
Malvin mengangkat telapak tangannya meminta mereka untuk tenang, namun ia masih belum berkata - kata!
David hendak menghantamnya lagi, namun Mira yang mendengar suara teriakan David dan bunyi hantaman orang berkelahi pun sangat mengkhawatirkan Malvin. Ia pun berlari ke ruang tamu tempat David memukul Malvin.
"Jangan!" Teriak Mira memeluk Malvin dan melindunginya.
Austin segera menahan David saat Mira melindungi Malvin.
"Cepat katakan dimana Rena!" Teriak David sambil berdiri di belakang Austin. Ia terlihat sangat geram dan tidak sabar menunggu jawaban dari Malvin. Ia sangat mengkhawatirkan Rena, Istrinya dan apa yang Malvin telah lakukan padanya.
"Renatta... baik - baik saja." ujar Malvin bersusah payah. Mira masih memeluknya sambil menangis.
"Dimana dia?!" Tanya Austin walaupun ia tidak sabar ingin mengetahui keadaan adiknya, tetapi
ia tidak sekhawatir sebelum Malvin mengatakan bahwa adiknya baik - baik saja.
"Dia... ada di rumah sewaan pesisir...." ujar Malvin.
"Aku...sudah meminta Arka untuk mengantarkannya pulang.." terang Malvin.
"Kau membebaskan Rena?" tanya Austin dengan heran.
"Apa yang kau lakukan padanya? Apa kau menyentuhnya?" cecar David dengan emosi sambil maju ke arah Malvin dengan mengepalkan kedua tangannya, namun di tahan oleh Austin.
"Aku... aku... tidak menyentuhnya..." ujarnya kemudian menoleh pada Mira, memandangnya dengan penuh penyesalan. Malvin tahu, ia pasti telah menyakiti hati Mira. Mira hanya menunduk dan menangis.
"Saya... akan menelepon Arka, Pak!" Ujar Gilang sambil mendial nomor Arka.
"Sebaiknya kamu tidak menyentuhnya! Kalau tidak, aku tidak akan membiarkanmu lolos!" Ujar David dengan geram.
Gilang mencoba menghubungi nomor Arka beberapa kali, namun tidak ada yang menjawabnya, hanya nada sambung yang tidak terjawab.
Gilang menggelengkan kepalanya saat David memandang dan menanyakannya.
"Sebutkan dimana rumah sewaan itu Malvin?!" Tanya Austin pada Malvin.
Malvin pun menyebutkan alamat rumah itu.
"Sebaiknya apa yang kau katakan itu benar Malvin, atau aku akan memburumu dan tidak akan membiarkanmu hidup!" Ujar David dengan geram. Kemudian ia berdiri dan menyuruh Gilang membawa beberapa anak buahnya untuk ikut bersamanya dan Austin menuju ke rumah sewaan Malvin. Sementara Bastian dan anak buahnya tinggal di rumah Malvin, menjaga hingga Rena di temukan.
Iriang - iringan mobil mereka meninggalkan rumah kediaman Malvin dan menuju ke rumah sewaan Malvin yang berada di pesisir. Mobil yang mereka tumpangi melewati jalan bebas hambatan dan masuk ke area pedesaan yang berada di daerah pesisir pantai. Namun, sebelum mereka sampai ke tujuan mereka. Mereka melihat sebuah mobil yang terbalik di sisi jalan.
Seketika David mempunyai firasat buruk.
"Berhenti!" Serunya pada anak buah Gilang yang mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Iring - iringan itu pun berhenti dan mereka memeriksa mobil tersebut.
Gilang menemukan seseorang terkapar di kursi pengemudi dengan luka tembakan di kepalanya. Dan juga sebuah telepon genggam di sela - sela rongsokkan mobil itu dan melihat namanya tertera pada panggilan tak terjawab di layar telepon genggam itu.
Gilang pun teringat pada Arka.
"Semua, sisir daerah sekitar sini, Cepat!" Teriak Gilang pada anak buahnya.
Gilang mempunyai firasat, jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada Arka. Dan ia pun mengkhawatirkan Rena, karena Malvin mengatakan bahwa Arka yang mengantarnya pulang.
"Ada apa Gilang?" tanya David dengan cemas dan takut, jika firasat buruknya menjadi kenyataan.
"Arka Pak," dengan berat hati Gilang mengatakan temuannya.
"Rena! Rena!" Teriak David seketika itu juga sambil mencari sekeliling tempat itu.
"Ya Tuhan, semoga ia tidak apa - apa," doa David dalam hantinya.
"Sebelah sini, Pak!" Teriak salah satu anak buah Gilang dari semak - semak beberapa meter dari David dan juga Gilang.
Mereka pun segera berlari ke arah itu dan menemukan Arka sudah berlumuran darah dengan beberapa luka tembak di tubuhnya!
"Arka, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Gilang sambil memangku kepala Arka.
"Kemana dia membawanya?" tanya Gilang.
"Aku.... tidak... tahu...." ujar Arka.
"Gilang... aku... sudah berusaha.. dan... menepati janjiku... padanya," ujar Arka sambil menatap Gilang.
"Aku tahu Arka, aku tahu," ujar Gilang sambil memandang sedih orang yang pernah menjadi sahabatnya itu. Yang memilik janji yang sama dengannya kepada Alfaro.
"Temukanlah... Renatta... se..cepatnya... Gilang." ujar Arka.
Dan Arka pun akhirnya tidak bisa bertahan lagi dan ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Gilang, apa kau kenal dengan Tompel? Kau tahu, kemana dia membawanya?" tanya David dengan penuh harap.
"Tompel adalah anak buah Malvin Dirgantara, Pak. Dan saya tidak kenal dekat dengannya." ujar Gilang berterus terang.
"Sebaiknya kita segera kembali ke rumah Malvin, dan menanyakan hal ini kepadanya, mungkin dia tahu kira - kira kemana Tompel membawanya," ujar Austin.
"Serahkan kejadian ini kepada kepolisian, biar mereka yang mengurusnya." ujar David menyuruh Gilang melaporkan kejadian di tempat itu kepada polisi.
"Baik Pak. Saya juga akan segera memeriksa aktivitas Tompel," ujar Gilang kemudian mereka semua pun kembali ke dalam mobil dan melaju kembali ke rumah Malvin.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Gilang meminta salah satu hacker kenalannya untuk melacak aktivitas Tompel, dari komunikasi maupun rekening banknya.
Saat mereka kembali ke rumah Malvin. David segera masuk dan menemui Malvin. Malvin sedang duduk bersama di sofa dengan Mira. Wajahnya telah di bersihkan dari darah yang tadi mengucur, namun ia masih dalam penjagaan ketat dari anak buah Bastian.
"Apa kau yang menyuruh Tompel untuk menculik Istriku lagi? Apa ini salah satu trikmu, Malvin?!" Tanya David dengan geram. Sambil mencengkram leher Malvin dengan kencang.
"Aku sudah katakan bukan, jika kau berani mengusik Istriku, aku tidak akan tinggal diam!" Hardik David di depan wajah Malvin.
"Tidak David! Aku tidak pernah menyuruh Tompel untuk melakukan itu!" Terang Malvin sambil menatap balik mata David. Ia pun tampak terkejut mendengar apa yang terjadi.
David pun melepaskan cengkaramannya dan melepaskan Malvin.
"Dan dimana Arka?" tanya Malvin yang menatap rombongan David yang baru saja datang.
"Dia tidak selamat," jawab Austin.
Austin pun kembali khawatir memikirkan nasib adiknya. Namun kali ini ia percaya, jika Malvin tidak ada hubungannya dengan tindakan yang telah di lakukan oleh Tompel.
"Apa kau tahu, kira - kira siapa yang sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan pada Rena, adikku? Orang ini jelas mengetahui dan mengenal Tompel serta apa yang akan kalian lakukan pada Rena?" tanya Austin sambil berusaha berpikir siapa yang sudah menculik Rena.
Malvin berpikir keras.
"Aleta. Dia menemuiku dua minggu yang lalu dan ia mengajakku untuk bekerja sama dengannya untuk memisahkan kalian," ujar Malvin.
"Apa?!" Pekik David dan masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Maksudmu Aleta Devanka," tanya Austin memastikan.
"Ya, Aleta Devanka. Tapk aku tidak bekerja sama dengannya. Dia... ingin mencelakai Renatta dan aku tahu, dari sorot matanya," ujar Malvin.
"Gilang cepat, selediki keterlibatan Aleta dengan Tompel!" Perinta David.
"Baik Pak!"
...***********...
Ayo dong para readerku mana likenya nih😢 jangan pelit - pelit dong, buat kasih tombol likenya😣 dan jangan lupa tinggalkan jejak baca kalian ya🤗 author juga masih menunggu nih vote dan hadiah dari kalian. Hehehehe
Makasih...
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1