Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Penantian David


__ADS_3

Austin benar - benar mengajak Rena pergi seharian. Setelah makan siang mereka di restoran baru itu, Austin mengajak Rena untuk pergi ke PT. DPA. Ia tahu Rena sudah lama tidak berkunjung ke gedung itu.


Gedung PT. DPA memang tidak setinggi dan semewah Mahendra Tower yang juga di bangun oleh Ayah mereka. Akan tetapi Gedung DPA pun tidak kalah bagusnya, baik interior dan eksteriornya. Di sana Austin memperlihatkan semua kegiatan perusahaan mereka pada Rena. Bahkan PT. DPA sudah memiliki beberapa anak perusahaan yang cukup besar. Austin berharap Rena mau ikut andil dalam pengelolaan perusahaan yang berkembang dengan pesat itu.


"Rena kamu tidak usah kuatir. Abang akan melindungi kamu, jika Malvin berani macam - macam. Kakak akan waspada dan tidak akan membiarkan dia menghancurkan kita seperti dulu lagi," ujar Austin.


Austin berpikir sudah waktunya untuk Rena keluar dari persembunyiannya dan iya yakin bisa melindungi Rena, adiknya. Selain itu, dengan Rena menyibukkan diri di perusahaan, Austin berharap Rena bisa melupakan David.


Rena ragu. Walaupun ada keraguan dari dirinya untuk ikut memajukan perusahaan peninggalan sang Ayah untuknya dan Austin.Namun Rena tidak ingin Abangnya itu tersakiti dan perusahaan yang di bangunnya itu porak poranda oleh Malvin Dirgantara.


"Rena akan pikirkan, Bang," ujar Rena akhirnya.


"Pikirkanlah Ren, Abang sangat yakin kamu pasti bisa dan kita akan menjadi kuat bersama," ujar Austin menyemangati adiknya itu. Rena pun mengangguk.


Mereka pulang saat matahari hampir terbenam dan saat itu langit terlihat gelap karena hujan mulai turun.


Saat mendekati gerbang rumah mereka, Rena masih dapat melihat mobil merah David itu terparkir di sana dan ia sangat terkejut. Begitu pula dengan Austin ia tidak menyangka jika David masih menunggu adiknya itu hingga menjelang malam.


"David menunggunya sejak tadi siang?" batin Rena.


Jantung Rena berdetak kencang saat mobil mereka berhenti menunggu gerbang untuk di buka dan ia melihat David keluar dari mobilnya.


Rena pun langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil berlari menghampiri David, tidak menghiraukan hujan yang mengguyur tubuhnya dan juga panggilan Austin untuk masuk kembali ke dalam mobil.


"David, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rena saat David memeluknya dan memanggil namanya.


"Aku menunggumu sayang," ujar David masih mendekap erat Rena, melepaskan kerinduannya.


"Aku sudah bilang, tidak usah menungguku," ujar Rena sambil melepas pelukannya.


"Aku tidak bisa," ujar David sambil menatap wajah Rena dan mengelus pipinya.


"Rena, cepat masuk ke mobil!" Perintah Austin dari dalam mobil yang terbuka pintunya.

__ADS_1


Ia sangat jengah melihat David dan Rena berpelukkan di depan matanya.


"Rena kau dengar apa kata Abang?!" Ujar Austin dengan nada tinggi pada adiknya. Ia sangat kesal pada Rena karena tidak mau mendengarkannya.


"Masuklah Ren, aku tidak ingin kamu sakit. Nanti kita bicara," ujar David sambil memandang Rena penuh arti dan menyelipkan handphone di tangan Rena.


Rena sedikit terkejut memegang benda yang ada di tangannya, namun ia mengangguk dan segera memasukkannya ke dalam kantong bajunya. Rena melepaskan pelukannya dan berbalik masuk ke dalam mobil.Ia mendapati Austin yang menunggunya dengan kesal.


Saat mobil mulai bergerak masuk. Rena tidak berkata apa - apa dan memandangi David yang berdiri di tengah hujan deras, menunggunya hingga masuk ke dalam gerbang.


"Rena sudah berapa kali Abang bilang, jangan pernah bertemu dengan David lagi! Kenapa kamu tidak mendengarkan Abang?!" Seru Austin saat mereka sudah berada di dalam rumah.


"Abang, memangnya apa salah David sehingga Rena tidak boleh bertemu dengannya?" tanya Rena pada Kakaknya itu.


"Dengar Ren, dia itu hanya memanfaatkan kamu! Kamu tidak dengar apa yang orang - orang katakan tentangnya?" hardik Austin, mencoba membuka mata Rena, untuk melihat tujuan lain dari usaha David untuk menemuinya.


"Mereka hanya melihat apa yang tampak dari luar, tidak tahu David yang sebenarnya," ujar Rena.


"Rena, dia itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Seperti Malvin! Kamu ingin kejadian yang dulu terulang kembali? Ingat Ren, kamu sudah bukan gadis yang berusia 15 tahun lagi!" Seru Austin mengingatkan Rena akan bahayanya berhubungan dengan orang - orang yang seperti Malvin Dirgantara.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Austin.


"Aku tahu Bang," jawab Rena sambil menatap mata Kakaknya lalu ia berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Austin memandang punggung adiknya yang berjalan menjauhinya. Dan ia menghela nafas. Ia tahu Rena sangat keras kepala jika ia meyakini sesuatu. Dan Rena sangat yakin dan percaya pada David. Akan sulit bagi Austin untuk merubah pendapat Rena mengenai David.


Austin tidak mengerti apa yang telah David lakukan pada adiknya itu.


Rena masuk ke kamarnya dan segera menutup pintu. Di ambilnya telepon genggam miliknya yang di berikan David dari saku bajunya kemudian menyalakan powernya dan di taruhnya di atas meja.


Sambil menunggu ia melepas pakaiannya yang basah dan segera mandi dengan air hangat, membilas tubuhnya dan berkeramas. Setelah itu Rena segera memakai pakaiannya.


Beberapa hari yang lalu, Austin sudah menyuruh para pelayannya untuk mengambil pakaian Rena yanga ada di apartemennya, karena Austin tidak memperbolehkannya untuk tinggal Aprtemen lagi.

__ADS_1


Rena meraih telepon genggamnya dan melihat banyak pesan yang masuk dari beberapa temannya.


Ia segera merubah mode silent pada telepon genggamnya, agar Austin tidak mengetahuinya.


Sebauh pesan terbaru masuk, dari David


Yang, bisa aku telefon sekarang?


Rena pun mengiyakan dan masuk kedalam kamar mandi.


Segera sebuah vidio call masuk dan tanpa ragu dan Rena pun mengangkatnya.


Wajah David yang masih terlihat basah oleh hujan tampak di layar handphonenya.


"Adrena Clarissa Putri, aku senang sekali bisa bertemu kamu hari ini sayang," ujar David sambil tersenyum lebar. Walaupun hanya bertemu sesaat, ia bisa melepaskan kerinduannya pada Rena.


"Aku juga," jawab Rena sambil tersenyum, pipinya sedikit merona karena malu mengakui.


David menscreenshot wajah Rena yang terlihat merona di layar handphonenya. Kalau di depan matanya sudah pasti di ciuminya gadis itu karena gemas.


"Kenapa kamu menungguku David? Kamu benar - benar menunggu di sana sejak siang?" tanya Rena melalui percakapan.


"Tidak apa, aku tidak menyesal menunggumu," jawab David.


"Kamu tahu, aku akan selalu menunggumu, Ren." ujar David dengan tatapan penuh arti.


Rena menangkap maksud tersirat dari ucapan David. Jawaban dari lamarannyalah yang ia tunggu.


Rena tersenyum. Ia memang belum siap untuk menjawab lamaran dari David, karena ia sangat yakin jika David akan langsung menikahinya begitu ia mengatakan ya. Dan Rena belum menyiapkan mentalnya untuk itu. Terlebih Abang Austin belum merestui hubungan mereka.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2