Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
HIMAI MENIKAH


__ADS_3

"Ah, Ibu! Jangan nangis dong. Himai ikutan sedih juga nih. Insya Allah, Bu, pasti himai sering-sering main ke sini." Sedih banget rasanya.


***


Setelah selesai mandi. Aku memakai gamis seadanya yang kupunya. Karena aku tidak mempunyai pakaian yang bagus-bagus. Setelah memakai jilbab dan sedikit olesan lipstik di bibir, terdengar ketukan di pintu kamarku.


"Iya, Bu!" ucapku setelah membuka pintu.


"Sudah ada, Nak Azril. Katanya mau bicara dulu sama Himai," ucap Ibu.


"Oh, iya, Bu." Aku lansung berjalan ke ruang tamu.


Terlihat Kak Azril masih memakai kaos biasa. Apa nikahnya tidak jadi? Ada rasa kecewa. Kalau jadi alhamdulillah, kalau tidak berarti bukan jodohku. Kuhampiri Kak Azri yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Iya, kenapa, Kak?" tanyaku saat sudah duduk di depannya.


"Aku datang membawakan gaun untukmu dan juga tukang rias. Aku juga bisa tidak, pakai pakaian di sini?" Alhamdulillah, Ya Allah. Aku kira tidak jadi.


"Oh, iya bisa banget, Nak!" jawab Ibu yang baru datang membawa segelas teh panas.


"Ya udah, Himai masuk kamarnya, ya!" perintah Ibu.


"Mba! Silakan masuk juga!" perintah Kak Azril kepada dua orang pegawai salon.


***


Aku duduk di depan cermin dan dimake up dua orang suruhan Kak Azril. Perlahan wajahku berubah, mata, hidung, pipi ... semua berubah. Sangat cantik! Aku sendiri pangling dibuatnya.


Setelah selesai bagian wajah. Rambutku disanggul dan dipakaikan jilbab berwarna putih. Lalu aku dipakaikan gaun mewah berwarna putih ... gaunnya penuh dengan manik-manik mengkilap. Harganya pasti mahal banget!

__ADS_1


Setelah semuanya selesai. Aku duduk menunggu untuk dijemput keluar. Karena rumahku yang kecil dan berdinding tripleks, pembicaraan di luar begitu terdengar jelas.


"Saya terima nikahnya Himeka Alisha Binti Hakim dengan mahar tersebut dibayar tunai!"


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Terdengar riuh suara sahut-menyahut mendoakan. Aku langsung sujud syukur. Syukur atas nikmat Tuhan yang tiada tara ini. Setelah sujud syukur, aku kembali duduk dan kemudiam terdengar pintu kamarku dibuka seseorang.


"Kamu sudah siapa, Nak?" tanya Ibu saat sudah berada di dalam kamarku.


"Insya Allah, Bu," jawabku gemetar.


Ya Tuhan! Rasanya gugup sekali. Sekarang statusku bukan lagi jomblo. Sekarang ini aku mau ketemu suami ... ha! suami. Benar-benar membuat pipiku memanas.


Aku sudah berada di ruang tamu, dua langkah lagi tepat di samping Kak Azril. Kak Azril menatapku tanpa berkedip. Apakah aku secantik, seperti di salon waktu itu? Seperti yang dia katakan, "cantik." mengingatnya saja membuat tersipu.


"Duduk, Nak!" bisik Ibu, saat aku sudah di dekat Kak Azril.


Kami diberikan nasihat-nasihat tentang pernikahan, lalu menanda tangani surat untuk membuat buku nikah.


"Nak Azril! Cincinnya mana?" tanya Pak KUA kepada Kak Azril.


"Ah, iya. Ini!"


Kak Azril menyematkan cincin berwarna putih yang di tengahnya ada sebuah permata mengkilap. Bagus banget! Aku mencium tangan Kak Azril, lalu Kak Azril mencium keningku. Sesaat mata kami saling mengunci ... seperti berbicara bahwa kamu dan aku sudah sah! Menjadi kita.

__ADS_1


***


Selesai acara, aku capek sekali. Ingin sekali istirahat, tapi Ibu-ibu tetangga memberondongku dengan banyak pertanyaan. Saat berdiri ingin menghindari mereka, aku malah ditarik untuk duduk. Kalau bukan karena gaun ini kepanjangan, sudah dari tadi aku loncat.


"Himeka, kamu ketemu di mana dengan Si Tampan itu?"


"Kamu goda dia bagaimana?"


"Beritahu kami dong, Himeka! Cara dapatkan cowok keren dan kaya seperti dia bagaimana?"


"Suamimu mungkin punya temen, mau dong jodohin sama anakku."


Duh! Tuhan! Bagaimana menjawabnya? Sama sekali aku tak punya jawabannya, karena semua mengalir begitu saja. Mereka kira aku yang memancing Kak Azril biar mau sama aku. Ya, kan mereka tidak nyangka. Cewek burik dan miskin ini tiba-tiba menikah dengan orang kaya dan tampan. Jelas jadi pertanyaan.


"Himeka! Kok, diam saja!" celetuk mereka.


Aku harus jawab apa? Mereka membuatku tambah pusing saja. Ibu ke mana? Tidak kah Ibu melihat aku ingin pertolongannya.


"Himai! Kamu ke clup mana? Kan biasa tuh! Banyak bos-bos di clup malam," ucap tetangga yang baru datang.


"Ah, iya! Kamu pasti ke clup malam, ya? Di mana lagi kamu bisa cari lelaki kaya kalau bukan di sana? Atau jangan-jangan, kamu sudah tidur dengannya, ya?"


"Astaghfirullah! Bu! Mulutnya dijaga, ya! Aku walaupun miskin, tidak bakalan jual keperawananku. Percuma aku cerita, toh kalian tidak akan percaya bukan?" Sontak aku teriak kepada mereka yang julidnya tingkat tinggi.


Membuat mereka saling berbisik. Entahlah, gosip apalagi nanti yang tersebar. Yang penting aku tidak melakukannya sama sekali. Tuhan lah, yang mendatangkan Kak Azril untukku.


"Bodyguard! Bawa mereka semua keluar, cepat!" Teriak Kak Azril.


Wajah itu ... wajah itu. Wajah di mana pertama kali aku melihatnya. Dingin, kejam. Siap membunuh mangsanya! Kenapa dia marah? Apakah dia mendegar Ibu-ibu ini waktu berbicara?

__ADS_1


"Kak!" panggilku lirih.


__ADS_2