
Aku berjalan menghentak-hentakkan kaki. Kesel banget sama Kak Azril! Masa aku dibilangin anak kecil. Kan yang salah memang dia! Mana boleh coba, perempuan dan laki-laki mandi barengan. Oh, tidak!
Aku masuk kamar dengan bibir manyun. Kututupi seluruh badan dengan selimut, pokoknya tidak mau bicara sama, Kak Azril.
"Dek, kamu nggak mandi?" tanya Kak Azril yang sudh berada di dalam kamar.
Hening, aku tak menjawab.
"Dek!" panggilnya. Rasain!
"Kakak, boleh, ya. Panggil kamu himai juga, seperti Bapak dan Ibu?" tanyanya lagi!
"Dek! Sisir kamu di mana?"
"Dek! Marah, ya?"
"Dek! Kakak gendong ke kamar mandi, mau?"
Ih, dasar!
"Dek, tasku tadi di mana, ya?"
Usaha saja terus! Hahahaha.
"Dek! Kakak mandiin, ya! Bentar, Kakak pakai celana dulu baru gendong kamu. Kakak yang gosokin badannya!" oh tidak!
"Tidak perlu, Kak!" keluhku.
"Hahahahaha!" Kak Azril malah ketawa. Dasar ya!
Aku langsung berlari ke kamar mandi. Untung saja kamarku dan kamar Bapak Ibu berjauhan. Jadi tidak terlalu kedengaran, karena pendengaran Bapak dan Ibu menurun sebab usianya yang tak muda lagi.
__ADS_1
Aku menikmati sejuknya air, dinginnya. Segar banget! Setelag ini ketemu lagi dengan Kak Azril. Aku tidak menyangka, di balik sifat dinginnya ternyata begitu banyak kebaikan.
Awal Kak Azril datang melamar, sempat terpetik dalam pikiran bahwa, aku ini dalam masalah besar. Bagaimana tidak! Aku akan menikah dengan pria dingin. Dari tatapannya itu begitu tajam, menyiratkan bahwa dia itu sangat kejam. Dibayanganku, hari-hari yang akan kulalui nanti setelah menikah itu hanya siksaan dan siksaan. Ternyata, tidak! Tidak sama sekali ....
***
"Bu! Masak apa?" tanyaku saat keluar dari kamar mandi.
"Ini, Nak. Goreng ikan dan numis kangkung. Buat makan malam kita," jawab Ibu.
"Himai, bantu ya, Bu! Himai simpan handuk dulu!" ujarku.
"Tidak usah, Sayang! Kamu istirahat saja, kamu pasti capek."
"Tidak kok, Bu! Bentar, ya!"
Aku berjalan ke kamar, menyimpan handuk mandi yang biasa kujemur di belakang pintu.
Aku keluar kamar dan menuju dapur, membantu Ibu memasak makan malam. Lelah sih, sebenarnya tapi tidak tega Ibu masak sendirian.
"Bu, ini kangkungnya himai masukin ke wajan, ya? Udah harum nih, bawangnya," ujarku.
"Iya, Nak!"
Aku sudah selesai memasak dan makanannya sudah tersaji rapi di meja makan. Aku mau panggil Kak Azril dulu, biar makan bareng-bareng.
Kubuka pelan pintu kamar dan mengintip. Hm, Kak Azril masih tidur nggak, ya? Pelan aku melangkah. Ragu. Takut lebih tepatnya.
Ukhuk!
Aku sengaja terbatuk, semoga bisa membangunkannya tanpa menyentuh. Ah! Sama sekali tidak ada pergerakan.
__ADS_1
"Kak!" Kutepuk pelan lengannya.
"Hm!" gumamnya.
"Makan malam, Kak! Ibu dan Bapak sudah menunggu di dapur," ucapku lembut.
"Ya. Kamu keluar aja deluan. Aku nyusul."
"Iya!"
Aku keluar kamar, tapi dia belum bangkit dari tempat tidur. Masih dengan posisi memeluk guling.
"Himai, suamimu mana, Nak!" tanya Bapak setelah aku sudah berada di dapur.
"Em, bentar lagi nyusul kok, Pak!" jawabku kikuk.
Selang beberapa menit. Kak Azril datang dan bergabung duduk bersama untuk makan malam. Pemandangan yang sungguh sangat menyenangkan.
Setelah Ibu menyendok nasi untuk Bapak dan untuknya, aku mengambil sendok dan menyendok nasi ke piringku. Namun, saat hendak menyimpan sendok ke tempat asal, kulihat Ibu mengkodeku dengan isyarat mata.
Dengan helaan napas berat, aku kembali menarik tanganku lalu menyendok nasi untuk, Kak Azril.
"Makasih," ucapnya senyum dan kubalas anggukan.
Kami berempat makan begitu lahap, tanpa sekata obrolan. Mungkin ... karena merasa canggung dengan sosok baru yang hadir di rumah. Karena biasanya aku selalu berceloteh, menceritakan apa-apa saja yang kulakukan sepanjang hari.
"Bu, Pak, Dek! Aku tunggu di ruang tamu, ya!" ucap Kak Azril setelah selesai makan.
Ya, dia selalu berucap singkat-singkat saja. Tidak mau basa-basi.
Next.
__ADS_1