Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
David dan Aleta


__ADS_3

Ia sama sekali tidak takut menghadapi Malvin. Malvin harus tahu jika Mira pantas mendapatkan itu. bukannya menyalahkan orang lain atas perbuatan yang ia lakukan.


Kedua pria itu saling pandang.


Malvin tidak suka dengan nada bicara dari David, tetapi ia masih memikirkan kerja sama mereka yang baru di rintis dan ia tidak ingin bertindak gegabah. Ia sadar memang Mira yang memulai peristiwa itu terlebih dahulu.


"Baiklah, mari kita lupakan saja peristiwa itu. Aku harap kedepannya kita tidak terlalu emosional menanggapi perseturuan pasangan kita masing - masing," ujar Malvin akhirnya. Ia mengalahkan egonya untuk kelanjutan kerjasamanya dengan perusahaan David.


"Aku tidak masalah asalkan kalian berdua tidak menyentuh calon Istriku dan tidak menganggu hubunganku dengannya. Aku tegaskan sekali lagi pada kamu Malvin. Aku tidak akan segan - segan melakukan apapun yang perlu aku lalukan jika ada yang berani menyentuh dan mengusik calon istriku!" Ujar David memberikan ultimatum.


"David, ternyata kau luar biasa sentimentil! Aku jadi ingin tahu siapa calon istrimu itu. Dia pasti seseorang yang sangat istimewa bagimu," ujar Malvin yang terkejut melihat sikap sangat protektif Alexander David Mahendra terhadap calon istrinya itu.


Malvin memang tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang ada di layar CCTV yang di lihatnya tadi pagi. Tetapi melihat sikap David, ia mengira pastilah wanita itu sangat cantik dan menarik hingga membuat seorang Alexander David Mahendra yang terkenal dingin pada wanita sampai bertekuk lutut di hadapannya.


Siapa sebenarnya wanita itu? Dan secantik apa dia? Malvin telah bertemu dan berkencan dengan banyak wanita di kota itu, apakah ia pernah bertemu atau berkencan dengannya sebelumnya? Sepertinya mustahil jika ada seorang wanita yang teramat cantik, belum pernah ia temui di kota itu. Bahkan artis - artis cantik terkenal di kota itu pun pernah menghangatkan ranjangnya. Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa ia belum pernah mendengar sama sekali mengenai hubungan mereka berdua? Apakah hubungan mereka di rahasiakan? Malvin menjadi sangat penasaran.


David hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Malvin. Sekarang ia sangat yakin, bahwa Malvin belum tahu jika kekasihnya adalah Renatta Azaria.


"Kau akan mengetahuinya nanti," ujar David.


"Kalau tidak ada hal lain, aku harus pergi," ujar David sambil melihat jam tangannya.


"Ya, tentu saja. Aku harap masalah kita sudah beres," ujar Malvin.


"Untuk saat ini." jawab David. Kemudian ia beranjak dan berjalan keluar dari ruang pertemuannya. Alvin kemudian mengikuti David berjalan ke luar Club House dan memasuki mobil mereka.


Malvin memanggil Darwin masuk ke dalam ruangan tempat pertemuannya dengan David.


"Darwin, apa kau tahu siapa wanita calon istri dari Alexander David Mahendra itu?" tanya Malvin. Ia masih sangat penasaran dengan wanita yang telah menaklukan hati Alexander David Mahendra.


"Tidak Pak. Saya belum pernah mendengar kabar mengenai hubungan mereka sebelumnya. Mereka sepertinya merahasiakannya dari publik," jawab Darwin.


"Coba kau tanya pada Arka, jika ia tahu identitas wanita itu!" Perintah Malvin


"Baik Pak. Akan saya tanyakan," jawab Darwin.


******


Selepas menemui Malvin, David berencana pergi ke Apartemen Rena untuk makan malam bersamanya, saat Jefri meneleponnya.


"Ada apa Jefri?"


"Ibu Aleta ada di rumah ingin menemui Bapak," ujar Jefri.


Ada apa Aleta datang kerumah malam - malam begini?


"Bilang padanya aku masih di luar Jefri. Suruh dia datang lain waktu saja," ujar David.


"Saya sudah mengatakan seperti itu Pak, tetapi Ibu Aleta memaksa menunggu Bapak. Dia tidak mau pergi!" Ujar Jefri.

__ADS_1


"Jefri, katakan saja aku tidak pulang malam ini," ujar David dengan kesal. Tidak seperti biasanya Jefri tidak bisa menyelesaikan masalah mudah seperti itu.


"Bu Aleta kembalikan...." terdengar suara Jefri yang memanggil - manggil Aleta.


"David, aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan kamu!" Ujar Aleta melalui panggilan teleponnya dengan Jefri. Rupanya Aleta mengambil telepon genggam Jefri dan berbicara dengab David.


"Aleta, apa - apaan ini? Apa yang kamu lakukan?" tanya David heran dengan kelakuan Aleta.


"David, aku harus bertemu denganmu...." ucap Aleta dengan tersedu, ia memohon pada David agar mau menemuinya.


"Aku tidak bisa. Aku ada janji dengan Rena," ucap David.


"Kau pulanglah Aleta, Varell pasti menunggumu," tambah David.


"David, tolonglah.... kali ini saja. Aku harus bertemu denganmu," ucap Aleta kembali memohon.


Aleta menangis dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. David pun sampai kehilangan kata - kata.


"Baiklah Aleta aku akan menemuimu. Tapi setelah ini jangan pernah temui aku lagi," ujar David lalu menutup percakapan teleponnya.


"Eddy, kita pulang kerumah, perintah David pada Eddy dan Eddy pun memutar arah menuju rumah David.


David mendial nomor telepon Rena.


"Halo," terdengar suara Rena menjawab teleponnya.


"Sudah, kamu dimana?" tanya Rena.


"Aku... mendadak ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan di rumah. Sepertinya aku tidak bisa ke tempatmu," ujar David.


Rena belum berkomentar apa - apa. Namun, David tahu Rena pasti sangat kecewa. Dan David tidak ingin mengecewakan pacarnya itu.


"Tapi aku ingin makan masakanmu hari ini. Bagaimana kalau kamu ke rumah dengan Gilang dan kita makan di rumah," ujar David.


"Maksudmu aku bawa makanan ini ke rumahmu? Bukankah di rumahmu ada chef Sandy?" ujar Rena.


"Ya, memang ada Sandy. Tapi aku mau makan masakanmu. Aku akan telepon Gilang sekarang untuk menjemputmu," ujar David.


"Oke, aku akan bersiap - siap," jawab Rena.


Tak lama sampailah David di rumah. Jefri segera membuka pintu begitu melihat mobil Bosnya itu mendekati teras depan.


"Dimana dia?" tanya David.


"Ibu Aleta menunggu di ruang baca Pak," jawab Jefri.


Ruang baca yang di maksud Jefri adalah sebuah ruangan perpustakaan kecil di rumah David yang terletak di lantai dasar rumah itu, tidak terlalu jauh dari ruang GYM.


David pun segera berjalan ke arah ruang baca.

__ADS_1


"David!" Panggil Aleta saat melihat David masuk ke dalam ruangan itu dan Aleta langsung memeluknya.


"Aleta, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya David sambil melepaskan pelukkan Aleta.


"David, sabarlah. Minum dulu yah." ujar Aleta sambil berjalan ke arah meja bar kecil yang ada di ruangan itu dan mengambil sebuah minuman kaleng dan memberikannya kepada David.


"Aku baru saja minum. Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya cukup waktu," ujar David dengan kesal. Ia tidak mengambil minuman yang di sodorkan oleh Aleta kepadanya dan ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Aleta. Ia yakin Rena akan segera tiba.


"David... aku...aku... ingin bercerai dari Varell," ujar Aleta sambil menatap ke lantai.


David memandang Aleta yang saat itu tampak sangat gundah.


"Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?" tanya David.


David merasa Aleta adalah masa lalunya dan apa pun yang terjadi di antara Aleta dengan Varell tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya.


"Karena aku... aku masih mencintaimu David," ujar Aleta sambil mendekati David.


"Dengar Aleta, hubungan kita sudah berakhir sejak lama dan kamu sudah menikah dengan Varell, tidak seharusnya kamu mengatakan hal seperti itu!" Ujar David menyadarkan Aleta akan hubungan mereka saat ini.


"Tapi aku tidak mencintainya David!" Ujar Aleta sambil memegang lengan David. Air mata membasahi pipinya.


"Aleta, aku tidak perduli perasaanmu padanya saat ini, sebaiknya kau segera selesaikan masalahmu dengan Varell," ujar David sambil melepas tangan Aleta yang memegang lengannya.


"Tapi David. Aku tidak bisa berpura - pura untuk mencintainya, di saat aku masih sangat mencintai kamu," ujar Aleta.


"Aleta, apa kamu lupa? Kamu dulu yang telah mengkhianati aku dan lebih memilih bersama dia. Dan kamu bahkan hamil anaknya! Jadi lupakan saja Aleta. Aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun padamu saat ini!" Ujar David sambil berjalan menjauhi Aleta.


"David... David..." panggil Aleta mengejar David.


"Aku akan segera bercerai dengan Varell dan kita bisa bersama lagi!" Ujar Aleta sambil menahan David dari berjalan meninggalkannya.


"Aleta kamu harus ingat! Kamu sudah punya anak dari Varell!" Ujar David dengan keras.


Aleta terdiam.


"Pulanglah, Varell dan anakmu pasti sudah menunggumu," ujar David dengan pelan. Ia merasa iba melihat wajah Aleta.


David sedang berjalan ke arah pintu saat Aleta berkata, "Dia anakmu!"


Prak!


David dan Aleta menoleh ke arah pintu dan melihat sekelebat bayangan seseorang di depan pintu.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2