Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Penyelidikan Arka Part 2


__ADS_3

Andri masih tidak mau menjawab dan anak buah Arka memukulinya lagi, sampai akhirnya ia tak sanggup lagi melihat bogem mentah dari Arka dan anak buahnya.


"Baik Pak, baik." ujar Andri akhirnya.


"Siapa mereka Andri?" tanya Arka dengan berteriak. Arka sudah hampir habis kesabarannya menunggu Andri memberikan informasi yang di inginkannya.


"Ibu Mira Handono...." ujar Andri.


"Dan?" tanya Arka, menunggu Andri bicara.


"Yang satu lagi saya lupa namanya," ujar Andri sambil menangis, pasrah dengan nasibnya.


Ia benar - benar tidak ingat siapa nama wanita yang satu lagi.


Anak buah Arka hendak menghajar Andri karena tidak memberikan informasi yang di inginkan.


"Saya benar - benar lupa, Pak! Tolong jangan pukul saya lagi," ujar Andri memohon.


Bugh! Bugh!


Dua kali tonjokkan mengenai rahang dan pipi Andri.


"Ampun Pak. Saya tidak tahu siapa namanya," ujar Andri memohon.


"Dia... Wanitanya Alexander David Mahendra..." ujar Andri dengan pasrah.


Arka yang tadinya sudah putus asa menginterogasi Andri, seketika itu juga membelalakan matanya.


"Kau bilang wanitanya Alexander David Mahendra?" tanya Arka.


Andri mengangguk.


"Saya... tidak ingat siapa namanya. Tetapi Alexander David Mahendra melindunginya," ujar Andri.


"CCTV?" tanya Arka.


"Sudah di hapus uhukk... karena permintaan David....." jawab Andri sambil terbatuk - batuk.


"Ceritakan bagaimana kejadiannya!" Perintah Arka.


Andri pun menceritakan kejadian saat itu dan apa yang di lihatnya di CCTV hotel saat itu.


Setelah mendapatkan informasi yang di butuhkannya Arka pun meninggalkan ruang interogasinya.


"Apa yang harus kami lakukan dengan orang itu?" tanya Tompel pada Arka sebelum Arka masuk kedalam mobilnya.


"Lepaskan saja," ujar Arka sambil memakai kaca mata hitamnya kemudian melaju dengan mobilnya.


Arka berpikir sepanjang jalan.

__ADS_1


Hammmm.... Alexander David Mahendra melindungi wanita itu?


Instingnya memang tidak pernah salah. Gilang pasti orang yang bertanggung jawab atas pemukulan yang terjadi pada Mira Handono.


Tetapi kenapa Mira Handono memukuli wanita itu, jika ia tahu wanita itu di lindungi oleh Alexander David Mahendra? Cari mati saja dia!


Tapi.... mungkin saja Mira tidak mengetahuinya. Dan siapa wanita itu sebenarnya?


Arka sangat ingin tahu identitas wanita itu dan apa yang menyebabkan ini semua terjadi.


Arka pun menghubungi Aldo, salah satu hacker kenalannya untuk mencari data mengenai kedekatan Alexander David Mahendra dengan wanita baru - baru ini.


Hanya memakan waktu satu jam, Aldo sudah menghubunginya kembali.


"Tidak banyak yang aku dapatkan, Alexander David Mahendra tidak terlihat dekat dengan banyak wanita, hanya satu orang yang terlihat dekat baru - baru ini. Dan beritanya pun langsung terhapus keesokan harinya." ujar Aldo.


David memang meminta Alvin untuk menghapus semua foto - foto dirinya dan Rena di dunia maya yang telah di terbitkan oleh wartawan foto, saat ia mengetahui bahwa Rena adalah Renatta Azaria.


"Jadi kau tidak mendapatkan data apapun?" tanya Arka dengan nada kecewa.


"Arka, sejak kapan kamu meragukan keahlianku?" tanya Aldo sambil tertawa.


"Bagaimanapun hanya ini yang bisa ku dapatkan, selebihnya harus kau cari sendiri," ujar Aldo, kemudian memutus sambungan teleponnya.


Hanya sepersekian detik notifikasi dari handphone Arka berbunyi.


Unknown number mengirimkan sebuah gambar.


"Baiklah sepertinya harus aku cari sendiri siapa wanita cantik ini," ucap Arka dalam batin.


*******


"Aku pulang dulu ya, Git." pamit Rena pada Gita sambil cipika - cipiki di lobby Mahendra Tower.


Gita pulang di jemput pacarnya di lobby, sementara Rena berjalan menuju parkiran motor tempat motornya yang di parkir beberapa hari yang lalu.


Tiba - tiba David meneleponnya.


"Sayang, aku masih ada meeting. Jadi aku tidak bisa antar kamu pulang. Kamu pulang di antar Eddy ya" ujar David dari sebrang telepon.


"Aku pulang sendiri saja, aku bawa motor kebetulan mau mampir belanja," jawab Rena.


Ia memang berencana untuk mampir ke supermarket untuk berbelanja bahan makanan yang di butuhkan untuk di masak nanti malam.


"Jangan membantah, sebaikanya kamu ikut Eddy. Dia sudah menunggumu di depan Lobby," ujar David setengah memaksa.


"Udah nggak pa - pa. Aku sudah sampai di parkiran motor. Suruh saja Eddy pulang. Sudah ya," ujar Rena lalu memutus percakapan teleponnya.


Rena berjalan di antara motor yang terparkir di sana. Ia mencari - cari dimana motornya berada. Namun setelah setengah jam mencari, ia tak dapat menemukannya.

__ADS_1


Akhirnya Rena bertanya kepada petugas parkir yang ada di sana dengan menujukkan karcis parkirnya.


Petugas itu membantu Rena mencari motor miliknya di sistem mereka. Sebelum ia menemukannya tiba - tiba supervisor petugas parkir itu datang.


"Mbak Rena?" tanya sang supervisor.


"Iya Pak saya Rena. Apa sudah ketemu motor saya?" tanya Rena.


"Maaf Mbak, motor Mbak Rena tadi siang sudah di angkut, katanya mogok dan tidak bisa jalan," ujar sang supervisor.


Diangkut? Sama siapa?


"Tapi saya nggak pernah nyuruh di angkut Pak. Yang suruh siapa, Pak?" tanya Rena lagi.


"Perintah dari Bapak Alvin," jawab supervisor itu polos.


Rena pun tepok jidat.


"Alexander David Mahendra! Kali ini apalagi ulahmu!" Umpat Rena dalam hati dengan kesal.


Akhirnya Rena pun meninggalkan parkiran motor dan menelepon David.


"Alexander David Mahendra! Kemana motorku?" tanya Rena dengan kesal.


"Lho Yang, kok nanya sama aku? Mana aku tahu, aku kan lagi meeting," jawab David yang sedang dalam perjalanan bersama dengan Alvin menuju tempat meetingnya.


David memang menyuruh Alvin mengambil motor Rena tadi siang, karena gadis itu pasti akan keras kepala untuk tetap menaiki motornya. Dan lagi ia sudah memesankan Rena sebuah mobil, jadi Rena tidak akan membutuhkan motornya lagi.


"Kalau Pak Alvin yang ngambil pasti Bapak yang nyuruh kan?" tanya Rena kesal karena David tidak mengakui perbuatannya.


"Ya, kamu tanya dong sama Alvin, kan dia yang ambil. Masa tanya aku?" Ujar David berpura - pura tidak tahu. Ia menahan tawanya dengan mati - matian, sementara Alvin yang sedang menyetir mobil tertegun mendengar perkataan David.


"Lho kok saya yang di salahin?" batin Alvin sambil garuk - garuk kepala.


"Ya udah sayang. Eddy sudah nunggu kamu tuh di depan. Cepetan pulang, nanti kamu kesorean dan nggak sempat masak buat aku lagi," ujar David playing innocent.


"Pak David...."


"Aku meeting dulu ya, Yang. Sebelum makan malam aku pulang. Kamu hati - hati di jalan," ujar David lalu memutus sambungan teleponnya.


"Alvin, tanyakan pada Eddy apakah Rena sudah ada di mobil atau belum. Bilang sama dia, Rena tanggung jawabnya. Kalau sampai Rena tidak naik mobil Eddy saya pecat!" Ujar David pada Alvin.


Alvin pun langsung menelepon Eddy, menyampaikan apa yang di katakan oleh David.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


...***** Selamat Berpuasa *****...


__ADS_2