Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Cocok Jadi Istri


__ADS_3

Walaupun Rena menganggap hal yang di lakukan David menggelikan tetapi ia tidak protes dan tidak keberatan mereka berdua makan bersama dengan Alvin, juru masak dan Jefri.


Tak lama Alvin, Jefri dan juru masak yang di temui Rena di dapur tadi datang menghadap.


"Bapak memanggil kami?"


"Oh ya. Duduklah kalian harus mencoba mie goreng buatan Rena," ujar David dengan tersenyum, namun memandang penuh arti dengan karyawannya itu.


Jefri dan Juru masak tampak heran dengan sikap Bosnya yang tidak pernah menyuruh mereka untuk makan bersama di meja makan. Namun, mereka segera menyadari maksud dari tatapan Bosnya itu.


"Baik Pak," jawab mereka hampir bersamaan.


"Jefri, tolong ambilkan mie gorengnya," ujar David.


"Untukmu juga Jefri!" Tambah David.


Jefri segera mengerjakan perintah dari Bosnya, dan menaruh mie goreng di depan dirinya, Alvin dan juga sang koki.


"Ayo segera di makan," ujar David untuk meminta mereka memakan mie buatan Rena.


Mereka pun mulai memakan mie goreng buatan Rena.


"Menurut kalian bagaimana rasanya?" tanya David sambil menikmati makanan mie goreng buatan Rena. David terlihat lahap memakan mie goreng itu.


"Saya suka Mbak, rasanya pas!" Puji Jefri sambil menyendokkan mie gorengnya.


"Sandy, bagaimana menurutmu? Kau kan yang paling ahli memasak di sini," tanya David pada Sandy sang juru masak yang ada di rumahnya.


Sandy menatap David sebelum ia menjawab.


"Mbak Rena ini memang pandai memasak, Pak. Saya sangat suka masakannya. Enak. Delicious," ujar Sandy sambil menyatukan jari telunjuk dan Ibu jarinya membentuk gesture oke.


"Terima kasih Jefri, Sandy," ucap Rena sambil tersenyum.


"Kalau kamu Alvin, menurutmu rasanya bagaimana?" tanya David pada asistennya itu.


"Makanan Mbak Rena benar - benar enak, Pak," puji Alvin.


"Terima kasih Alvin," ujar Rena sambil tersenyum.


"Sepertinya Mbak Rena sudah cocok untuk berumah tangga, tambah Alvin memuji.


"Ah, Pak Alvin bisa saja," ujar Rena sambil tersipu.


"Bener Mbak, sudah cocok jadi Istri Pak David," ujar Alvin makin berani berkomentar.


"Betul itu!" Seru Jefri yang menyetujui ucapan Alvin. Hanya Sandy yang diam, karena ia tidak tahu apa - apa.


David dan Rena pun saling pandang sesaat, namun Rena segera menunduk wajahnya semakin memerah karena malu.


Melihat itu, Jefri, Sandy dan Alvin segera menghabiskan makanan mereka.


"Pak, saya sudah selesai makan kalau boleh saya permisi ke dapur dulu," ujar Sandy yang merasa tidak enak berlama - lama di meja makan itu.


"Saya juga Pak, mau mengerjakan tugas yang Bapak suruh,"ujar Alvin mengikuti jejak Sandy.


"Saya juga Pak, mau ke teras belakang dulu, untuk mengecek pekerjaan tukang kebun." ujar Jefri ikut - ikutan.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau kalian sudah selesai makan, kalian boleh pergi," ujar David.


"Baik Pak," ujar Alvin, Jefri dan Sandy bersama - sama.


"Bagaimana? Kamu sudah percaya sekarang?" tanya David saat mereka sudah pergi.


"Percaya apa?" tanya Rena dengan gugup.


"Kalau masakan kamu itu paling enak," ujar David sambil tertawa kecil.


"Memang apa yang ada di pikiran gadis ini?" batin David.


"Oh iya... maksudku tidak terlalu," jawab Rena mengoreksi jawabannya.


David mengerutkan dahi.


"Maksudku... Tidak. Pasti mereka berkata seperti itu karena mereka itu bekerja padamu," jawab Rena jujur.


"Terserah kalau kamu tidak percaya, tapi kamu lihat sendiri kan kalau mereka sendiri yang berkata seperti itu,"


"Dan yang pasti, buat aku, masakanmu yang paling enak," ujar David sambil menghabiskan mie goreng yang ada di piringnya.


Rena tersenyum mendengar pengakuan David.


"Kadang - kadang si songong ini bisa sweet juga," ucap Rena dalam batin.


"Kamu setuju apa yang di katakan Alvin tadi?" tiba - tiba David bertanya sambil bertanya mengerlingkan matanya.


"Yang mana maksudnya?" tanya Rena berpura - pura tidak tahu maksud David dan hendak beranjak dari kursinya.


David menahan tangan Rena dan berkata, "Kalau kamu sudah cocok jadi Istriku,"


David tersenyum geli melihat Rena yang salah tingkah.


"Tinggalkan. Nanti ada yang membereskan. Sekarang ikut aku!" Ajak David sambil meraih tangan Rena.


Rena pun mengikuti langkah David melewati ruang keluarga menuju pintu di samping rumah.


"Kita mau kemana? Ini sudah malam, dan aku mau pulang?" tanya Rena sambil memandang halaman rumah David yang sangat luas. Rena tidak tahu berapa hektar tanah yang mengelilingi rumah David. Terasa di padang golf dan semua tanaman tertata rapi.


"Kira - kira berapa tukang kebun yang di miliki oleh David?" batin Rena berdecak kagum.


"Berjalan - jalan saja. Langit cerah dan udaranya juga sejuk. Sudah lama aku tidak berjalan - jalan di sini. Apa kamu lelah?" tanya David sambil menoleh ke arah Rena.


"Belum," jawab Rena sambil menyengir.


"Sekarang mungkin belum, tapi nanti siapa yang tahu?" batin Rena sambil melihat hamparan rumput luas di depannya.


"Rumahmu luas sekali, padahal kamu hanya tinggal hanya seorang diri," ujar Rena.


"Tidak selamanya aku tinggal sendiri Rena. Nanti kan ada kamu," jawab David sambil tak lupa menggoda Rena.


"Pak David jangan suka menggoda saya!" Ujar Rena dengan wajah kesal, kemudian menoleh ke arah lain. Rena merasa wajahnya menjadi hangat.


"Kapan kamu akan berhenti memanggilku Pak? Sudah kubilang kamu ini, pacarku sayang," ujar David sambil berhenti melangkah.


"Apa perlu keberikan hukuman lagi untukmu?" tambah David sambil mengerling nakal.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku hanya lupa, karena kamu kan masih Bosku di kantor," ujar Rena sambil menatap sepatu slip onnya yang menginjak rumput.


"Kalau kamu mau berhenti bekerja aku tidak akan menahanmu," ujar David sambil menunduk dan mensejajarkan kepalanya dengan Rena.


"Memangnya boleh?" tanya Rena sambil mengangkat wajahnya menatap wajah David, ragu dengan perkataan David.


"Boleh, asalkan kamu mau jadi Istriku," ujar David sambil memasang wajah yang serius.


Wajah Rena memerah seketika.


"Kamu ini!" Gerutu Rena kesal dan langsung berjalan meninggalkan David.


"Orang ini selalu saja menggodaku!" Umpat Rena dalam hati.


David tertawa melihat tingkah Rena.


"Yang, jangan ngambek dong, aku hanya menggodamu," ujar David sambil mensejajarkan langkah dengan Rena dan merangkul pundaknya.


"Aku mau pulang," ujar Rena.


"Malam ini kamu menginap di sini ya, aku punya kejutan untukmu besok pagi," ujar David.


"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Rena ingin tahu.


"Namanya juga kejutan, kalau aku beri tahu namanya bukan kejutan lagi dong!" Jawab David sambil mengucel - ngucel rambut Rena dengan gemas.


Rena merengut karena David tidak mau memberitahunya kejutan itu.


Mereka berjalan memutari halaman rumah David dan bertemu dengan penjaga yang sedang berpatroli saat mereka hendak kembali ke rumah.


Tiba - tiba Rena teringat kejadian tadi siang dan ia pun menanyakannya.


"Yang, tadi siang ada apa?" tanya Rena mencoba bertanya balik.


"Tadi siang?" tanya David sambil mengerutkan dahinya. Ia lupa kejadian tadi siang karena hatinya sedang senang.


"Tadi siang waktu di PT. HUBB, saat kamu bertemu dengan Abian," ujar Rena mengingatkan David.


Wajah David langsung berubah mengingat kejadian itu.


"Sudahlah Ren, aku tidak ingin membicarakannya," ujar David sambil melihat ke lain arah.


Rena menghela nafas, namun ia tidak ingin memaksa David.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingin bicara. Aku mau balik saja, aku mau isrirahat," ujar Rena sambil tersenyum. Kemudian mempercepat langkahnya kembali ke rumah.


Di depan kamar Rena, David menghentikan langkahnya dan menahan tangan Rena.


"Aku belum bisa menceritakannya sekarang. Mungkin nanti," ujar David tiba - tiba dengan wajah yang serius.


Rena mengangguk, kemudian berkata, "Semua orang punya rahasia. Walaupun aku ingin tahu, tapi aku mengerti,"


Rena kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara David menarik nafas berat, kemudian naik di kamarnya ke lantai dua.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2