Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Sakit Hati Lagi


__ADS_3

Aku berlari keluar dari gedung mewah ini. Gedung yang mungkin esok tidak bisa lagi kupandang, karena telah menumbuhkan luka yang begitu perih.


***


Aku memilih duduk di stasiun bis sekolah, tempat setiap hariku memandang Sang Lelaki dingin itu. Aku bingung mau pulang bagaimana? Hari sudah semakin larut, udara dingin menjalar ke seluruh tubuh. Aku menggosok-gosok tanganku berusaha menghalau dingin.


"Kenapa kamu meninggalkanku?" ucap seseorang yang sangat familier.


Buatku kaget saja. Aku kira dia tidak akan mencariku. Sepertinya dia akan membatalkan lamarannya malam ini, karena siapa juga yang akan menolak Anuradha? Gadis cantik dan kaya itu.


"Aku tidak pantas berada di sana. Kenapa Tuan datang kemari? Nanti kalau Ibunya Tuan tahu, pasti dia akan marah lagi," ucapku merunduk.


"Aku sudah janji tidak akan meninggalkanmu, bukan? Sepertinya kamu tidak percaya sama calon suami sendiri, ehm!" ucapnya pede.


Seketika rasa sedihku hilang karena melihat Azril begitu lucu. Kadang dingin, kadang juga kelakuannya lebih dari anak-anak. Andaikan kami sudah halal, sudah dari tadi aku memeluk dan memukuli dadanya karena kesal!


"Calon suami? Sepertinya, Tuan batalkan saja lamarannya. Bukannya Tuan sudah dijodohkan sama Anuradha?" ujarku menahan sesak.


"Kamu kenal dia?"


"Ya. Dia teman sekelasku yang setiap hari membulyku!" keluhku. Ops! aku keceplosan.


"Em-m, maksudku dia teman kelasku, yang ... yang melihatku ketika dibully," kilahku.

__ADS_1


Himeka! Memangnya Azril lelaki bodoh! Yang gampang kamu tipu. Terserah lah, memang kenyataannya begitu kan!


"Kamu sering dibully?" tanyanya lalu duduk di sampingku.


"Iya," jawabku menunduk. Menyembunyikan mataku yang mulai berembun.


"Kenapa? Mungkin kamu punya salah?"


"Aku tidak pernah membuat masalah kepada siapa pun. Tapi, mereka selalu membullyku. Mungkin karena aku jelek dan miskin." Tumpahlah air mataku.


Akhirnya tumpahlah sudah air mataku di depan orang lain. Ibu dan Bapakku saja tidak mengetahui bahwa aku sering dibully. Namun, entah kenapa aku menceritakannya kepada Azril.


"Aku juga dulu sering dibully semasa SD. Karena Ayah pekerja kuli bangunan. Sampai SMA pun, aku masih sering dihina. Hingga takdir Tuhan berkata lain, Ayah beranikan diri membuka usaha kecil-kecilan hingga maju dengan pesat sampai sekarang. Dia begitu berusaha sekuat tenaga karena kasihan melihatku terus menangis setiap pulang sekolah." Ya Tuhan! Ternyata Lelaki kaya raya ini punya masa lalu yang buram juga.


"Tapi kamu kuat, ya! Masih bisa tersenyum. Beda dengan aku, saking seringnya dibully dan menangis aku sampai lupa cara untuk tersenyum," ucapnya. Menatap terangnya langit yang dipenuhi bintang.


"Bisa jadi!" jawabnya pelan.


Tidak kusangka Kak Azril mempunyai masa lalu yang suram juga. Namun, dia beruntung bisa sesukses sekarang ini berkat ayahnya atas izin Sang Pemberi Rezeki. Aku menatapnya, tapi seketika aku menunduk karena Kak Azril balik menatapku.


"Kenapa? Aku ganteng banget, ya? Aku tahu, aku tahu itu!" ucapnya pede.


"Hahahahhahaaha!"

__ADS_1


Tawaku meledak sampai kupegangi perut. Ternyata selain ganteng dan juga kaya, dia juga punya sifat kepedean tingkat tinggi! Haahahaha! Aku juga sudah mulai memanggilnya Kak Azril di dalam hatiku.


"Ck! Kenapa kamu ketawa begitu keras? Tidak sopan banget, calon suami sendiri diketawain!" keluhnya melihatku terheran-heran yang ketawa terpingkal-pingkal.


"Tuan, sih! Pede tingkat tinggi banget!" ucapku.


"Tuan?"


"Eh, em-m. Kak Azril maksudnya!" ucapku gelagapan.


"Ayo! Aku antar kamu pulang. Malam sudah semakin larut, tidak baik untuk kesehatanmu," ajak Kak Azril.


Aku berjalan mengekorinya dari belakang, tapi dia memperlambat jalannya hingga sejajar denganku.


Aku kaget ketika dia memakaikanku jas miliknya. Harumnya mengguar ke indera penciuman. Wanginya begitu harum membuat rileks ketika menciumnya.


"Pakailah, biar kamu tidak kedinginan," ujarnya


Aku membuka kembali jasnya, lalu meletakkan ke pundak si empunya. Aku merasa tidak enak, pasti dia juga merasa dingin. Lagian aku juga pakai jilbab, cukup menghalau angin.


"Tidak usah, Kak! Pasti Kakak dingin juga, kan?" ucapku tersenyum.


"Pakailah! Ini perintah calon suamimu!"

__ADS_1


"Baiklah, baiklah!" Aku tidak bisa mengelaknya lagi.


Bersambung.


__ADS_2