
Di sebuah teras rumah di pinggiran kota B, Arka duduk termenung menatap langit malam sambil mrnghirup dalam - dalam putung rokok yang hanya tersisakan sebuku jari. Selepas meninggalkan Gilang di bar itu, Arka kembali ke rumahnya ia tidak bisa tidur malam itu. Ia teringat janjinya pada Alfaro, orang yang telah mengangkatnya dan memberinya pekerjaan saat ia masih muda.
****** Flashback On ****
Sore itu Alfaro di bawa ke rumah sakit karena sakit yang sangat hebat di dadanya. Gilang dan Arka yang saat itu sedang berjaga di rumah kediaman Alfaro ikut bersama Syahnaz ke rumah sakit. Gilang lah yang mengendarai mobil mereka.
Dalam perjalanan Alfaro meminta mereka melakukan sesuatu.
"Arka, Gilang," panggil Alfaro dengan nafas yang tersengal - sengal. Kepalanya bersender di pangkuan Syahnaz, Istrinya.
"Iya Pak," jawab Gilang dan Arka secara bersamaan.
"Renatta..., tolong jaga dia. Jangan sampai Malvin menyakitinya... kalian berdua berjanjilah akan melindungi Renatta dari Malvin," ujar Alfaro kepada kedua pengawalnya itu.
Gilang dan Arka saling pandang.
"Baik Pak, kami berjanji akan melindungi Renatta dan akan kami pastikan Renatta akan baik - baik saja," jawab Arka dan Gilang pun mengangguk.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit dan Alfaro di masukkan ke dalam ruang UGD dan saat itu mereka juga tidak pernah bertemu dengan Alfaro lagi.
**** Flashback Off ****
Arka menghela nafas dengan berat ia mengalami pertentangan batin yang sangat hebat. Apa yang di minta Alfaro adalah wasiat terakhirnya kepada Gilang dan juga dirinya.
Apakah dia akan memegang janjinya pada Alfaro atau loyal kepada orang yang menggajinya saat ini?"
Tiba - tiba telepon genggam Arka berbunyi. Darwin, asisten Malvin Dirgantara meneleponnya.
Gilang memang menunggu kabar darinya mengenai perkembangna pelaku pemukulan Mira Handono.
Di pandanginya telepon genggamnya itu.
Setelah menghela nafas berat ia menggeser tanda panggilan masuk ke lingkaran hijau.
"Hallo," jawab Arka.
"Arka bagaimana penyelidikanmu? Apa sudah ada kemajuan? Pak Malvin sudah benar - benar tidak sabar ingin mengetahui hasilnya!" Ujar Darwin dari sebrang telepon.
"Ya Pak," jawab Arka setelah menghisap putung rokok di tangannya untuk terakhir kalinya. Ia membuang putung rokok itu, kemudian menginjaknya.
"Katakan, siapa yang melakukannya?" tanya Darwin dengan tidak sabar.
"Aku tidak bisa mengatakannya di telepon," ujar Arka.
"Apa maksudmu?" tanya Darwin yang tidak suka dengan nada bicara Arka.
"Kau dengar?! Aku tidak bisa mengatakannya di telepon! Aku harus mengatakannya sendiri pada Malvin Dirgantara," ujar Arka dengan nada yang tidak ingin di bantah.
__ADS_1
Hening sejenak.
"Baiklah, baiklah datanglah pagi ini di kediaman Malvin Dirgantara dan temui aku di sana," ujar Darwin kemudian menutup percakapan telefon.
"Renatta Azaria, kau sendiri yang mencari masalah dengan datang kembali ke kota ini!" Runtuk Arka dalam batin.
****
Di Apartemen Anggrek Mas lantai 7.
"Selamat pagi Mbak Rena, saya Gilang yang di tugaskan oleh Pak David untuk mengantar Mbak Rena ke kantor pagi ini," Ujar Gilang di depan pintu Apartemen Rena.
Rena yang sudah berpakaian kerja rapi memandangi pria yang berwajah tampan itu dengan kemeja dan jas berwarna navy serta memakai kacamata di hadapannya itu langsung membuat Rena tertegun.
"Gilang?" ujar Rena sambil membelalakan matanya tiba - tiba.
Rena ingat pada Gilang. Ia adalah laki - laki yang bekerja pada Ayahnya dan yang telah membantunya lolos dari jerat Malvin Dirgantara.
Rena pun menarik tangan Gilang masuk ke dalam apartemennya dan melongok keluar, melihat ke kanan dan ke kiri, takut jika ada orang lain di lorong apartemen itu melihat mereka.
Rena kemudian menutup pintu Apartemennya seperti orang gugup.
"Gilang? kamu Gilang Narendra kan?" tanya Rena memastikan dengan gugup. Ia berjalan mondar mandir di depan Gilang. Tangannya berkeringat.
"Iya Mbak Rena, saya Gilang," jawab Gilang santai, berusaha untuk tidak tertawa.
"Tentu saja dia Gilang!" Batin Rena.
Rena berhenti berjalan mondar - mandir dan berjalan menghampiri Rena.
"Gilang... kamu mengenali saya?" tanya Rena sambil menyelidik ekspresi wajah Gilang.
Gilang tahu maksud pertanyaan Rena, dan ia menimbang - nimbang apakah akan menjawab dengan jujur atau membiarkan Rena berpikir yang sebaliknya.
"Iya, Mbak kan Adrena Calarissa Putri, calon Istri Pak Alexander David Mahendra," jawab Gilang memilih untuk tidak menjawab dengan jujur.
Rena tidak terlalu memperhatikan ucapan dari Gilang yang mengatakan bahawa ia adalah calon istri dari Alexander David Mahendra, karena ia terlalu fokus memperhatikan ekspresi wajah Gilang.
Gilang sangat terlatih untuk mengendalikan ekspresi wajahnya, sehingga Rena mempercayainya.
Namun, Rena sangat yakin jika Gilang adalah orang yang sama yang menolongnya 7 tahun yang lalu.
"Gilang sepertinya tidak ingat padaku." ucap Rena dalam batin. Ia sedikit merasa lega.
__ADS_1
"Baiklah tunggu sebentar, saya mau mengambil tas di kamar," ujar Rena akhirnya.
Tak lama, Rena kembali ke ruang tamu dan memberikan kunci mobilnya kepada Gilang. Gilang pun mengendarai mobil Rena dan memarkirnya di basement gedung Mahendra Tower.
"Gilang, kamu bebas sekarang, tidak perlu ikut saya ke kantor," ujar Rena saat melihat Gilang mengikutinya di belakang.
"Maaf Mbak Rena, tapi Bapak menyuruh saya untuk menjaga Mbak Rena," ujar Gilang.
Rena mengerutkan dahinya? Apa maksudnya?
"Tapi Mbak Rena tidak usah khawatir? Saya akan menjaga jarak dengan Mbak. Jadi, Mbak Rena tidak perlu merasa sungkan akan kehadiran saya," ujar Gilang.
"Silahkan Mbak. Nanti, Mbak Rena terlambat sampai kantor," tambah Gilang lagi mengingatkan Rena untuk berjalan.
Rena berbalik dan mulai berjalan, kemudian menoleh sebentar ke arah Gilang yang berjalan beberapa meter di belakangnya.
"Apa David benar - benar memata - matainya sekarang? Pikir Rena.
Gilang ternyata benar - benar mengikuti Rena hingga sampai di lantai ke 30 di Divisi Marketing.
"Rena!" Panggil Gita dari pintu lift di sebrangnya. Rupanya Gita menaiki lift yang berbeda dengannya.
"Hi, Git! Gimana kabarmu, kamu sudah baikan?" sapa Rena balik sambil tersenyum.
"Ya, aku sudah enakan sekarang, mungkin hanya kecapean saja," jawab Gita menanggapi sakitnya kemarin.
Rena melirik ke arah Gilang yang berdiri di depan lift, dan Gita menangkap pandangan Rena.
"Siapa?" tanya Gita pada Rena. Gita pun belum pernah melihat laki - laki berwajah tampan itu di Divisi Marketing.
Rena mengangkat bahunya. Tidak mungkin ia mengatakan pada Gita bahwa laki - laki itu adalah suruhan David untuk memata - matainya.
"Ganteng juga," ujar Gita, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Hmmm.... kamu tuh, nggak bisa liat yang ganteng dikit!" Ujar Rena sambil menepuk pundak temannya itu. Gita tertawa dan mereka pun memasuki ruangan kubikus.
Gilang melihat Rena masuk ke dalam ruang Divisi Marketing. Ia pun segera memasuki lift ke lantai dasar menuju ke ruangan yang David sediakan untuknya. Dari ruangan itu ia memperhatikan gerak - gerik Rena dari kamera CCTV yang terpasang di setiap lantai gedung Mahendra Tower. Di Divisi Marketing sendiri ada beberpa CCTV di sudut lantai itu. Sehingga Gilang bisa memonitor kegiatan Rena dengan leluasa.
Pesawat telefon Gilang bergetar beberapa kali, menandakan ada pesan masuk. Ia pun segera membuka pesan dari Leo, salah satu anak buahnya.
Target sudah berada di kediaman Malvin Dirgantara saat ini
"Baiklah Arka, kita lihat apa langkahmu yang selanjutnya," batin Gilang.
Bersambung..
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.