
Hai... hai para readerku hari ini author udah kasih double Up ya. Ingat selalu tinggalkan jejak komen kalian ya buat penyemangat author untuk menulis cerita ini.
Dan jangan lupa tekan tombol likenya yuk. Jangan pelit - pelit ya. Kalau nyampe 50 like lebih author janji, besok author kasih Triple Up deh.
Selamat membaca....🤗
David memeluk Rena dan membiarkan gadis itu mengeluarkan apa yang di pendamnya selama ini?
Pasti berat bagi seorang anak remaja 16 tahun untuk kehilangan keluarganya dan harus menyembunyikan identitasnya. David pun bisa merasakan kesedihan Rena saat ia kehilangan Bundanya, karena David juga merasakan hal yang sama saat Mamanya pergi meninggalkannya.
David menghapus air mata Rena yang tersisa di kedua pipi Rena.
"Kalau kau mau, aku bisa membalaskan semua sakit hatimu, Ren. Aku bisa menghancurkan Malvin. Yang kamu harus lakukan hanya memintaku untuk melakukan itu dan aku akan lakukan," ujar David menatap mata sendu di hadapannya yang hanya berjarak tidak lebih dari 20 cm darinya.
Rena menatap mata David. Ingin sekali rasanya ia melihat Malvin menderita dan merasakan apa yang di rasakannya. Sebagian dari dirinya menginginkan itu. Melihat Malvin menderita dan memohon ampun padanya! Dan pria yang ada di hadapannya itu bisa mewujudkan hal itu untuknya.
Lalu, setelah itu apa? Apa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik setelah ia membalaskan dendamnya? Akankah ia menjadi seseorang yang lebih baik? Atau ia akan menjadi orang yang sama seperti Malvin? Dan yang lebih parah lagi, ia akan membuat David menjadi orang yang lebih jahat dari pada Malvin Dirgantara!
"Tidak! Aku bukanlah Malvin! Dan aku tidak akan menghancurkan orang - orang yang aku sayangi," batin Rena menentang semua pikiran jahat yang sempat berkelebat di benaknya.
__ADS_1
Rena menghela nafas berat kemudian menggeleng.
David tercengang melihat Rena menolak tawarannya untuk membalaskan dendamnya.
"Kenapa Ren? Kenapa? Dia telah menyakitimu dan keluargamu!" Ujar David tidak mengerti mengapa Rena menolak tawarannya.
David sendiri sangat geram pada Malvin Dirgantara karena telah menyebabkan kepedihan yang mendalam bagi gadis yang di sayanginya. Dan ia akan dengan senang hati menghancurkan Malvin sampai tak bersisa. Ia bisa dan sangat mampu untuk melakukan hal itu dengan semua kekayaan, kekuasaan, dan aset, yang ia miliki. Tetapi Rena justru tidak ingin membalaskan dendamnya.
"Karena kalau aku melakukan itu, aku tidak akan lebih darinya," ujar Rena pelan.
"Ayahku pun pasti tidak ingin aku melakukan itu," ujar Rena mengenang Ayahnya yang sangat toleran dan memperlakukan semua orang dengan baik.
David menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Ya Tuhan, apakah aku cukup pantas untuk bersama dengan gadis ini? Gadis yang bahkan tidak ingin menyakiti orang yang telah menghancurkan kelurganya dan orang - orang yang di sayanginya?" ucap David dalam batin
Tanpa mampu berkata - kata, David memeluk Rena demikian erat. Ia tidak ingin melepaskan Rena. Tidak! Demi apapun, ia akan mempertahankan gadis itu.
"David," panggil Rena.
__ADS_1
David tidak menjawab atau pun melepaskan pelukannya. Ia mengecup kepala Rena bertubi - tubi, mengekspresikan rasa sayang yang sangat pada gadis itu.
"Aku.... tidak bisa bernafas," ujar Rena berusaha melepaskan diri dari pelukkan David yang sangat erat.
David pun segera mengendurkan pelukkannya.
"Maaf sayang... aku... aku... tidak sengaja," ujarnya sambil teesenyum dan menangkup wajah Rena dengan kedua telapak tangannya.
"Tidak apa - apa," ujar Rena sambil mengambil beberapa helai tissue di dekat mereka untuk menghapus air matanya dan membersihkan hidungnya tersumbat karena menangis.
Tiba - tiba telefon genggam David berbunyi dan Alvin terlihat menghubunginya.
"Ya?" jawab David saat mengangkat panggilan telepon dari Alvin.
"Apakah Mbak Rena dan Pak David sudah selesai bicara? Dokter Bimantara, sudah ada di depan sini.
Bersambung..
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.