Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Aku Tidak Mau Bicara


__ADS_3

Rena bersiap - siap berangkat ke rumah David. Ia membawa serta piyama dan baju kerjanya, berjaga - jaga jika nanti harus menginap lagi di rumah David.


Tak lama kemudian Gilang pun datang dan mereka pun segera berangkat ke rumah David.


Sesampainya di sana, Jefri teesenyum dan membukakan pintu.


"Selamat malam, Mbak Rena," ujar Jefri yang mengetahui perihal kedatangan Rena.


"Malam. Pak David ada di mana?" tanya Rena sambil membawa paper bag berisi makanan yang di masaknya.


"Bapak sedang bertemu tamu di ruang baca," jawab Jefri sambil mengikuti Rena berjalan ke arah meja makan.


Rena menaruh makanan yang di bawanya itu di meja makan.


"Biar saya yang menyiapkan Mbak. Mbak Rena bisa duduk santai dulu sambil menunggu Bapak," ujar Jefri sambil menunjuk sofa ruang keluarga yang sangat nyaman di rumah David.


Rena mengangguk dan melangkah menuju ke ruang keluarga. Ia menaruh tasnya di atas meja dan memilih sofa pijat yang ada di sana dan mulai mengoperasikannya. Selama beberapa menit Rena merasa rileks dan menikmati pijatan sofa yang pasti mahal harganya.


Tak sengaja matanya melihat cahaya lampu yang keluar dari sela - sela pintu yang tidak tertutup rapat di lorong dekat ruang keluarga, hanya beberapa meter dari tempatnya duduk. Samar - samar di dengarnya suara orang berbicara.


Rena berdiri dan berjalan ke arah ruangan itu. Ia mengenali suara orang yang berbicara. Itu adalah suara David yang sedang berbicara dengan seorang perempuan.


Rena ragu - ragu untuk mendekati kamar itu. Namun, sepertinya ia kenal dengan suara perempuan yang sedang menangis itu. Rena pun mendekat dan mendengar percakapan mereka.


"Aku akan bercerai dari Varrel dan kita bisa bersama lagi!" Ujar perempuan itu.


Bercerai dari Varell? Apakah dia... Aleta?


"Aleta kamu harus ingat! Kamu sudah punya anak dari Varell!" Rena mendengar David memanggil nama perempuan itu.


Dari sela - sela pintu, Rena dapat melihat Aleta dan David sedang berbicara.


"Ternyata memang benar dia adalah Aleta," batin Rena.


"Pulanglah, Varell dan anakmu pasti sudah menunggumu," Rena mendengar suara David samar - samar, kemudian ia mendengar Aleta berkata, " Dia anakmu!"


Apa?


Rena sangat terkejut mendengar pengakuan dari Aleta bahwa dulu anak yang di kandungnya adalah anak David, dan tanpa sadar Rena menjatuhkan telepon genggam yang di pegangnya ke lantai.


Prak!


David dan Aleta langsung menoleh ke arah pintu dan melihat sekelebat bayangan seseorang di depan pintu.


David segera berjalan menuju pintu dan terkejut saat melihat wajah pucat Rena yang berada di depan pintu.

__ADS_1


"Maaf, aku.... aku...." ujar Rena dengan gugup karena tertangkap basah susah mencuri dengar pembicaraan David dan juga Aleta.


Rena segera mengambil telepon gengamnya yang terjatuh di lantai dan berbalik pergi.


"Rena!" Panggil David sambil mengejar Rena.


"David!" Aleta memanggil David yang meninggalkannya mengejar Rena.


"Pulanglah Aleta! Aku akan berbicara denganmu nanti!" Teriak David dengan kesal sambil terus mengejar Rena yang berjalan cepat menuju pintu keluar.


"Jefri! Suruh Eddy antar Aleta pulang SEKARANG!" Teriak David pada Jefri sambil terus mengejar Rena.


Jefri pun segera menelfon Eddy untuk bersiap - siap mengantar Aleta sambil berjalan menuju ke ruang baca menemui Aleta.


"Rena, berhenti!" Teriak David dan menggapai lengan Rena.



"Maaf aku tidak ingin menganggu kalian. Aku sebaiknya pulang saja," ujar Rena di teras depan rumah David sambil memaksakan sebuah senyuman.



"Sayang, kamu harus dengarkan aku dulu. Aku dan Aleta sudah tidak ada apa - apa lagi," ujar David.


"Gilang!" Panggil Rena sambil berjalan ke arah garasi mobil David. Rena tidak tahu kemana mencari Gilang. Ia hanya ingin pergi dari hadapan David.


"Sayang, dengarkan aku dulu," ujar David sambil berusaha membujuk Rena agar tidak pulang.


Rena tidak memperdulika David dan menelepon nomor handphone Gilang. Entah mengapa dada Rena terasa panas mendengar percakapan David dan juga Aleta. Bahwa ternyata David dan Aleta mempunyai anak bersama! Bagaimana mungkin David tidak mengetahuinya?


"Gilang, antar aku pulang!" Perintah Rena pada Gilang di telepon.


David mengambil telepon Rena dan mematikan panggilan teleponnya.


"Rena, kamu tidak boleh pulang sebelum kita bicara," ujar David.


"Aku tidak mau bicara. Aku lelah. Aku ingin pulang." jawab Rena sambil berjalan kembali ke arah mobilnya di parkiran depan rumah, bertepatan saat Jefri dan Aleta keluar dari rumah. Aleta berjalan sambil memandang David dan juga Rena, begitu pula David dan juga Rena.


Namun, Rena segera mengalihkan pandangannya, dan Aleta pun masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Eddy.


"Yang, apa yang kamu dengar tidak semuanya benar," ujar David setelah mobil Eddy melaju. David mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


Gilang datang dari samping rumah dan hendak membuka kunci mobil Rena.


"Gilang, kembali ke tempatmu!" Sambil menunjuk dan memandang Gilang dengan tajam. Bahkan Gilang pun bergidik melihat tatapan David, sehingga ia pun masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


"Alexander David Mahendra! Kenapa kamu tidak membiarkan aku pulang?!" Ujar Rena dengan emosi. Ia merasa sangat kesal dengan David dan sedang tidak ingin melihatnya.


"Karena aku ingin kita bicara," ujar David.


"Aku sedang tidak ingin bicara!" Ujar Rena yang masih dengan emosi dan ia pun berjalan ke arah gerbang rumah David.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya David mensejajari langkah Rena.


"Aku mau pulang?"


"Kamu mau jalan kaki?" tanya David menahan senyumnya melihat tingkah lucu Rena saat sedang marah.


Rena tidak menjawab.


"Baiklah kalau kamu tidak mendengarkan aku, terpaksa aku melakukan ini!" Ujar David terpaksa mengangkat tubuh Rena dan menggendongnya di pundaknya.


"Lepaskan! Alexander David Mahendra cepat turunkan aku!" Teriak Rena dengan keras.


Suaranya sampai terdengar ke dalam rumah, sehingga pelayan yang ada di sana pun keluar menyaksikan apa yang telah terjadi.


David dengan cueknya masuk ke dalam rumah sambil menggendong Rena di pundaknya sementara Rena masih berusaha keras untuk turun sambil memukul - mukul pundak David.


"Keluar semua!" Perintah David pada semua pelayan yang ada di dalam rumah.


Semua pelayan pun bergegas langsung keluar dari rumah.


"Jefri, kunci semua pintu! Dan tidak ada yang boleh masuk!" Perintah David lagi masih sambil menggendong Rena.


"Alexander David Mahendra! Cepat turunkan aku!" Teriak Rena pada David.


David pun menurunkan Rena di sofa saat semua pintu telah di kunci.


Rena langsung berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya, namun pintu itu benar - benar terkunci dari luar. Ia mencoba membuka semua pintu yang ada di sana, sementara David hanya tersenyum dan geleng - geleng kepala melihat kelakuan Rena.


"David, cepat buka pintunya!" Perintah Rena sambil menghampiri David dengan kesal.


"Nggak bisa sayang. Bukan aku yang pegang kuncinya," ujar David sambil mengangkat kedua telapak tangannya.


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku pulang?"


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2