
Hari ini kok, rasanya aneh ... antara senang dan takut. Tapi aku bingung, yang aku harus senengin dan takutin apa? Mungkin karena cuaca hari ini panas kali, ya? ... .
"Himai! Buka pintunya, Nak!" Terdengar ketukan lembut di pintu dan segera membukanya.
"Ya, Bu! Bentar."
"Himai, duduk di sini, Nak!" perintahnya setelah masuk kamar dan menepuk kasur bagian kanan tempat Ibu duduk.
Tumben Ibu kelihatan seserius ini. Ada apa, ya? Apa aku melakukan kesalahan di sekolah? Sama tetangga? Atau ... tidak, tidak aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun hari ini. Lalu kenapa?
"Gini, Nak. Apa kamu sudah merasa dewasa?" tanya Ibu memulai pembicaraan.
"Apa sih, Bu. Aneh banget deh."
"Himai! Ibu serius. Apa kamu sudah siap bila ada seseorang ingin menikahimu?" Tak pernah Ibu seserius ini dan terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Siap? ... kalau aku sih, insya Allah sudah siap. Tapi kan, Ibu tahu kalau himai ini nggak tahu masak. Kalau nikah, himai mau masak apa untuk suami? Lagian ... ."
"Lagian ... tidak ada juga yang mau sama himai yang burik ini, Bu. Sudahlah, Bu, himai mau bersama Ibu dan Bapak selalu, ingin membahagiakan Ibu dan Bapak," ujarku sambil memeluk Ibu.
__ADS_1
Ibu mengusap lembut pundakku. Sepertinya Ibu menangis, pundaknya naik turun. Ibu kenapa sih? Aneh banget.
Kulepas pelukanku dan bertanya kepada Ibu, "Ibu kenapa nangis? Ibu malu ya, punya anak yang jelek seperti himai?"
Kuusap kasar pipihku, menghilangkan buliran bening yang mulai menetes. Kenapa takdir sekejam ini? Karena wajah ini aku selalu saja dihina. Kenapa Tuhan? Kenapa! Air mataku semakin deras mengalir.
"Istighfar, Nak! Wajahmu adalah pemberian Tuhan yang sangat indah untuk ibu dan Bapak. Kamu sangat cantik. Segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita, kita syukuri!" Ibu berbicara sedikit meninggi.
"Himai ingat kan, ceramah Ustadz Dzul di masjid kemarin?"
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya ;
QS. Ibrahim 14:7
"Iya, Bu. Aku ingat," jawabku menunduk sedih.
"Himai! Di ruang tamu ada seorang pemuda--" jeda Ibu sejenak menghirup udara.
__ADS_1
"Katanya dia ingin melamarmu, malam ini." Sontak aku kaget, siapa pemuda itu?
"Siapa, Bu? Himai sama sekali tidak pernah dekat dengan lelaki siapa pun."
"Ibu juga nggak kenal, Nak. Tapi sepertinya dia bukan orang dekat sini, dan bukan orang biasa seperti kita. Karena terlihat dari pakaiannya yang rapi dan bersih, serta pakai mobil."
Pakai mobil? Aku penasaran banget. Segera kuraih jilbab yang ada di dalam lemari yang menurutku masih baru.
"Ayo, Nak! Kita keluar. Dia sudah menunggu lama," ajak Ibu.
Saat keluar dari kamar terdengar suara yang familier di telinga. Aku semakin penasaran. Kucepatkan langkah ingin segera melihat siapa dia, yang ingin melamar wanita burik dan miskin ini.
Betapa terkejutnya aku, ternyata ... .
Badanku sedikit limbung, untung ada Ibu yang menahannya sehingga aku tidak terjatuh.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu khawatir.
"Iya, Bu."
__ADS_1
Himeka! Jangan kegeeran dulu, siapa tahu dia datang untuk melamar kamu buat sopir atau bodyguardnya. Santai, santai himai! Jangan grogi begini dong.
next ....