
"Gita ya? Renanya mana?" tanya David dari depan pintu apartemen Rena.
Gita yang membuka pintu pun terkejut. Melihat CEO mereka yang ganteng, tampan dan terkenal angkuh dan keras ada di depan matanya di apartemen Rena.
Gita tidak dapat berkata apa - apa. Mulutnya menganga karena kaget, dan ia hanya bisa mengangguk.
David menjentikkan jarinya menyadarkan Gita dari keterkagetannya itu.
"Gita! Rena mana?" tanya David lagi.
Gita masih belum bisa menjawab. Mulutnya terasa tercekat, dia menunjuk arah kamar Rena dengan telunjuknya.
Rena yang telah selesai dari kamar mandi keluar melalui pintu kamarnya dan melihat David dan Gita di depan pintu apartemennya.
"David mau apa kesini?" batin Rena.
"Yang!" Panggil David sambil melangkah masuk ke arah Rena, melewati Gita yang masih terbengong - bengong.
David pun langsung mengecup pipi Rena seperti biasanya.
"Kok nggak bilang - bilang mau kesini?" tanya Rena heran. Sekaligus kikuk melihat Gita yang menatapnya dengan terkejut.
"Handphone mu kemana? Aku telepon nggak di angkat!" Ujar David dengan nada yang sedikit kesal.
Rena baru ingat jika ia men - silent Handphonenya saat sedang menonton film tadi, dan ia pun menepuk jidatnya.
"Aku silent, lupa!"Jawab Rena sambil tersenyum canggung.
"Oh iya, Yang. Kenalin ini Gita. Gita ini....." ujar Rena memperkenalkan mereka berdua.
"Pak David." ujar Gita memotong perkataan Rena.
"Aku sudah tahu, kamu Gita, sahabat Rena." ujar David sambil menyalami Gita.
"Iya Pak," jawab Gita sambil tersenyum dan mengangguk.
"Kamu mau minum, Yang. Aku ambilin ya? Jus?" tanya Rena pada David.
"Boleh," ujar David sambil membuka jasnya dan duduk di sofa.
Rena berjalan ke arah dapur dan di ikuti oleh Gita.
"Rena... Rena..." panggil Gita perlahan sambil berjalan mengikutinya ke dapur.
" Hmmm?" tanya Rena sambil menoleh ke arah Gita.
"Ja..jadi Pacarmu adalah..., Pak David?" tanya Gita hampir tak percaya.
Rena berhenti sejenak dan melirik ke arah David yang sedang duduk santai di sofa
__ADS_1
"Iya Git," jawab Rena sambil tersenyum
Ya sudahlah, mau gimana lagi? Gita sudah melihatnya sendiri David berada di apartemennya.
"YA AMPUN, Na!!" Seru Gita, ia menyerukkannya demikian keras.
Dan Rena pun reflek langsung menutup mulut Gita dan menoleh ke arah David yang juga melihatnya.
"Kamu kenapa nggak bilang, Na. Pantas saja kamu nggak tertarik pada cowok seganteng Gilang!" Pekik Gita tertahan.
Rena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Udah ah, Git. Jangan di lebih - lebih kan," ujar Rena sambil menepuk pundak sahabatnya itu dan tersenyum. Kemudian Rena mengantarkan gelas berisi jus jeruk kepada David.
Gita pun merasa tahu diri untuk tidak menganggu pasangan itu, dan segera pamit pulang.
"Yang, Gilang mana? Bilangin Gilang dong tolong anterin Gita pulang," pinta Rena pada David. Namun matanya mengedip ke arah Gita, membuat Gita senang bukan kepalang.
Dan David pun mengangguk. Ia langsung menelepon Gilang untuk datang ke apartemen Rena dan memberinya tugas untuk mengantar Gita pulang.
Tak lama kemudian Gilang datang dan Gita pun pulang bersama dengan Gilang.
Setelah kepergian Gita, Rena duduk di samping David yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Yang, kamu mau makan apa?" tanya Rena sambil menaruh gelasnya di atas meja.
"Apa aja, Yang," jawab David yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaan kantornya.
David baru saja selesai mengirimkan email terakhirnya dan melipat laptopnya. Ia melihat Rena sedang membuka aplikasi ojek online.
"Kita makan keluar yuk, Yang," ujar David yang mengerti Rena sedang tidak ingin memasak.
"Aku ganti baju dulu ya," ujar Rena sambil beranjak.
"Yang," ucap David sambil menahan lengan Rena agar tidak menjauh.
"Ada apa?" tanya Rena.
"Jangan lupa kamu sekalian bawa baju ganti,aku mau kamu untuk sementara ini tinggal di rumahku"
Rena mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Rena lagi.
"Tidak ada apa - apa. Aku hanya ingin kamu aman saja,"
"Tapi aku aman di sini," ujar Rena.
"Walaupun begitu, aku tetap tidak tenang sebelum melihatmu baik - baik saja,"
__ADS_1
Rena tertawa dan menganggap David berlebihan.
"Sudah Yang. Ikuti saja perkataanku," ujar David.
"Oke, aku akan menginap malam ini," ujar Rena sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian dan membawa baju ganti.
Rena berpikir akan memberikan surat itu pada David saat mereka sudah sampai di rumah David nanti.
David dan Rena pun berangkat menuju ke restoran bersama dengan Eddy. Mereka makan di sana dan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di sana sebelum akhirnya pulang ke rumah David.
Setelah membersihkan diri dan mengganti piyama, Rena datang menghampiri David di ruang kerjanya, sambil mengantongi sepucuk surat yang di titipkan Ibu Andini padanya.
David sedang sibuk berbicara dengan salah satu broker sahamnya sambil melihat flukultasi nilai saham perusahan - perusahannya saat Rena masuk ruangan itu.
"Lanjutkan saja, aku tidak ingin menganggu," ucap Rena perlahan dan David kembali sibuk dengan pembicaraannya.
Rena berjalan di ruang kerja David, dan melihat - lihat rak buku yang ada di sana. Semua yang ada di rak - rak itu adalah buku - buku tentang bisnis, yang Rena sedang tidak ingin membacanya.
Rena memilih duduk di sofa dan membuka layar handphonenya kemudian memulai mencari aplikasi baca novel yang dulu pernah di downloadnya dan memilih cerita yang terlihat menarik.
Sebentar saja Rena sudah tertarik pada cerita seorang gadis yang menikah mendadak dengan Om temannya. Sebentar - sebentar Rena tersenyum membaca celotehan salah satu tokoh utama yang terkenal comel. Tak terasa ia sudah hampir menghambiskan cerita novel tersebut dan David pun sudah selesai meeting dengan broker sahamnya.
Rena tidak menyadari saat David mendatanginya dan tiba - tiba memeluknya.
"Kamu sedang baca apa, Yang? Dari tadi senyum - senyum sendiri," ujar David saat Rena telah menyadari kehadirannya.
"Baca Novel," jawab Rena sambil menutup layar handphonenya.
"Novel apa?" tanya David ingin tahu.
"Macam - macam, kita tinggal pilih mau genre yang mana. Kamu sudah selesai rapat?" tanya Rena.
"Ya baru saja. Ada apa? Ada yang mau kamu bicarakan?" tanya David lagi.
"Memang harus ada alasan aku datang kesini? Aku belum pernah masuk ke ruangan ini," ujar Rena sambil melihat sekeliling interior ruang kerja David yang terkesan modern dan mewah.
"Tidak ada yang melarangmu kesini. Bahkan seisi rumah ini terbuka untukmu," ujar David.
"Tapi ada satu tempat lagi yang belum pernah kamu masuki. Mau lihat?" tanya David.
Apa? Sepertinya aku sudah pernah masuk ke semua ruangan di rumah ini. GYM, dapur, perpustakaan, ruang kerja David, ruang keluarga,ruang makan, taman, bahkan dapur di belakang pun sudah. Pikir Rena.
" Tempat apa?"
" Tempat aku tidur, mau lihat?" ujar David sambil mengerlingkan matanya.
Bersambung..
Maaf baru bisa di UP sekarang karena semalam masih belum lolos review.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.