
David, Gilang dan Leo pun sudah sampai di lantai dasar dan segera menuju ke arah kamar mandi di mana ia menemukan Audrey dan telepon genggam Rena.
"Audrey!" Seru David. Saat melihat adiknya itu terduduk di sebuah kursi di dalam toilet dengan selimut di tubuhnya.
"Kak!" Seru Audrey. Saat ia melihat David masuk ke dalam kamar mandi. Dan David pun langsung meneluk adiknya itu, ia lega melihat adiknya tidak terluka.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Rena.
"Dimana Rena?" tanya David sembari melepas pelukkannya.
"Aku tidak tahu, Kak. Karena aku tidak bersama dengan Rena saat mereka menangkapku," ujar Audrey.
"Mereka? Siapa mereka?" tanya David.
"Aku tidak tahu, Kak. Mereka ada dua orang," ujar Audrey yang tidak begitu yakin karena ia baru saja siuman dari pingsannya.
"Bagaimana ciri - cirinya, Mbak Audrey?" tanya Gilang.
Audrey pun mencoba mengingat - ingat, seperti apa orang yang telah membiusnya, namun ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Aku...aku...tidak tahu....aku tidak yakin." ujar Audrey dengan ekspresi wajah yang meminta maaf.
Gilang memeriksa telepon Rena. Selain menemukan Miscall dari David puluhan kali, ia juga melihat Rena menerima panggilan telepon dari Audrey selama 15 menit lamanya dan sekitar setengah jam yang lalu. Gilang pun menyimpulkan jika Rena di culik, mereka belum terlalu jauh dan ia harus segera bergerak cepat.
Chandra menelepon Gilang dan Gilang pun langsung menjawabnya.
"Chandra, apa kamu sudah menemukan sesuatu?" tanya Gilang.
"Pak, Bapak sebaiknya segera kesini." ujar Chandra melalui panggilan telepon.
"Pak David, sepertinya Chandra menemukan sesuatu. Saya akan segera mengecek di control room," ujar Gilang memberitahukan pada David.
"Saya ikut Gilang!" Ujar David. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Dek, kamu tunggu di kamar saja," ujar David pada Audrey dan meminta salah satu penjaga untuk mengantarkan Audrey ke kamarnya dan menjaganya.
Audrey mengangguk dan David segera pergi bersama dengan Gilang ke control room.
__ADS_1
Di dalam control room, Chandra telah menunggu mereka.
"Apa yang kamu temukan, Chandra?" tanya David dan Gilang bersamaan. David tidak sabar ingin segera menemukan Rena sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Chandra segera menunjukkan rekaman CCTV yang di temukannya dari kamera CCTV yang memperlihatkan kejadian di depan toilet sisi barat. CCTV di dalam toilet itu telah terlebih dahulu di rusak oleh seseorang, sehingga tidak bisa mengambil gambar dengan jelas. Namun, dari CCTV di seberang toilet, dapat terlihat jika ada 3 pria berkativitas di dalam dan keluar kamar toilet itu. Akan tetapi tidak bisa menunjukkan wajah Rena dengan jelas. Dan di rekaman terakhir terlihat jika mereka membawa Rena yang terlihat tidak sadarkan diri keluar dari pintu barat, dan sebuah kendaraan menjemput mereka.
David sangat geram dan sangat marah mengetahui seseorang telah berani menculik Rena.
"Segera temukan Istriku, Gilang!" Perintah David dengan penuh amarah dan David begitu emosi, sehingga tanpa sadar ia menendang sebuah kursi yang ada di sebelahnya hingga hancur.
...**********...
"Kamu mau pergi kemana, Malvin?" tanya Mira yang saat di lihatnya Malvin berganti pakaian dan memakai jaket kulitnya.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan." jawab Malvin.
Ia hendak berjalan keluar rumah, namun langkahnya terhenti dan ia berbalik. Ia berjongkok di depan Mira dan memegang perut Mira sebelumnya ia mencium gundukan kecil di perut Mira.
"Aku pergi dulu." ujar Malvin pada Mira. Kemudian mengecup pipi Mira.
Mira menahan air matanya karena terharu sambil memandang punggung Malvin yang berjalan keluar rumah, kemudian menaiki mobil sportnya.
Seharian ini Malvin bersikap sangat baik padanya. Ia bahkan beberapa kali mengelus perutnya yang sedang mengandung anak mereka. Mira juga benar - benar berharap agar Malvin mau menerimanya secara utuh dan mencintainya sebagai Istrinya. Mira juga berpikir bahwa mungkin Malvin bisa melupakan Renatta, Apalagi sejak publik mengetahui bahwa Renatta telah menikah dengan David.
Malvin mengendarai mobilnya menuju ke sebuah rumah sewaan di pinggir kota dan ia telah di beritahu, bahwa Arka telah berhasil membawa Renatta bersamanya. Itu sebabnya Malvin pergi ke sana untuk menemui Renatta malam itu.
Setelah mengendarai selama setengah jam, akhirnya Malvin sampailah di rumah itu.Arka langsung menemuinya saat mobil Malvin merapat di depan teras rumah itu.
"Dimana dia?" tanya Malvin.
"Di dalam Pak," jawab Arka.
Malvin pun langsung masuk ke dalam rumah dengan di pandu oleh Arka.
Di dalam rumah itu ada beberap orang yang sedang duduk. Tompel, Ricky dan juga Didi yang memang ikut dalam aksi penculikan Rena malam itu.
"Malam Pak," mereka langsung menyapa Malvin.
__ADS_1
"Malam." jawab Malvin.
Arka memberi kode agar mereka keluar dan membiarkan Malvin masuk untuk menemui Renatta.
"Pak, Mbak Renatta dalam keadaan baik, tetapi saya terpaksa membiusnya lagi karena tadi dia panik dan terus berteriak - teriak. Dan sekarang dia masih tidak sadarkan diri di dalam kamar." terang Arka perlahan pada Malvin, agar Malvin mengerti dan tidak memaksa Renatta untuk bangun dari tidurnya.
Arka pun berpikir agar sebaiknya Renatta beristirahat malam itu.
Mavin mengerti dan mengangguk.
"Aku ingin melihatnya," ujar Malvin.
Arka pun mengajak Malvin berjalan ke sebuah kamar dan membuka pintunya. Dan saat memasuki kamar Malvin melihat Renatta yang sedang tertidur di atas sebuah ranjang. Wajahnya tampak sangat tenang dan nafasnya teratur.
Malvin pun mendekati Renatta.Ia duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah Renatta dengan sangat jelas karena selama ini ia tidak bisa benar - benar melihat wajahnya dari dekat dan sejelas ini.
Wajah Renatta memang sangat cantik. Seperti yang selama ini ia bayangkan. Bahkan wajahnya Renatta sangat mirip dengan Syahnaz, Ibunya.
"Renatta..." panggilnya sambil memegang pipi Rena dan Rena pun masih tidak bergerak.
"Kapan dia akan terbangun?" tanya Malvin pada Arka sambil memegang tangan Rena dan mencium punggung tangannya.
"Perkiraan saya besok pagi Pak, karena saya baru saja membiusnya 10 menit yang lalu," jawab Arka.
"Baik. Saya akan menginap di sini Arka. Dan bangunkan saya kalau Renatta sudah terbangun," ujar Malvin.
Malvin pun menaruh kembali tangan Renatta perlahan, kemudian ia beranjak dari ranjang itu, dan berjalan keluar kamar.
"Apa ada yang mengikuti kalian?" tanya Malvin dan memastikan mereka untuk cukup aman.
"Tidak Pak. Saya sudah pastikan." jawab Arka dan Malvin tersenyum puas.
"Mari Pak. Saya antar ke kamar Bapak!" Ujar Arka sambil mengambil mengarahkan Malvin untuk pergi ke sebuah kamar yang tidak jauh dari kamar Rena.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.