
Rena dan David terkejut. Tidak hanya dari berita media juga tetapi dari suara keras dan hentakkan yang mereka rasakan berasal dari bagian belakang mobil.
Oh tidak! Rena menyadari bahwa mobil mewah David yang di kendarainya telah bertabrakan dengan mobil yang lain.
Rena pun langsung keluar, dan ia terdiam lemas melihat bamper mobil depan Alphard di belakangnya telah mencium bamper belakang mobil Lamborgini milik David!
David yang langsung keluar mengikuti Rena dan melihat apa yang telah terjadi dengan mobilnya pun tersenyum.
Tersenyum? Ya, ia tersenyum! Uang bukanlah masalah bagi David. Bahkan, ia pun tidak perduli jika ia kehilangan sebuah mobil Lamborgini! Toh, ia dan Rena tidak terluka.
David mempunyai ide untuk menjalankan rencananya untuk menjadikan Rena pacarnya. Ya, dan Renalah yang memberikan jalan itu!
Pengemudi mobil Alphard yang menabrak mobil David pun keluar dan terlihat kaget melihat dengan apa yang terjadi. Tetapi ia tidak bisa langsung marah - marah, apalagi dengan pemilik mobil sekelas Lamborgini.
David memberi tanda pengemudi mobil itu, untuk meminggirkan kendaraannya.
"Rena, tunggulah di mobil," pinta David saat ia melihat Rena syock dengan apa yang terjadi. Ia pun membawa Rena duduk di bangku penumpang, kemudian David meminggirkan mobilnya.
"Tunggu di sini, biar aku yang berbicara dengan orang itu," ujar David menenangkan Rena. Dan Rena mengangguk.
David keluar dari mobil dan berbicara dengan pengemudi Alphard. Tanpa berpikir panjang ia memberikan ganti rugi dan meminta maaf kepada pria tersebut. Tentunya pria tersebut langsung menerimanya dan tidak mempermasalahkan kejadian itu, bahkan pengemudi Alphard itu bersyukur tidak harus ikut mengganti rugi kerusakan mobil mewah David.
Mobil David memang tidak rusak terlalu parah, namun kaca lampu belakangnya pecah dan penyok di bagian sisi belakang sebelah kanan. David tersenyum lebar sebelum ia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.
Di dalam mobil ia memasang wajah datar, tanpa ekspresi. Ia tidak ingin terlihat marah karena akan membuat Rena bertambah syock tetapi juga tidak ingin Rena mengetahui betapa senangnya ia.
"Pak... saya.. minta maaf," ujar Rena dengan terbata - bata melihat ekspresi wajah David.
Tentu saja Rena syock. Tidak hanya karena foto yang sekilas di lihatnya. Namun, karena ia juga tidak tahu berapa banyak yang harus ia bayar untuk mengganti rugi biaya mobil mewah David yang di kendarainya. Padahal hutangnya pada David saja belum ia lunasi!
Rasanya David ingin sekali memeluk Rena dan langsung memaafkannya, namun di tahannya agar rencananya bisa berhasil.
"Kamu tenang saja Rena, nanti kita bicara di apartemenmu!" Ujar David. Kemudian mulai mengenderai mobilnya menuju ke apartemen Rena.
__ADS_1
Tentu saja Rena tidak otomatis menjadi tenang, ia berpikir apa yang akan di bicarakan David di apartemennya.
Tak mungkin David akan memaafkannya begitu saja. Itu bukan sifat David! Lalu apa yang ia lakukan padanya? Rena memikirkan berbagai kemungkinan sampai - sampai ia lupa mengenai foto yang menyebabkan semua tragedi ini!
****
Austin Leonard Alfaro memarkirkan kendaraannya di halaman apartemen Rena. Pria yang berpakaian santai dengan celana jeans, kaos putih dan kemeja flanel itu masuk ke dalam lobby apartemen sambil menjinjing sebuah kotak kado manis berwarna ungu. Di lihatnya jam di pergelangan tangannya. Waktu belumlah menujukkan pukul 11 siang. Ia menelepon telepon genggam Rena. Namun, Rena tidak mengangkatnya.
"Mungkin Rena masih di jalan," batin Austin. Austin berpikir Rena masih mengenderai motor seperti biasanya.
Austin pun duduk menunggu di salah satu sofa di lobby Apartemen Rena yang menghadap ke arah depan.
Setelah menunggu selama beberapa saat, lewatlah sebuah mobil Lamborgini kuning yang sangat menarik perhatian mata. Mobil itu terparkir di parkiran di depan lobby apartemen.
Austin tak sengaja melihat Rena turun dari mobil tersebut, dan ia tersenyum saat melihat Rena datang. Walaupun ia heran dengan siapa Rena naik mobil mewah itu.
Senyumnya pun langsung surut saat melihat pria yang bersama dengan Rena turun dari sisi pengemudi.
Rena yang baru turun dari mobil David, berjalan menuju lobby apartemen bersama David. Mereka berdua tidak memperhatikan sepasang mata Austin yang memperhatikan gerak - gerik mereka.
Baru saja mereka melewati pintu lobby, Austin langsung mengapit lengan Rena dan langsung menariknya dari sisi David.
"Rena, apa yang kamu lakukan bersama dengan orang ini?" tanya Rena langsung.
"Abang!" Seru Rena, terkejut melihat Kakaknya sudah ada di lobby apartemennya. Ia tidak bisa menutupi keterkejutannya.
David pun terkejut dan memasang sikap protektif dengan menarik Rena kembali dan melindunginya di belakang tubuhnya.
Ia memadang dengan tajam pria yang ada di hadapannya. Austin Leonard Alfaro?
David mengenalinya! Walaupun ia tidak pernah bertransaksi bisnis langsung dengan Austin, tetapi ia mengenali pria ini dari beberapa acara yang di hadirinya.
Mau apa dia dengan Rena dan mengapa Rena memanggilnya Abang? Apa dia pria yang menelefon Rena kemarin? Pikir David.
__ADS_1
"David, cepat lepasakan Rena!" Seru Austin tanpa rasa takut menghadapi David. Austin sangat menyayangi adiknya itu dan ia tidak ingin Rena terluka oleh laki - laki seperti David.
"Apa urusanmu mencampuri urusanku?" ujar David dengan geram. Ia merasa Austin telah mencampuri urusan pribadinya.
"Dia..." Austin hendak mengatakan jika Rena adalah adiknya, dan ia berhak mencampuri urusannya. Namun, Rena memotong perkataannya.
"Abang!" Rena menyeru pada Austin dan memberinya sinyal agar tidak membocorkan rahasia hubungan mereka pada David. Kemudian Rena menarik David ke sudut ruangan.
"Bapak harap tenang dulu, teman saya tidak bermaksud untuk mencampuri urusan Bapak," ujar Rena menenangkan David. Ia pun tidak ingin kakaknya mendapatkan masalah dengan berseteru dengan Alexander David Mahendra.
"Ada hubungan apa kamu dengan Austin Leonard Alfaro?" tanya David dengan menyelidik. Sekelebat rasa cemburu kembali hadir di hati David. Apalagi melihat Austin yang tanpa segan - segan menarik wanita yang di sukainya di depan matanya.
"Dia.... teman dekat saya," ujar Rena berusaha menutupi hubungan mereka berdua.
David mengerutkan dahinya sebelum bertanya, "Sedekat apa?"
"Cukup dekat," ujar Rena namun segera di koreksinya saat melihat ekspresi tidak menyenangkan di wajah David, "Dia sudah seperti Kakak bagi saya,"
David menoleh ke arah Austin yang memandangi mereka dengan kesal. David merasa cemburu dengan sikap proteksi Austin terhadap Rena.
"Pak, saya bisa berbicara dengan Bapak nanti?" tanya Rena.
Ia mencari cara agar bisa membuat David pergi dari saat itu.
David memandangi Rena. Ia merasa keberatan untuk berpisah dengan gadis itu. Apa gadis yang ada di depannya ini lebih memilih bersama Austin daripada dengan dirinya.
"Rena, kamu tahu saya menyukaimu! Dan apapun yang aku suka tidak boleh di sentuh oleh orang lain!" Ujar David menunjukkan sikap posesifnya pada Rena.
Bersambung...
Terima kasih saudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1