Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Hal Yang Tidak Diinginkan


__ADS_3

Aku tak berbicara lagi, berharap dia betul menepati janjinya. Bila ada sesuatu dia harus melindungiku. Aku percayakan kepadanya!


***


Aku sudah sampai di tempat tujuan. Tempat ini ... sepertinya aku mengenali? Oh, ya ya! Ini kan, perusahaan yang dekat sekolahku. Jangan bilang ini perusahaan Azril yang dia maksud?


"Himeka, ayo masuk!" panggil Azril kepadaku yang masih diam mematung di dalam mobil.


Aku segera turun, memegangi gamis bagian bawah karena terlalu panjang. Ini sih, sudah seperti pakaian-pakaian princes yang kulihat di tivi. Tidak cocok dibilang gamis.


"Kita mau ke mana lagi? Katanya mau pergi pesta ulang tahun perusahaan, Tuan?" tanyaku memastikan. Siapa tau kan, dia tiba-tiba jadi pelupa wkwkw.


"Iya, ini perusahaanku." Aku melongo, ternyata dia CEO perusahaan ini.


Kutampar pipi dan mencubit pergelangan tanganku. Berharap segera bangun dari mimpi yang penuh kehaluan ini. Tapi, aww! Sakit. Ya Allah! Ini beneran.


"Hey! Wanita bodoh! Kamu kenapa menampar pipimu sendiri?" tanyanya dengan kening mengkerut.


Himeka bodoh! Bisa tidak biasa saja? Lihat wajahnya, mungkin ilfil sama aku.


"Em-em tidak kenapa-kenapa, Tuan," jawabku membuat wajah segemes mungkin, supaya tidak kena marah lagi.


"Tuan? Ingat! saat kita di dalam nanti jangan kamu panggil aku tuan. Panggil aku sa--"


"Kak Azril!" selaku cepat.


"Ayo! Buruan. Kita sudah ditunggu di dalam," ajaknya.


Aku kaget, refleks aku berhenti berjalan. Degup jantungku yang semula biasa-biasa saja, sekarang malah berirama lebih keras. Bagaimana tidak? Dia merangkul pinggangku.

__ADS_1


"Maaf, Kak. Kita belum menikah, kita jalan sejajar saja, ya!" ucapku hati-jati, takut membuatnya tersinggung.


"Oh, ya, maaf."


Aku sangat gugup sampai hampir lupa, cara berjalan bagaimana? Azril terus saja di dekatku, dia betul menepati janjinya.


"Azril! Ibu di sini!" panggil seorang wanita tidak jauh dari kami.


Azril mengajakku untuk mendekati wanita cantik itu. Wajahnya kelihatan tidak muda lagi, dengan menggunakan baju selutut berwarna merah membuatnya lebih bersinar. Apalagi ruangan ini penuh dengan lampu terang.


"Apa dia calonmu?" tanya wanita itu, sambil memperhatikanku dari kepala sampai kaki.


"Ya! Himeka kenalkan dia Ibuku." Ibu? Wah, masih muda, ya.


"Aku Himeka Alisha, Tante!" ucapku sambil menyalaminya.


"Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian! Hari ini tepat ulang tahun perusahaan peninggalan suamiku. Aku ingin mengenalkan calon istri dari pewaris tunggal perusahaan ini!" ucap Ibu Azril.


"Perkenalkan ini, Himeka Alisha calon dari anakku Azril Musyary!" ucapnya memperkenalkanku.


"Wah! Cantik, ya!"


"Iya, serasi dengan Azril!"


Semuanya mulai ramai menilaiku. Syukurlah kalau penampilanku saat ini, tidak membuat Azril dan Ibunya malu. Namun, riuh terhenti saat dua wanita yang sangat kukenali datang.


Ya! Itu Anuradha dan Ibunya. Perasaanku mulai tidak enak.


"Kamu Himeka?" tanya Anuradha memastikan.

__ADS_1


"Iya!" jawabku menunduk.


"Nak Anuradha kenal dengan Himeka?" tanya Ibunya Azril.


"Iya, Tante. Dia ini anak dari pekerja kebun sawit papa saya!" jawabnya.


Ya Allah! Perasaanku tambah tidak enak, melihat wajah Ibunya Azril mulai memerah.


"Azril, benar itu?"


"Jawab Azril!" teriak Ibunya Azril lagi.


"Iya, itu benar!" Aku yang menjawab membenarkan.


"Himeka!" ujar Azril merangkul pundakku.


Air mataku mulai runtuh. Kenapa kemana pun aku pergi, aku selalu dipermalukan seperti ini? Apakah orang miskin sangat hina di depan orang kaya seperti mereka? Anuradha! Aku benci padamu! Biar Tuhan membalas semua perlakuanmu kepadaku.


"Azril batalkan tunanganmu! Ibu sudah memberimu kesempatan untuk mencari sendiri, tapi kamu memilih wanita tidak berkelas seperti ini!"


"Ibu! Cukup! Dia wanita pilihanku yang tepat!" bantah Azril membelaku.


"Tepat dari mana? Anuradha kurang apalagi di matamu? Dia cantik, sopan, pintar dan anak yang berkelas."


Sesak hatiku, ternyata Anuradha calon pilihan Ibunya Azril. Sepertinya aku sudah tidak pantas lagi di sini, sebaiknya aku segera pergi.


Aku berlari keluar dari gedung mewah ini. Gedung yang mungkin esok tidak bisa lagi kupandang, karena telah menumbuhkan luka yang begitu perih.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2