Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Melamar


__ADS_3

Himeka! Jangan kegeeran dulu, siapa tahu dia datang untuk melamar kamu buat sopir atau bodyguardnya. Santai, santai himai! Jangan grogi begini dong.


Aku duduk bersebelahan dengan Ibu dan Bapak menghadap pria yang kukenal sangat dingin itu. Takut banget, karena dia tiba-tiba datang kerumahku. Terakhir ketemu waktu aku berterima kasih kepadanya, namun 'tak dia hiraukan.


"Himai, maksud kedatangan Nak Azril kesini ingin melamarmu untuk--" Aku terbatuk membuat Bapak berhenti berbicara.


"Melamarku? Buat bodyguarnya atau sopirnya?" kataku spontan.


Astaga! Himeka apakah kamu memang sebodoh ini? Kuremas tanganku yang sudah dingin seperti es.


"Aku ingin melamarmu!" ucap pria dingin itu tiba-tiba.


Membuatku seperti ingin melayang. Bagaimana bisa? lelaki tampan dan sekaya dia menyukai wanita burik sepertiku.

__ADS_1


"Pernikahan itu bukan main-main, bukan untuk satu atau dua bulan, tapi selamanya sampai ajal memisahkan. Aku tahu Tuan tampan dan kaya raya, pasti di luar sana banyak wanita cantik yang menyukai. Sedangkan aku hanya wanita miskin dan jelek, sepertinya Tuan salah alamat." Kuberanikan menatap wajahnya dan berbicara sebagaimana orang dewasa.


Namun, dia berbeda saat ini. Ya, dia beda ... tatapan yang dingin itu tidak ada, namun tatapan yang entah tak dapat kuartikan apa maksudnya.


"Aku Azril Musyary serius ingin melamarmu, Himeka Alisha!" Tumpahlah air mataku.


Mimpi apa aku semalam bisa menikah dengan lelaki yang aku kagumi. Ya, aku akui mungkin benih cinta itu telah tumbuh, dan hari ini bermekarlah sudah.


Kulihat wajah kedua orang tuaku yang sudah mulai mengeriput, kupeluk mereka. Keduanya meneteskan air mata dan aku semakin terisak. Aku anak satu-satunya Ibu dan Bapak, siapa yang merawat mereka bila aku sudak tidak di rumah ini lagi.


"Bagaimana, Pak? Apakah lamaran saya diterima atau tidak?" tanya Pria Dingin itu yang baru kuketahui namanya malam ini ternyata Azril.


Ibu dan Bapak saling memandang, seolah saling berbicara tanpa mengeluarkan suara. Dan Bapak mulai berbicara, membuatku gugup. Diterima atau tidak? Kalau ditolak mungkin aku akan galau sepanjang malam, tapi bila pun diterima mungkin aku akan terima ujian yang lebih besar dari biasanya. Karena telah hadir di dalam kehidupannya yang serba mewah.

__ADS_1


"Bismillah. Ibu dan Bapak insya Allah menerima lamaran, Nak Azril!" ucap Bapak dengan tegas.


Kulihat Azril mengusap wajah ... lembut. Terlihat dia sangat sempurnah malam ini, sama sekali tak ada wajah dinginnya.


"Alhamdulillah, makasih, Pak Bu!" ucap Azril sambil mencium tangan kedua orang tuaku.


"Makasih juga buat, Himeka sudah mau menerima saya," ucapnya lagi dan kubalas dengan anggukan kepala saja.


"Besok insya Allah, jam sembilan pagi aku jemput, ya. Karena karena malamnya aku mau bawa kamu ke pesta ulang tahun perusahaanku."


"Pergi kemana? Apakah aku harus ikut?" tanyaku tidak segugup seperti tadi.


"Pergi ke toko pakaian dan salon. Ya, harus," ucapnya lembut. Ah, luluhlah sudah hatiku.

__ADS_1


"Aku tidak pernah pergi ke tempat keramaian dan mewah seperti itu, dan juga pasti banyak orang kaya di sana. Aku takut akan membuat kesalahan hingga membuatmu malu. Aku di rumah saja, nggak usah ikut," ucapku sadar diri, karena aku hanya wanita miskin yang beruntung dilamar oleh lelaki kaya dan setampan dia.


"Aku akan terus menemanimu, jadi tidak usah takut," ucapnya meyakinkanku.


__ADS_2