Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Temani Aku Sarapan


__ADS_3

Rena terbangun dari tidurnya yang pulas. Ia sempat terkaget melihat kamar tempatnya terbangun, namun segera teringat mengapa ia bisa berada di kamar ini.


Dan ia pun mengingat kecupan David yang di terimanya tadi malam, baik saat di acara launching film atau pun saat David memberikannya kecupan selamat malam. Tak di sadari tangannya menyentuh kedua kelopak bibirnya dan tersenyum.


Namun bibir itu segera membentuk garis lurus saat ia mengingat apa yang di lakukan David hingga memaksanya menginap di rumahnya.


Si songong itu memaksanya tidur di sini!" Gerutu Rena.


Rena pun teringat pada jadwal mengajar les bahasa inggrisnya dan ia segera meraih jam tangan untuk melihat waktu.


"Ah, masih jam 8, aku masih sempat pergi ke rumah Alva dan Rara," batin Rena. Ia pun segera mandi dan segera memakai bathrobe yang tergantung di kamar mandi dan saat telah selesai mandi.


"Aku pakai baju apa?" gumam Rena. Mengingat ia tidak membawa sehelai pakaian ganti bersamanya.


Rena berjalan keluar kamar mandi dan berjalan menuju closet yang ada di kamar itu. Ia masuk ke dalamnya dan mendapati beberap buah gaun santai tergantung di sana. Bahkan ada pakaian dalam yang masih berlabel toko terdapat di sana.


Rena melihat pakaian dalam itu, dan mengecek ukurannya. Jery menyiapkan dua ukuran pakaian dalam. Karena ia tidak tahu pasti ukuran pakaian dalam Rena. Rena mengambil ukuran bra yang lebih besar, karena walaupun badan Rena tidak terlalu besar, tetapi ukuran buah dadanya tidaklah bisa di bilang kecil.


Setelah memakai sundress berwarna dusty pink, Rena segera keluar kamar.


"Jery, Pak David di mana?" tanya Rena pada Jery di dekat ruang makan.


"Bapak sedang berenang Mbak," jawab Jery sambil menunjuk letak kolam renang yang ada di belakang rumah.


"Mbak Rena silahkan ke kolam renang, sarapan akan di sediakan di sana," ujar Jery dengan sopan seperti biasanya.


"Terima kasih Jery," ujar Rena lalu segera berjalan pergi menuju ke arah kolam renang.


Rena ingin berpamitan kepada David, karena ia harus segera pulang ke apartemennya dan pergi ke tempat Alva dan Rara.


Keluar dari pintu samping ruang keluarga. Rena melewati jalan setapak di sekitar taman yang tertata rapi menuju ke kolam renang besar di bagian belakang rumah David. Beberapa orang penjaga berjaga di sudut rumah.


"Indah sekali rumah ini," batin Rena. Mengagumi eksterior bagunan rumah David.


Ia melihat David sedang berenang memutari kolam renang itu.


"Pak David!" Panggil Rena saat sudah berdiri di tepi kolam renang.


"Pak David!" Panggil Rena lagi.


Ia berhenti memanggil saat David menengok ke arahnya dan melambaikan tangan. David berenang menghampiri Rena.

__ADS_1


"Kamu sudah rapi, mau kemana?" tanya David sambil menaiki tangga kolam renang dan berjalan menghampiri Rena.


Air kolam renang yang menempel di tubuh kekarnya pun menetes berjatuhan setelah David melepas baju renangnya.


Tetapi bukan air kolam renang itu yang membuat Rena gelisah dan mata Rena menjadi tidak bisa di ajak komproni.


Tubuh kekar dan six pack milik David yang hanya berbalut celana renang lah yang telah membuat Rena gelisah dan matanya sepertinya tidak bisa di alihkan untuk melihat ke lain arah.


"Ya ampun, godaan apalagi ini!" Batin Rena.


Rena memaksakan dirinya melihat pemandangan taman di sampingnya dan berkata, "Pak, saya... mau pamit."


David tersenyum melihat kecanggungan Rena.


"Temani aku sarapan," ujar David sambil meraih tangan Rena dan mendudukannya di kursi yang ada di pinggir kolam renang. Ia kemudian mengambil bathrobenya dan menutupi tubuh kekarnya.


Walaupun ia senang Rena mengagumi tubuhnya, tetapi ia juga tidak ingin Rena merasa canggung dan tidak nyaman.


"Pak, saya harus segera pulang. Saya harus memberikan les pagi ini," ujar Rena.


"Nanti setelah sarapan," ujar David.


Jerry dan beberapa pelayan membawa dua buah piring berisi roti bakar dengan telur dan sosis, kopi, Susu dan jus buah dan juga sepiring buah - buahan potong.


Tiba - tiba handphone Rena berdering. Nama Tasya, temannya sekaligus tantenya Alva dan Rara meneleponnya. Rena pun segera mengangkat panggilan telepon dari Tasya.


"Halo, Sya!" Sapa Rena.


"Halo, Na!" Jawab Rena.


"Sebentar lagi aku berangkat ke sana ya," ujar Rena sambil melirik jam tangannya.


"Hmmm Na..., sepertinya hari ini anak - anak ngga bisa les," ujar Tasya.


"Lho, kenapa?" tanya Rena heran. Tidak seperti biasanya anak - anak itu tidak mau les. Biasanya mereka sangat antusias jika Rena akan datang.


"Alva dan Rara, demam dari tadi pagi. Rencananya mau di bawa kedokter pagi ini," ujar Tasya menerangkan.


"Ya ampun, aku harap mereka nggak apa - apa, Sya." ujar Rena khawatir mendengar Alva dan Rara yang sakit.


"Aku juga berharap begitu, mudah - mudahan demamnya biasa aja" ujar Tasya.

__ADS_1


"Oke, Na. Aku harus antar mereka dulu ya," ujar Tasya hendak menyudahi pembicaraan telepon mereka.


"Oke Sya, makasih,"


"Siapa Ren?" tanya David melihat ekspresi khawatir di wajah Rena.


"Alva dan juga Rara, anak - anak les ku. Mereka sedang sakit. Aku harap mereka hanya demam biasa," jawab Rena.


David mengangguk.


"Jadi, kamu ada waktu sekarang. Ayo sarapan," ujar David sambil mengambil makanan yang di hidangkan di meja. Rena mengangguk dan ia pun makan bersama dengan David.


"Tapi habis ini saya pulang ya, Pak." ujar Rena ia masih teringat ada janji dengan Abang Austin siang ini.


"Kenapa buru - buru? Kamu ada janji lain?" tanya David yang berharap Rena tidak segera pulang agar ia punya lebih banyak waktu bersama dengan Rena.


"Ya Pak," jawab Rena pendek.


David mengerutkan keningnya, kecewa karena Rena ada janji dengan orang lain. Tetapi ia tidak berkomentar.


Setelah menghabiskan makanannya, David berdiri dan berakata, "Kamu tunggu sampai saya selesai berpakaian,"


Setelah mengucapkan itu, ia pun pergi ke kamarnya di lantai dua.


David sudah selesai mandi. Dan memakai t-shirt dan celana jeans panjang. Ia terlihat santai dan tidak terlihat seperti seorang Alexander David Mahendra yang terkenal keras, angkuh dan sombong.


"Rena," panggil David.


Rena mengernyitkan matanya, memandang David mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu adalah benar David.


David memutar bola matanya.


"Ayo berangkat!" Ujar David kembali dengan nada yang memerintah.


"Kemana Pak?" tanya Rena.


"Kemana lagi, ya ke apartemenmu lah!" Jawab David yang merasa heran dengan pertanyaan Rena.


"Ayo cepat!" Ujar David sambil berjalan ke arah depan rumahnya.


Bersambung..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk tekan like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2