Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Reservasi Restoran


__ADS_3

"Oh, iya Ren. Terima kasih ya, untuk makan siang hari ini, lezat sekali," ujar David teringat masakan Rena yang ia makan tadi siang.


"Iya Yang, maaf aku tidak bisa menemui makan," ujar Rena.


"Kamu kemana aja hari ini?" tanya David sekedar ingin tahu kemana Austin membawa Rena.


"Abang mengajakku makan siang, setelah itu ke perusahaan Abang," jawab Rena.


"PT. DPA?" tanya David.


Rena mengangguk.


"Abang Austin juga meminta aku untuk ikut membantunya menjalankan perusahaan itu," ujar Rena menceritakan apa yang terjadi tadi siang dan David mendengarkan.


"Menurutku bagus, kalau kamu mau mau membantu Austin untuk mengelola perusahaan itu. Kamu bisa belajar banyak dari Kakakmu. Dan bukankah kamu memang ingin mengelolanya?"


"Aku tahu kamu bisa, Ren. Bu Zelda saja sudah mengatakan bahwa kamu itu sangat pandai menjalankan projek - projekmu," puji David sekalian memberi semangat pada Rena.


"Menurutmu begitu?" tanya Rena masih ragu.


"Ya, dan lagi setelah semua orang tahu kamu adalah calon istriku, kamu pasti tidak akan mau bekerja lagi padaku," goda David.


"David? Apa kamu sudah mengumumkan hubungan kita?" tanya Rena dengan gugup.


David tertawa melihat ekspresi panik Rena.


"Tidak sayang, BELUM." ujar David menekankan kata belum.


"Tapi pasti aku akan mengumumkannya. Aku hanya menunggu restu dari Abangmu," ujar David dengan sangat percaya diri sambil mengedipkan sebelah mata.


Hasyiiim!


Tiba - tiba David bersin dan Rena baru teringat jika David belum berganti pakaian dan masih berada di dalam mobilnya.


"Yang, kamu masih di mobil?" tanya Rena dengan nada khawatir.


"Iya, aku belum sampai rumah. Aku masih berhenti di pinggir jalan," jawab David sambil meyeka hidungnya dengan tisu.


"Cepat pulang, Yang. Lalu mandi dengan air hangat. Minta Jefri untuk buatkan jahe hangat untukmu!" Ucap Rena khawatir.


"Baik sayangku. Aku pulang dulu ya, nanti aku telepon lagi," ujar David sambil tersenyum.


"Hati - hati di jalan," ucap Rena.


"Yang...," panggil David saat Rena akan memutus vidio call mereka.


"Ya?"

__ADS_1


"I love you," ucap David sambil menatap layar handphonenya.


"Ren," tiba - tiba suara Austin memanggil Rena dari luar kamarnya. Ia mengetuk beberapa kali pintu Rena karena Rena menguncinya.


"Yang, udah dulu ya. Ada Abang Austin," ujar Rena lalu mematikan vidio callnya.


"Ya Bang, sebentar!" Teriak Rena menjawab panggilan dari Austin.


Rena berpikir sebentar, sebelum ia mengetik sesuatu, kemudian menyembunyikan telefonnya di bawah tumpukkan handuk bersih di rak kamar mandi. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan menemui Austin di depan kamarnya.


David yang masih di dalam mobil mendapat sebuah pesan masuk dari Rena.


Cepat pulang ya, Yang. Hati - hati di jalan. Iove you too...


"YES!!" Teriak David dengan kerasnya. Begitu bahagian David sampai ia mengecup berkali - kali layar handphonenya yang menampilkan wajah Rena.


Hatchiiiim!


...*******...


Rena memutuskan untuk membantu Kakaknya di perusahana PT. Dua Pilar Alfaro. Sudah empat hari Rena ikut Kakaknya itu bekerja di sana. Austin berencana menyerahkan PT. Alfaro Semesta, anak perusahaan PT. DPA untuk di pimpin oleh Rena jika Rena telah siap.


Rena pun mengikuti kegiatan Kakaknya, mempelajari hal - hal penting dalam memimpim perusahaan, mengikuti Austin meeting dengan beberapa kliennya.


Walaupun sekarang ia tidak bisa bertemu dengan David karena kesibukannya dengan Austin, namun ia masih sempat berkomunikasi dengan David melalui pesawat telefon setiap malam.


David pun selalu mencari akal agar bisa berjumpa dengan Rena.


"Sudah Pak, segala sesuatunya sudah di siapkan," jawab Alvin.


"Bagus Alvin, karena saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rena," ujar David sambil tersenyum.


"Pak, untuk aset baru Bapak sudah di setujui. Saya tinggal mengajukannya hari ini. Untuk namanya apa Bapak sudah pikirkan?" tanya Alvin.


"Nama ya?" gumam David sambil memikirkan suatu nama sambil mengetuk - ngetukkan jarinya di dagunya.


David menuliskan sesuatu pada selembar kertas note di mejanya kemudian memberikannya pada Alvin. Alvin menerima kertas tersebut dan membacanya.


"Bapak Yakin?" tanya Alvin sambil mengerutkan keningnya.


"Ya!" Jawab David yakin tanpa ragu.


Alvin pun mengangguk dan menyelipkan kertas itu di mapnya.


Sementara Austin menerima Bastian di kantornya.


"Apa yang kau dapat Bastian?" tanya Austin pada Bastian.

__ADS_1


Bastian memberikan sebuah berkas map kepada Austin, dan Austin pun langsung membukanya.


"Ini riwayat dari Alexander David Mahendra, keluarga dan usaha - usaha yang telah di rintisnya," ujar Bastian.


Austin membaca berkas keluarga, David yang di lahirkan 30 tahun dari pasangan Devan Mahendra dan Andini Rosalina yang sekarang telah berganti nama menjadi Andini Syahlendra.


Tunggu, Andini Syahlendra? Bukankah ia....?"


"Andini Syahlendra Direktur PT. HUBB?" tanya Austin hampir seperti pernyataan.


"Iya Pak. Ibu Andini Syahlendra adalah ibu kandung dari Alexander David Mahendra, namun sudah menikah kembali dengan Arya Syahlendra setelah Devan Mahendra meninggal dunia, terang Bastian. Austin pun mengangguk.


"Bagaimana dengan orang terdekatnya? Maksudku saya, wanita, pacar, kekasih?" tanya Austin.


"Tidak terlalu banyak berita mengenai hubungan Alexander David Mahendra dengan wanita, yang banyak di ketahui orang adalah hubungannya dengan Aleta Devanka, artis sekaligus pemeran utama dalam beberapa film yang di sponsori oleh Mahendra Enterprise," lapor Bastian.


"Apakah mereka masih berhubungan sampai saat ini?" tanya Austin ingin tahu.


"Hubungan mereka di ketahui telah putus sejak 7 tahun yang lalu. Aleta Devanka sudah menikah dengan Varrel Rahardian dan memiliki seorang anak bernama Farhan Rahardian. Akan tetapi dari berita yang saya dengar, baru - baru ini Alexander David Mahendra melakukan Tes DNA atas dirinya dengan anak itu," terang Bastian.


"Apa maksudmu anak itu adalah anak biologis David?" tanya Austin dengan terkejut.


"Saya belum bisa memastikan, karena hasil tes DNAnya belum keluar, Pak." ujar Bastian.


David, ternyata kamu memang suka bermain dengan wanita, pikir Austin sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya.


Bagaimana jika Rena mengetahui hal ini? Apakah dia akan bisa menerima David dan masih yakin dengannya?


Tiba - tiba pintu ruangan kantor Austin di ketuk dan wajah Rena menyembul dari sela - sela pintu kantor.


"Abang, apa udah siap untuk undangan makan siang kita?" tanya Rena dengan tersenyum.


"Ya Ren, Abang siap - siap dulu. Apa kamu sudah siap?" tanyanya pada Rena sambil menutup berkas Alexander David Mahendra di tangannya.


"Sudah Bang," jawab Rena sambil melangkah masuk ke dalam ruang kantor Austin.


"Pagi Mbak Rena," sapa Bastian saat Rena melewatinya.


"Pagi Bastian. Apa aku menganggu?" tanya Rena saat menyadari Kakaknya sedang berbicara dengan Bastian.


"Tidak, Abang sudah selesai bicara dengan Bastian," ujar Austin sambil memasukkan berkas di tangannya ke dalam laci mejanya.


"Ayo kita berangkat." ajak Austin kepada Rena sambil beranjak dari kursinya.


"Bastian tolong panggil Deni untuk berangkat sekarang," ujar Austin sambil berjalan merangkul adiknya dan berjalan keluar kantor.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2