
Walaupun ia sudah menjadi pacarnya. Rena masih sering kesal dengan kelakuan Alexander David Mahendra yang sering memanfaatkan kelengahannya.
"Aku seneng banget, Na. Kamu akhirnya balik lagi ke Tim Marketing. Mulai sekarang kamu jadi rekan aku ya, nanti aku bilang ke Bu Zelda. Dia sudah masuk hari ini!" Ujar Gita dengan semangat.
"Oke Git, aku juga seneng banget kerja bareng sama kamu!" Jawab Rena dengan antusias.
Mereka pun sampai di lantai 30 di Divisi Marketing sudah ramai oleh karyawan karena memang sudah waktunya bekerja. Sebagian dari mereka memandang Rena dan ada pula yang berbisik - bisik. Rena berusaha mengacuhkan dan tersenyum pada mereka.
"Ayo Na, cuekin aja!" Ujar Gita sambil menarik Rena ke ruangan kubikus mereka.
Rena mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan melihat miscall dari David dan Alvian hingga belasan kali. Ia pun menepuk jidatnya, lupa untuk menelfon David kembali dalam perjalanannya menuju kantor.
"Git, aku ke toilet dulu ya," ujar Rena sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet.
Di dalam toilet Rena langsung mengunci pintu dan menelefon David.
Rena sangat yakin David akan memarahinya.
"Adrena Clarissa Putri, kemana saja kamu? Kenapa tidak mengangkat telepon saya! Saya sudah menelpon kamu ratusan kali! Apa kamu mencoba menghindari saya?" suara David menggelegar dari telepon Rena, sampai - sampai Rena menjauhkan handphonenya itu dari telinganya.
Ah, si songong ini mulai lagi! Gerutu Rena.
Rena pun tahu, ia harus merayu David dan membuatnya berhenti memarahinya.
Rena sebenarnya tidak terbiasa merayu laki - laki, namun mau tidak mau Rena harus lakukan hari ini.
"Yang, udah dong jangan marah," ucap Rena dengan lembut.
"Aku minta maaf ya, tadi aku lagi ada di jalan. Kamu tahu kan aku naik motor, mana bisa aku angkat telepon dari kamu," ujar Rena beralasan.
Sebenarnya motor Rena masih ada di parkiran kantor sudah berhari - hari sejak ia pingsan di kantor, dan belum sempat membawanya pulang. Tetapi David tidak tahu hal itu kan?
David yang mendengar alasan Rena pun mulai mereda amarahnya. David benar - benar lupa bahwa Rena benar - benar tidak memiliki mobil. Dan ia percaya alasan Rena.
"Sayang, kamu masih naik motor?" tanya David dengan khawatir. Ia teringat saat Rena menabrak mobilnya dengan motor lebih dari seminggu yang lalu. Walaupun ia merasa sangat bersyukur ada kejadian itu yang menyebabkan ia bisa mengenal Rena, tetapi ia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.
"Iya, tapi aku nggak apa - apa kok Yang. Kamu ada apa telepon aku?" tanya Rena setelah merasa kemarahan David mereda.
"Aku hanya ingin dengar suara kamu," ujar David yang tampak malu - malu mengucapkannya meskipun ada Alvin yang duduk di dalam mobil di sampingnya dan Eddy yang mengendarai mobilnya. Kedua orang ini sangat di percaya dan tidak akan membocorkan rahasia pribadinya.
Saat itu David sedang dalam perjalanan untuk meeting dengan rekan bisnisnya. Seandainya ia tidak ada meeting pagi itu,sudah pasti ia akan menemui Rena.
David tidak mengerti kenapa ia tidak bisa tidak mendengar suara Rena, ataupun tidak melihatnya sehari saja.Padahal baru tadi malam mereka berpisah.
Alvin yang mendengar percakapan bosnya hanya bisa menahan senyum geli.
__ADS_1
"Bos David bucin," batin Alvin sambil menahan tawanya.
Alvin sudah bekerja pada David sejak David mengembangkan bisnisnya di kota B, 7 tahun yang lalu. Dan ia tidak pernah melihat Bosnya itu begitu perhatian dan protektif pada seorang wanita, sebanyak apa pun wanita yang sudah menggodanya. Bahkan pada Aleta cinta pertamanya, yang diam - diam selalu menaruh perhatian pada David sekalipun, ia tidak menggubrisnya.
Di seberang telefon Rena mendengar jawaban David pun menjadi merona, menggigit bibir bawahnya dan merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Nanti siang aku jemput, kita makan siang bersama," ujar David yang berharap bisa bertemu dengan Rena.
"Jangan Pak! Eh Yang, nanti orang yang melihat akan bertanya - tanya," ujar Rena.
"Kalau begitu, kamu temui aku di kantorku, Rena!" Ujar David yang tidak suka penolakan. Ia sangat ingin bertemu dengan Rena.
Kalau sudah mendengar nada bicara David yang seperti ini, Rena tidak bisa membantah, kalau tidak pasti David akan memarahinya lagi.
"Aku tunggu sampai jam 12 siang. Kalau sampai jam 12 siang kamu belum datang, aku akan turun langsung menjemputmu!" Ujar David tersenyum licik.
"Ya sudah!" Jawab Rena merasa tidak ada pilihan lain.
"Aku kerja dulu!" Ujar Rena kemudian menutup percakapan teleponnya.
Rena kesal sekali dengan David yamg selalu memaksakan kehendaknya. Saking kesalnya ia mengganti nama David di daftar nomor kontak handphonenya menjadi Si Songong.
Menyebalkan sekali!" Gerutu Rena.
"Woow, lihat ada Tuan Putri di sini!" Seru Manda menyindirnya.
Rena mengacuhkannya dan mencuci tangannya di wastafel.
"Gimana rasanya jadi orang buangan? Pak David sudah tidak membutuhkanmu lagi?" tanya Manda dengan nada sirik.
"Maksudnya apa?" batin Rena.
"Manda maksud kamu apa?" tanya Rena dengan kesal.
"Semua orang juga tahu, Rena! Kamu sengaja menggoda Pak David! Tapi lihat, sehari saja kamu sudah jadi upik abu lagi!" Ujar Manda sambil tertawa.
Rena menghela napas mendengar ucapan Manda.
"Rena kamu tahu, mungkin Pak David tidak puas dengan servicemu, atau kamu kurang pandai menghangatkan ranjangnya?" tanya Manda dengan nada yang merendahkan.
Apa? Seumur - umur Rena belum pernah di rendahkan seperti itu!
__ADS_1
Ia sangat marah pada Manda. Tangan Rena sudah mengepal saat tiba - tiba Gita datang dan mendorong Manda ke tembok.
"Apa - apaan kamu Manda! Ucapan kamu itu sudah sangat kurang ajar!" Ujar Gita yang juga emosi mendengar perkataan Manda.
Manda tertawa.
"Lihat, satu lagi upik abu yang bodoh!" Ujar Manda.
"Awas kalau sampai kamu berbicara seperti itu lagi, akan aku laporkan!" Ancam Gita.
"Ayo Na, kita pergi! Nggak ada gunanya kita berbicara dengan orang yang tidak tahu malu ini!" Ujar Gita sambil menarik Rena keluar dari tolilet.
Rena mengikuti Gita keluar dari toilet.
"Na, kamu nggak apa - apa?" tanya Gita setelah ia duduk di kursinya.
Rena terdiam. Apa itu yang ada di pikiran teman - teman kantornya? Bahwa ia menggoda David?
"Kamu jangan pikirkan apa yang Manda katakan, ia hanya iri padamu!" Ujar Gita menenangkan Rena.
Rena sudah agak tenang pun tersenyum dan mengangguk pada teman kerjanya yang sangat baik padanya.
"Terima kasih Gita," ujar Rena merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Gita.
Gita mengangguk dan tersenyum.
"Aku sebenarnya di suruh Bu Zelda, untuk mencari kamu, katanya ada yang ia ingin bicarakan denganmu," ujar Gita.
"Dan aku sudah berbicara dengan Ibu Zelda untuk meminta kamu jadi rekanku, mudah - mudahan saja Bu Zelda menyetujui!" Tambah Gita lagi.
"Kalau kamu sudah tenang lebih baik kamu keruangan Ibu Zelda saja," ujar Gita lagi.
"Oke, aku tinggal dulu ya, Git." ujar Rena lalu berjalan menuju kantor Ibu Zelda, Manager Marketing.
Rena mengetuk pintu kantor Ibu Zelda.
"Masuk," terdengar suara Ibu Zelda dari dalam ruangan itu.
Rena pun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu.
"Ibu memanggil saya?" tanya Rena saat ia sudah berhadapan dengan Ibu Zelda.
"Iya Ren, silahkan duduk," ujar Zelda sambil tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.