
David pun berjalan ke arah pagar di samping pos penjaga, dan Rena pun mengikutinya.
"Bagaimana kabarmu, Ren?" tanya David sambil menggenggam tangan Rena yang terpisah oleh pagar rumah. Ia hanya bisa berbicara dengan Rena dari luar pagar.
"Aku baik David. Maafkan Abang Austin ya," ujar Rena tidak enak atas perlakuan Abangnya itu terhadap David.
"Aku mengerti. Abangmu hanya ingin melindungimu," ujar David sambil menatap Rena.
"Mbak Rena di panggil Pak Austin," ujar Agus yang sudah berdiri di belakang Rena.
"Iya Gus, sebentar." jawab Rena menoleh sebentar ke arah Agus yang terlihat tidak enak hati menganggu Rena.
"Bagaimana kabarmu? Dan juga Audrey?" tanya Rena pada David.
"Audrey? Baik. Aku? Kangen sama kamu?" ujar David sambil tersenyum.
Rena tersenyum dengan rona merah di wajahnya.
"Maaf Mbak, tapi Pak Austin sudah memanggil - manggil Mbak Rena terus," ujar Agusa yang semakin merasa tak enak, karena Austin sudah berteriak nama Rena dari depan rumah.
"Ya sudah, kamu masuk Ren. Yang penting aku sudah ketemu sama kamu. Besok aku akan kesini lagi," ujar David kemudian menarik tangan Rena agar mendekat dan mengecup kening Rena dari sela - sela pagar.
"Besok aku tunggu di sini," ujar Rena sambil berjalan mundur dan masuk kembali ke dalam rumah, sementara David pulang kerumah sambil tersenyum. Paling tidak ia sudah bisa melihat Rena hari ini.
...******...
Sudah beberapa hari David bertemu dengan Rena di depan pagar rumah saat jam makan siang. Untungnya tempat pertemuan mereka cukup rimbun oleh pohon besar yang memayungi mereka. Walaupun di batasi oleh pagar, tetapi mereka bisa saling mengobrol berhadapan.
Meskipun Austin sedang di kantor para penjaga tetap mematuhi perintah dari Austin. Karena Austin sudah memperingatkan pada para penjaganya untuk tidak membiarkan David masuk ke dalam rumah atau pun, atau pun membiarkan Rena keluar pagar. Tetapi para penjaga tidak bisa melarang atau berbuat apa - apa saat David dan Rena bertemu, walaupun terpisah oleh pagar.
Siang itu, Rena membawakan David makan siang yang sudah di taruhnya dalam kotak makan. Ia meminta pada salah satu penjaga untuk memberikannya kepada David. Penjaga yang merasa iba pada mereka pun akhirnya memberikan kotak makan itu kepada David.
"Apa ini?" tanya David sambil membuka kotak yang di berikan penjaga kepadanya.
"Buka saja," kata Rena.
__ADS_1
David melihat beberapa macam lauk, sayur dan nasi di dalam kotak makan itu. Dan Rena juga membawa kotak makan yang sama seperti David.
"Jadi, kita makan siang bersama? Seperti piknik?" ujar David sambil tertawa senang. Ia pun segera memakan makanan yang sudah di siapkan oleh Rena untuknya.
"Gimana Abangmu? Apa ada perubahan?" tanya David ia berharap, Austin bisa memberikan kesempatan padanya.
Rena sudah menceritakan padanya bahwa Austin tidak pernah merestui hubungan mereka dan tidak menginginkan Rena untuk berhubungan dengan David.
"Belum," ujar Rena menggeleng.
"Bagaimana kalau kita kawin lari saja, Ren. Apa kamu mau, Yang?" tanya David.
Pertanyaan dari David yang tiba - tiba seperti itu pun membuat Rena tersedak. Ia sampai terbatuk - batuk karena terkejut mendengar pertanyaan David tadi. David pun segera mengulurkan air mineralnya untuk Rena.
"David, apa - apaan sih!" Pekik Rena saat ia sudah tidak tersedak lagi.
David hanya tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku harus segera menikah denganmu, Rena. Tapi kalau Abangmu masih tidak mengizinkannya juga... ya terpaksa... " ujar David tersenyum penuh arti.
"Aku juga tidak mau menikah denganmu kalau Abang Austin tidak mau mengijinkannya. Karena Abang Austin adalah satu - satunya keluarga yang aku punya.," ujar Rena sambil memandang wajah David.
David benar - benar menghabiskan makanan yang di siapkan oleh Rena untuknya. Karena tidak setiap saat ia bisa menikmati makanan yang di buat Rena seperti dulu, dan ia sangat menyukainya.
Setelah menunggu Rena selesai dengan makanannya, David pun pamit.
"Aku balik dulu ya, Yang. Makasih buat makan siangnya," ujar David kemudian kembali menarik Rena mendekat dan mengecup keningnya.
Rena mengangguk walaupun ia heran dengan David yang kembali lebih cepat dari biasanya.
David segera menaiki kendaraannya dan menelepon Gilang.
"Gilang, segera temui aku di depan PT. DPA." ujar David pada gilang dan langsung mematikan panggilan teleponnya.
Gilang pun segera berangkat ke PT. Dua Pilar Alfaro, sesuai dengan perintah David.
__ADS_1
Ia tidak tahu apa yang David ingin lakukan, tetapi sudah kewajibannya untuk mematuhi semua perintah dari Bosnya itu.
Mereka pun bertemu di Lobby PT. DPA dan Gilang mengikuti David naik ke lantai teratas.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Gilang yang ingin tahu tujuan mereka ke gedung itu. Gilang pun tahu, ini adalah gedung yang di miliki oleh keluarga Alfaro, dan lantai teratas gedung ini adalah ruangan kantor milik Austin Leonard Alfaro, CEO PT. DPA
"Aku hanya ingin kau menjaga, agar tidak ada satu pun orang yang bisa masuk, saat aku sedang berbicara dengan Austin,"
"Baik Pak." jawab Gilang.
Akhirnya mereka pun sampai di lantai teratas gedung itu dan berjalan ke arah ruangan CEO.
Seorang petugas keamanan yang berada di lantai itu dan memandang ke arah mereka. Ia tidak curiga karena penampilan David yang memang terlihat berwibawa dan berkharisma. Ia kemudian menanyakan keperluan mereka dengan sopan.
"Maaf, Bapak ada keperluan apa di lantai ini?" tanya security itu.
"Saya hanya ingin berbicara dengan Austin Leonard Alfaro," ujar David.
" Apa Bapak sudah ada janji?" tanya security yang melihat David dan Gilang tidak memakai tanda pengenal tamu.
"Belum," jawab David tanpa ragu - ragu.
"Maaf kalau Bapak belum..." Security itu belum sempat meneruskan kata - katanya karena Gilang telah memukul tengkuk pria itu hingga ia tidak sadarkan diri. Gilang mendudukkan kursi itu di kursinya dan mereka melanjutkannya berjalan menuju ke arah ruang CEO.
"Apa Pak Austin ada?" tanya David pada sekretaris di depan ruangan CEO.
"Maaf, Bapak ada keperluan apa?" tanya Tya, Sekretaris Austin. Ia heran, seingatnya Austin tidak ada janji temu dengan siapapun pada jam itu dan ia pun merasa heran dengan pria yang ada di depannya karena bisa masuk ke depan ruangan CEO tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu.
Tanpa menjawab pertanyaan Sekretaris itu, David berjalan ke arah pintu ruangan Austin dan langsung membuka pintu tersebut.
Tya berusaha mencegah David untuk masuk; namun Gilang menarik Tya dan menahannya.
"Mbak, sebaiknya anda tunggu di sini," ujar Gilang sambil menyudutkan Tya ke dinding dan memperlihatkan kepada Tya senjata yang ada di balik jasnya itu. Tya pun akhirnya terdiam dan ketakutan di pojokan mejanya.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya