mendesah.
"Aku harus bicara padamu! Atau aku akan menyebarkan berita mengenai Farhan!" Seru Aleta sambil menatap David.
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya David sambil melipat tangannya di dada, menunggu apa yang ingin Aleta sampaikan.
"Kenapa kamu melakukan Tes DNA tanpa sepengetahuanku?" tanya Aleta sambil mendekati David tepat saat Austin dan Rena melewati mereka.
David melihat ke arah Austin dan Rena dan begitu juga dengan Aleta.
Austin hanya berjalan melewati David dan juga Aleta sambil menggandeng tangan Rena agar segera masuk ke dalam mobil yang telah menunggu mereka di depan pintu restoran.
Di dalam hati Aleta berpikir, "Kenapa Rena bergandengan dengan Austin Leonard Alfaro? Bukankah Rena berpacaran dengan David? Apakah mereka sudah putus?"
"Aku harus tahu, apakah Farhan benar - benar adalah anakku atau bukan," ujar David menjawab pertanyaan dari Aleta.
"Kalau tidak ada lagi yang mau kau bicarakan, aku harus pergi," ujar David sambil membalikkan tubunya.
"Tunggu David! Kamu tidak bisa melakukan itu! Aku tidak memberimu izin!" Ujar Aleta.
"Aku tak perlu izin darimu, karena Varell sudah mengizinkannya," ujar David pendek. Aleta mendesah, merasa keberatan dengan apa 6ang telah di lakukan oleh David.
"Kau tak perlu khawatir seperti itu Aleta, jika dia memang benar adalah anakku, aku akan bertanggung jawab. Dia bisa tinggal denganku dan juga Rena," ujar David dengan santainya, kemudian hendak berbalik untuk masuk ke dalam mobilnya, dimana Alvin dan juga Eddy telah menunggunya di depan mobil.
"Tunggu! Apa kau bilang?" tanya Aleta tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Bukankah itu yang kau mau, agar aku bertanggung jawab terhadap Farhan jika memang benar dia adalah anakku?" tanya balik David.
"Ya, tapi kenapa dengan Rena?" tanya Aleta dengan gusar.
"Karena aku akan segera menikahi Rena, itu sebabnya," ujar David lalu meninggalkan Aleta yang merasakan sakit di dadanya.
Visualnya Aleta Devanka versi author hehehe.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.