
"Apakah Bapak dan Mbak Rena sudah selesai bicara? Dokter Bimantara sudah ada di sini," ujar Alvin dengan hati - hati.
"Ya, suruh dia menunggu di ruang kerja saya," ujar David sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baik Pak," jawab Alvin. Kemudian David memutus sambungan telefon itu.
"Rena, Dokter Bimantara sudah datang, setelah itu aku akan ke tempat Aleta untuk bertemu dengan Farhan, anak Aleta. Nanti aku jemput kamu kalau sudah selesai." ujar David pada Rena.
"Boleh aku ikut?" tanya Rena.
"Kamu serius mau ikut?" tanya David sedikit terkejut.
Dan Rena mengangguk kemudian berkata, "Kalau kamu mengizinkan,"
"Tentu saja boleh, tetapi aku tidak tau bagaimana tanggapan Aleta nanti. Dan dia juga belum tahu aku akan mengetes DNA anaknya. Apa kamu siap bertemu dengan dia?" tanya David.
Rena memutar bola matanya.
"Alexander David Mahendra, aku bukan anak kecil lagi!" Ujar Rena.
David tertawa kecil.
"Ya sudah, anak besar kamu boleh ikut!" Canda David sambil mengacak - acak rambut Rena.
Rena memukul dada David dengan kesal karena mengacak - acak rambutnya dan memanggilnya anak besar, sedangkan David hanya tertawa melihat wajah cemberut Rena.
"Aku ganti baju dulu," ujar Rena sambil melihat ke arah bajunya yang basah karena air matanya.
"Mmm... kamu juga ganti baju," ujar Rena sambil menunjuk dengan matanya, baju David yang basah oleh air mata Rena dan noda lipstik di kemeja yang di kenakan oleh David.
"Iya sayang," jawab David dengan mesra dan tersenyum.
Rena berjalan menuju kamarnya, namun terhenti saat David bertanya padanya, "Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa kamu sudah siap untuk menerima Farhan jika ternyata benar dia adalah anakku?"
Rena berpikir sebentar lalu menjawab tanpa berbalik ke arah David.
__ADS_1
"Kalau dia anakmu sudah kewajibanmu untuk menanggungnya dan memberikannya kasih sayang, aku tak akan keberatan," ujar Rena. Lalu ia berjalan ke arah kamarnya.
David tersenyum lebar dari kuping ke kuping mendengar jawaban dari Rena.
Bukankah itu artinya Rena bersedia menikah dengannya?
Begitu bahagianya David sampai ia tidak menyadari Alvin memanggilnya.
"Pak, Pak David," panggil Alvin untuk ke sekian kalinya sambil menepuk pundak Bosnya yang sedang tersenyum sendiri.
"Ada apa Alvin?" tanya David, masih sambil tersenyum lebar.
"Dokter Bimantara sudah menunggu di ruang kerja Bapak," ujar Alvin memberitahu David.
"Oh iya, ayo segera kesana!" Ujar David sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya di lantai 2.
David pun bertemu dengan Dokter Bimantara, yang mengambil sampel darah, akar rambut, dan ludah dari tenggorokkannya.
Setelah berganti pakaian, David bersiap - siap menuju ke rumah Aleta. David dan Rena berada dalam satu kendaraan yang di kendarai oleh Eddy, sedangkan Alvin dan Dokter Bimantara di kendaraan lain bersama dengan Andrew, supir David yang lain.
Varrel membuka pintu rumah saat mereka sampai di kediaman Varrel dan juga Aleta.
"Boleh aku masuk?" tanya David pada orang yang pernah menjadi sahabat kentalnya itu saat mereka kuliah di LA.
"Ya tentu saja." jawab Varell sambil membuka pintu dengan lebar.
"Aleta ada?" tanya David sambil melangkah masuk ke dalam rumah Varell bersama dengan Rena. Dokter Bimantara dan Alvin masih menunggu di dalam mobil, sampai David memerintahkan mereka untuk masuk.
"Aleta belum pulang, dia syuting dari semalam. Ada sebenarnya?" tanya Varell ingin tahu.
"Aku kesini ingin mengambil sampel darah, Farhan," ujar David.
"Sample darah? Untuk apa?" tanya Varell bertambah heran.
"Kau tidak tahu?" tanya David.
__ADS_1
"Tidak tahu apa?" tanya Varell heran.
David menghela nafas panjang.
"Tadi malam Aleta datang kerumahku dan mengatakan bahwa Farhan adalah anakku," ujar David tanpa basa - basi.
"Apa?!" Seru Varrel terkejut mendengar ucapan dari David.
"Aleta bilang begitu? Tapi kau tahu kan Farhan itu anakku, David!" Ujar Varell tidak terima dengan ucapan David.
"Aku pun sangat yakin ia anakmu, Varell. Tetapi aku harus melakukan ini dan memastikannya agar tidak ada ganjalan di kemudian hari," ujar David.
"Dan aku juga tidak ingin hubunganku dengan Rena terganggu karena hal ini. Rena harus tahu apakah Farhan adalah anakku atau bukan. Karena, ia telah mendengar apa yang di katakan oleh Aleta tadi malam. Aku harap kamu mengerti Varell" ucap David sambil menggenggam tangan Rena.
Varell sepertinya tidak setuju denga apa yang akan di lakukan oleh David.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan Varell. Aku rasa kamu pun perlu memastikan hal ini;" ujar David memandang Varell penuh arti.
"Baiklah akan ku suruh seseorang untuk menjemputnya di sekolah," ujar Varell akhirnya.
Varell sadar hal yang terjadi 7 tahun yang lalu memang sangat kacau, karena perselingkuhan Aleta dan juga dirinya. Dan melakukan Tes DNA atas Farhan adalah hal yang tepat untuk di lakukan.
Setelah menunggu beberapa saat. Farhan datang dengan di antar oleh salah satu pengasuhnya.
Tentunya anak yang belum genap berusia 7 tahun itu belum mengerti apa - apa, dan mengikuti saja apa yang di katakan Varell padanya.
Rena memperhatikan wajah anak tak berdosa itu dan tersenyum.
Anak itu cukup tinggi untuk anak seusianya dan memiliki wajah yang tampan. Tapi Rena tidak bisa menduga, jika ia anak dari David atau bukan, karena wajah anak itu lebih mirip dengan Aleta dari pada David atau pun Varell.
Rena juga tidak tahu, apakah ia akan menikah dengan David atau tidak. Tetapi jika ia menikah dengan David, ia tidak berkeberatan anak itu hadir di antara mereka.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya
...***** Selamat Puasa *****...