Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
So Sweet


__ADS_3

"Aku akan terus menemanimu, jadi tidak usah takut," ucapnya meyakinkanku.


Apakah dia akan selembut seperti ini terus? Atau karena hanya di depan orang tuaku? Astaghfirullah, himai perkataan itu adalah doa. Doakan semoga dia selalu lembut seperti ini, sampai kata aku dan kamu bersatu menjadi kita.


"Baiklah, aku akan ikut. Tapi janji jangan tinggali aku," ujarku membuatnya sedikit terkekeh, ah ... manisnya ingin kupeluk tapi belum boleh.


"Janji!"


***


"Bu, umurnya himai masih tujuh belas tahun, apa tidak terlalu kecil, Bu?" tanyaku kepada Ibu setelah Bang Azril pulang.


"Insya Allah tidak, Nak. Yang penting kalau kamu nikah nanti, kamu yang rajin ya, jangan malas. Dengar kata suami. Karena setelah kamu menikah, tanggung jawab Bapak telah berpindah kepada suamimu. Karena menikah itu bukan hanya perkara soal cinta, namun banyak lika-liku yang akan kita tempuh nanti. Kekurangan suamimu nanti pasti akan terlihat begitu pun himai."


"Kalau suami marah jangan membantah cukup diam saja, dan mengambil pelajaran dari kesalahan yang kita buat yang membuat suami marah. Layani dia sebaik mungkin agar tak berpaling kepada wanita lain," ucap Ibu mengajarkanku tentang sebuah pernikahan.


"Insya Allah, Bu. Doakan himai biar bisa menjadi istri yang baik buat suami," ujarku lalu memeluk Ibu.


"Aamiin. Tidurlah, Nak. Besok kamu akan pergi bersama Nak Azril, kan?"

__ADS_1


"Iya, Bu."


***


Aku terbangun pukul tiga dini hari lalu tak bisa tertidur kembali, karena memikirkan besok akan satu mobil lagi dengan si pria dingin. Tapi sekarang beda ... kalau waktu itu aku dimobilnya karena dia menolongku, kalau besok karena dia akan mengenalkanku kepada keluarganya sebagai calon istrinya.


Rasanya tak ingin waktu ini berlalu cepat, aku tidak bisa membayangkan wajahnya yang dingin itu dan bertemu dengan keluarganya yang pasti sangat kaya raya. Semoga aku tidak melakukan kesalahan, atau ... semoga aku tidak jadi pergi dengannya ke pesta itu.


***


"Assalamu'alaikum!" Terdengar salam dari luar rumah yang kuyakini itu pasti dia.


"Bentar, Bu!"


Ya Allah! Rasanya sangat gugup, tanganku gemeteran juga keringat dingin. Kulihat pantulan diri dari sebuah cermin buluk, kuoles tipis bibirku dengan lipstik berwarna pink dan sedikit bedak bayi.


Gamis berwarna coklat dengan jilbab senada membuatku sedikit berbeda, ya, sedikit ... agak mendingan.


Aku keluar kamar lalu menghampiri Ibu dan Bapak juga Si Pria dingin, yang sedang menunggu di depan rumah. Namun, saat keluar kulihat ada beberapa pasang mata melihat ke arah kami.

__ADS_1


"Bu! Udah capek miskin, ya? Sampai anaknya dijual sama om-om!" ucap para ibu-ibu itu menusuk ke relung hati.


"Astaghfirullah! Aku biar miskin begini tapi tidak ada pemikiran sama sekali mau menjual anak!" ucap Ibu lantang membuat para ibu-ibu itu saling berbisik.


"Aku calon suaminya! Lebih baik Anda pergi atau ... atau bodyguarku--" Belum selesai Azril berbicara, ibu-ibu itu sudah lari kocar-kacir.


"Makasih, Nak. Sudah bantu kami berbicara kepada mereka," ucap Bapak kepada Azril.


"Sama-sama, Pak. Sudah kewajibanku melindungi kalian!" jawab Azril lembut.


Ah, sweet banget sih!


***


Next.


Penasaran lanjutannya? ikuti terus, ya!


Komen juga dong! biar aku makin semangat nulisnya.

__ADS_1


Share juga ke teman-teman biar nggak penasaran sendiri. 😁


__ADS_2