
"Aku akan menelepon Mama," ujar Audrey sambil tersenyum dan menghapus air mata yang ada di pipinya.
Audrey kemudian berdiri dan berjalan menjauh, menelepon Mamamnya.
David menoleh ke arah Rena dan tersenyum.
"Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil, tetapi aku akan mencobanya," ujar David.
"Tidak apa, jangan sampai merasa terbebani, ikuti saja kata hatimu," ujar Rena memberi semangat.
Audrey kembali dan tersenyum pada mereka.
"Mama sangat senang sekali mendengernya. Dia bersedia mememui kita pagi ini," ujar Audrey.
David mengangguk dan tersenyum.
"Kau mau ikut?" tanya David pada Rena.
"Mungkin nanti. Untuk saat ini sebaiknya kamu dan David saja dulu. Aku akan menunggumu di rumah," ujar Rena.
David merangkul dan mengecup kening Rena, berterima kasih atas pengertiannya.
...*****...
Akhirnya pesawat jet yang di tumpangi Austin berhasil take off pagi itu dan menempuh perjalanan selama 5 jam untuk sampai di kota B.
"Bastian, ikut saya!" Perintah Austin, begitu ia menginjakkan kakinya di rumah dan melihat Bastian menunggunya di ruang tamu. Bastian berjalan cepat menuju ruang kerjanya di ikuti oleh Deni dan Bastian.
"Apa yang kamu dapatkan, Bastian. Dan dimana Rena sekarang?!" Tanya Austin dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Pak David terlihat pergi dengan adiknya pagi ini, tetapi Mbak Rena masih berada di rumah Pak David. Anak buah saya masih mengamati di sana," lapor Bastian.
" Rena benar - benar menginap di rumah David." ucap Austin dalam batin.
"Kamu bilang Rena di jemput David tadi malam? Apakah ia memaksa Rena?" tanya Austin. Ia sangat khawatir jika apa yang terjadi 7 tahun yang lalu terulang kembali saat Rena di jemput paksa oleh Malvin.
Austin sendiri yang saat itu berusia 19 tahun tidak sedang berada di rumah, sehingga ia tidak bisa melindungi adiknya.
"Dari apa yang saya lihat. Pak David sepertinya tidak memaksa Mbak Rena. Akan tetapi ia mengawasi Mbak Rena selama 24 jam penuh dengan menaruh bodyguard bersamanya. Mbak Rena tidak boleh beraktivitas sendirian, dan ia harus selalu di temani oleh bodyguard yang bekerja pada Alexander David Mahendra kemana pun Mbak Rena pergi," ujar Bastian.
Austin berpikir bahwa David mengekang Rena dan membatasi kebebasannya. Ada apa sebenarnya? Mengapa ia melakukan itu pada Rena? Apa yang telah Rena lakukan padanya.
"Kamu tahu sejak kapan dia melakukan itu pada Rena?" tanya Austin dengan geram.
"Karena Bapak baru menugaskan saya beberapa hari yang lalu, saya juga tidak yakin sejak kapan hal ini berlangsung. Akan terapi saya menyelidiki aktivitas keuangan Mbak Rena selama sebulan terakhir ini," lapor Bastian.
"Lanjutkan. Apa yang kau dapat? Adakah yang mecurigakan?" tanya Austin dengan tidak sabar.
"Biaya perbaikan mobil?"
"Dan teman saya berhasil mendapatkan email dari Alvin, asisten Pak David pada Mbak Rena yang berisi penagihan perbaikan mobil Mercedes Benz sebesar 75 juta kepada Mbak Rena." tutur Bastian.
"Jadi maksudmu Rena berhutang uang 75 juta kepada David, dan membayar 25 juta? Lalu bagaimana dengan kekurangannya?" tanya Austin.
"Sepertinya begitu, Pak. Untu kekurangannya saya tidak melihat Mbak Rena mentransfer dana apapun setelah itu. Yang saya takutkan Mbak Rena membayar dengan cara lain," ujar Bastian tidak yakin.
"Maksudmu?" ujar Austin dengan wajah marah. Wajahnya memerah.
Ia tidak suka prangsangka yang di lontarkan oleh Bastian. Rena, adiknya bukanlah gadis semacam itu.
__ADS_1
"Maafkan kelancangan saya, Pak. Tetapi saya tidak melihat hal lain yang memungkinkan," ujar Bastian berusaha untuk tidak membuat Bosnya itu marah.
Walaupun Austin terkenal sangat toleran terhadap karyawannya, akan tetapi melihat ekspresi Austin saat ia mengatakan pendapatnya barusan membuatnya bergidik.
"Apa maksudmu mengatakan itu? Apakah kau punya bukti?" tanya Austin mendekati Bastian dengan wajah memerah.
"Maaf Pak Austin, saya tidak menuduh apapun tetapi dari penyelidikan team saya, sejak penagihan perbaikan mobil itu, Alexander David Mahendra terlihat beberapa kali bersama dengan Mbak Rena," Bastian memegang beberapa lembar foto dan menunjukkannya pada Austin.
"Foto ini di ambil saat lauching film sutradara Damian," ujar Bastian.
"Yang ini saat mereka sedang makan di restoran masakan Eropa seminggu yang lalu,"
"Dan yang ini foto yang baru saja di ambil tadi malam di lobby apartemen Mbak Rena dan restoran," lapor Bastian.
Ke empat foto itu menunjukkan saat David memegang tangan Rena, menggenggam erat seakan David mendominasi Rena.
Austin memandang semua foto - foto yang di berikan oleh Bastian dengan geram. Ia tidak rela jika adik satu - satunya itu di manfaatkan oleh Alexander David Mahendra.
Austin teringat saat melihat sikap posesif David terhadap Rena saat mereka bertemu di lobby apartemen Rena beberapa minggu yang lalu dan Austin mengutuki dirinya sendiri karena tidak peka dengan apa yang terjadi. Ia yakin saat itu, David sudah mengontrol adiknya itu, hanya saja ia tidak mengetahuinya.
Namun ia mengenal adiknya itu dan yakin jika Rena tidak akan mudah memberikan dirinya pada pria manapun, Austin berharap ia belum terlambat untuk menyelamatkannya dari kungkungan Alexander David Mahendra.
Dulu Austin memang tidak bisa menyelamatkan adiknya dari Malvin Dirgantara, tetapi ia tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali dari Alexander David Mahendra. Ia akan melakukan apapun untuk melindungi adik satu - satunya itu.
"Bastian, kamu ikut denganku!" Ujar Austin sambil membuka laci mejanya dan mengambil pistol colt yang selama ini di simpannya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.