Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Masa Lalu David


__ADS_3

Hari itu Gita tidak masuk bekerja karena sakit, sehingga Rena harus bekerja dan menemui prospek perusahaan baru sendirian.


Sedangkan David hari itu sangat sibuk dan harus ke luar kota, sehingga mereka tidak bertemu lagi hari itu.


Sore itu saat Rena baru saja pulang dari salah satu perusahaan yang menjadi prospeknya, seseorang memanggilnya.


"Rena!"


Rena menoleh dan menemukan Audrey yang sedang berjalan ke arahnya dengan melambaikan tangan dan tersenyum. Rena pun membalas senyuman Audrey.


"Audrey, ada apa? Kok kamu ada di sini?" tanya Rena tetapi ia tidak heran jika Audrey berada di sana, toh Kakaknya pemilik perusahaan itu.


"Ini," ujar Audrey sambil menyerahkan sebuah kunci mobil.


"Terimalah, kata Kak David ini untukmu. Dia tidak bisa memberikannya langsung karena sedang keluar kota," ujar Audrey sambil tersenyum.


David memang sudah menceritakan apa yang terjadi tadi pagi pada Audrey dan meminta adiknya itu mencarikan mobil untuk Rena karena ia sendiri tidak sedang berada di sana.


Rena menerima kunci mobil itu, dan memencet kunci remot, dan terdengarlah suara bip dari mobil Hatchbach silver yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Audrey memang memilihkan Rena mobil itu, karena selain harganya yang tidak terlalu tinggi di bandingkan mobil yang di belikan oleh David untuk Rena, mobil itu pun sangat cocok di pakai Rena untuk ativitas sehari - harinya.


Mereka berjalan mendekati mobil itu, dan Rena membuka pintunya.


"Gimana? Cukup nyaman buat sehari - hari?" tanya Audrey sambil tersenyum.


Yah, walaupun mobil ini masih termasuk mahal bagi orang biasa, tetapi jauh lebih masuk akal untuk di gunakannya. Paling tidak orang tidak akan bertanya - tanya dan menarik perhatian banyak orang, pikir Rena.


Rena mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya, Drey. Maaf ya sudah merepotkan kamu," ujar Rena sambil memperhatikan mobil yang ada di depannya.


"Nggak masalah. Kamu mau mencobanya? Kebetulan aku juga mau ke mall, jadi kamu bisa sekalian mengantarkanku," ujar Audrey sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Baiklah ayo," jawab Rena tidak ragu - ragu. Rena memang tidak mempunyai jadwal meeting lain hari itu, dan ia pun sangat senang bisa berteman dengan Audrey.

__ADS_1


Akhirnya Rena dan Audrey menghabiskan sore itu dengan berjalan - jalan di mall dan membeli beberapa barang. Audrey memang tipe orang yang suka sekali berbelanja. Sebentar saja tangannya sudah penuh dengan belanjaan.


Mereka duduk di sebuah cafe untuk minum dan beristirahat sejenak.


"Ren, aku sangat senang akhirnya Kakak memilihmu. Kamu tahu? Kakakku itu sangat sulit untuk jatuh cinta, tapi sepertinya ia sudah bertekuk lutut di hadapanmu." ujar Audrey tanpa basa - basi.


Rena hanya tersenyum. Seandainya Audrey tahu tentang kesepakatan yang aku buat dengan Kakaknya. Tentu ia tidak akan berpikir begitu. "Semua ini hanya untuk 3 bulan Audrey" batin Rena.


Tiba - tiba Rena ingin tahu, apa yang menyebabkan David sulit untuk jatuh cinta.


"Kenapa David seperti itu? Apa karena Aleta?" tanya Rena juga tanpa sungkan, karena Audrey pun berbicara terus terang padanya. Kemudian Audrey memandang Rena.


"Mungkin putusnya hubungan Kakakku dengan Aleta membuatnya terpukul karena di khianati oleh pacar dan sahabatnya sendiri. Tetapi bukan itu yang membuatnya sulit untuk benar - benar jatuh cinta pada wanita," ujar Audrey sambil menatap minuman yang ada di hadapannya.


"Ada hal lain?" tanya Rena terkejut.


Audrey menatap Rena sebelum ia menghela nafas dan menjawab "Ya,"


Audrey pun terlihat berat untuk mengatakannya.


"Mama...meninggalakan kami saat kami masih kecil," ujar Audrey sambil menatap minuman yang ada di hadapannya.


Meninggalkan? Apa maksudnya Mama mereka masih hidup dan meninggalkan mereka? Pikir Rena.


"Papa meninggal karena kecelakaan saat kami masih kecil. Dua tahun setelahnya, Mama bertemu seseorang dari masa lalunya dan memutuskan untuk menikah dengannya," ujar Audrey sambil menarik nafas dalam - dalam.


"Maaf, aku benar - benar tidak tahu," ujar Rena merasa tidak enak membuat Audrey harus mengingat kenangan buruknya.


"Tidak apa," ujar Audrey sambil tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya.


"Pada awalnya aku dan Kakak sangat terpukul, dan kami sangat membenci Mama karena lebih memillih laki - laki itu dan meninggalkan kami,"


"Tetapi setelah kami remaja, baru kami mengetahui bahwa Mama telah berusaha membawa kami bersamanya tetapi Oma dan Opa tidak mengizinkan. Oma dan Opa bersikukuh bahwa kami harus di besarkan di keluarga Mahendra, dan tidak boleh tinggal dengan keluarga baru Mama."


"Walaupun begitu, Mama tetap berusaha mengontak kami, bahkan diam - diam menemui kami sepulang sekolah. Tetapi Kakak tidak pernah mau bertemu dengannya."

__ADS_1


"Aku masih berusia 4 tahun saat Mama, menikah lagi, sedangkan Kak David saat itu berusia 8 tahun. Kenangannya bersama Mama saat kecil lebih banyak daripada ingatanku akan Mama. Sehingga hatinya merasa lebih sakit ketika Mama menikah lagi dan tinggal bersama Suami barunya. Sampai saat ini Kak David, belum bisa memaafkan Mama. Itulah sebabnya Kakak sangat sulit untuk percaya dan jatuh cinta dengan wanita, bahkan dengan Aleta sekalipun,"


Rena tertegun. Bukankah David mengatakan jika ia jatuh cinta pada Aleta sejak pertama kali mereka bertemu?


"Tapi David mengatakan ia pernah jatuh cinta pada Aleta," ujar Rena.


"Entahlah, tapi menurutku Kakak hanya menyukai Aleta saja dan tidak sungguh - sungguh jatuh cinta," ujar Audrey kemudian menyesap minumannya.


"Setidaknya itulah yang kulihat," tambah Audrey.


"Pantas saja sikapnya jauh lebih berbeda saat aku pertama kali bertemu dengannya," batin Rena.


"Kamu tidak usah kuatir Rena, Kak David sangat berbeda saat dia bersama denganmu. Aku harap hubungan kalian bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Aku yakin kamu bisa membahagiakan Kakakku," ujar Audrey sambil menggenggam tangan Rena dan tersenyum.


Rena tersenyum dan tidak berkomentar, karena ia tidak bisa menjanjikan hal apapun pada Audrey.


"Aku harus segera kembali ke kantor," ujar Rena sambil melihat jam di tangannya.


"Oke, aku akan menunggu di sini. Rico juga sudah hampir sampai," ujar Audrey ia memang sudah berjanji untuk menemui Rico di cafe itu.


Rena pun pamit dan segera dan berjalan ke arah parkiran mobil.


Saat menuruni tangga menuju basement, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf," ucap Rena sambil membuka telapak tangannya di depan dada.


"Tidak apa," jawab laki - laki yang bertabrakan dengannya sambil tersenyum. Guratan bekas luka memanjang di pipinya terlihat melengkung mengikuti senyuman di wajahnya.


Rena mengangguk dan segera berjalan menuju mobilnya.


"Dimana pernah kulihat orang itu?" batin Rena sambil menoleh ke belakang dan melihat pria yang berambut gondrong itu menatapnya.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2