
Walaupun David selalu bersama dengan supir kemana pun ia pergi, tetapi ia tidak terlihat canggung mengemudikan mobil sendiri. Ia terlihat sangat menikmatinya.
"Kamu mau mencobanya? Bagaimana pun ini mobilmu," tanya David pada Rena.
"Mungkin nanti, aku ingin menikmati 'di supiri' oleh Alexander David Mahendra." ujar Rena sekalian meledek David.
"Oke. Aku tidak keberatan. Ada hal lain yang kamu ingin untuk aku lakukan?" tanya David sambil menyeringai.
"Maksudnya? Memangnya hal apalagi yang kamu mau lakukan?" tanya Rena tertawa kecil mendengar pertanyaan David.
"Apa saja. Misalnya.... 'dinikahi'?" ujar David sambil menahan senyumnya. Tak ayal wajah Rena langsung merona dan ia tidak dapat berkata apa - apa untuk mengomentari perkataan David.
"Gombal" gumam Rena hampir tak terdengar sambil melihat ke luar jendela. Sengaja menutupi wajahnya yang tersipu dengan ucapan David.
"Aku tidak sedang menggombal Rena," ujar David tertawa kecil.
"Asal kamu tahu saja. Aku tidak akan berhenti menanyakan hal itu padamu sampai kamu menjawab 'Ya' " ujar David sambil melirik ke arah Rena dan mempercepat laju mobilnya.
Akhirnya mereka memasuki kota C setelah hampir 3 jam perjalanan. David memang mengendarai mobilnya dengan cepat, sehingga mereka bisa tiba lebih cepat.
David sangat hafal jalan - jalan di kota itu, karena ia lahir dan di besarkan di sana. Sepanjang jalan David bercerita mengenai kota itu dan Rena mendengarkan dengan takjub.
David pun masih memiliki beberapa perusahaan besar di kota itu yang di pimpin oleh orang - orang kepercayaannya.
"Kau pernah ke kota ini?" tanya David pada Rena.
Rena melihat ke luar jendela menatap jalanan dan gedung - gedung yang mereka lalui.
"Sepertinya belum," jawab Rena tidak yakin.
"Sepertinya kamu tidak yakin," ujar David menanggapi Rena.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, mungkin aku pernah kesini saat aku kecil, tapi entahlah aku benar - benar tidak ingat," jawab Rena tidak yakin. Ia seperti pernah melihat jam besar di perempatan yang baru saja mereka lalui, tetapi ia tidak yakin karena ingatannya hanya samar - samar saja.
David tersenyum.
"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Rena pada David, menagih janjinya untuk mengatakan alasannya mengapa ia ingin menikahi Renatta Azaria.
"Tunggulah kau akan tahu nanti," jawab David masih menyisakan teka - teki buat Rena.
"Tak lama David menepikan mobilnya di halaman belakang sebuah pekarangan rumah.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Rena heran. Ia melihat ke luar jendela mencari rumah yang mungkin adalah rumah Oma dan Opa David.
"Aku ingin memberitahumu alasan aku ingin menikahimu," ujar David.
Rena mengerutkan keningnya.
"Di sini?" tanya Rena heran.
Ada apa di sini? Rena heran karena tempat mereka berhenti adalah jalanan kecil di belakang pekarangan rumah orang. Tidak ada yang menarik dan tidak ada yang mengingatkannya akan hal apapun.
"Ya di sini," jawab David tersenyum penuh makna.
"Di sinilah semua yang aku lakukan padamu bermula," ujar David.
Apa iya? Kenapa aku sama sekali tidak ingat tempat ini? Batin Rena.
"Ayo Ren," ajak David sambil membuka pintu dan keluar dari mobil, kemudian berjalan ke arah pintu mobil Rena dan membukakannya untuk Rena. Rena yang masih tidak mengerti, keluar dari mobil mengikuti David.
David memandu Rena menuju ke sebuah pintu pagar tak jauh dari mobil mereka berhenti dan membukanya.
David membiarkan Rena memasuki halaman rumput di dalam pagar itu terlebih dahulu.
__ADS_1
Rena memandang David, meminta penjelasan, namun David tidak berkata apa - apa dan hanya memberinya kode untuk terus berjalan.
Rena berjalan perlahan masuk lebih dalam halaman rumah yang cukup luas. Sebuah pohon besar dan rimbun terlihat tak jauh dari mereka.
Entah mengapa Rena seolah tertarik pada pohon besar itu semakin ingatannya tertuju pada suatu sore di masa kecilnya.
Suatu yang di ingatnya saat Kakek Burhan dan Nenek Shella masih hidup.
Kakek dan Neneknya kerap kali mengajak ia dan Austin pergi ke berbagai tempat. Tetapi sore itu Kakek dan Nenek mengajaknya mengunjungi rumah teman mereka yang ada di luar kota. Austin tidak ikut saat itu karena ia sedang ujian sekolah dasar.
Rena terkesiap dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menyadari itu adalah pohon dan tempat yang sama dengan tempat yang pernah di kujunginya bersama Kakek dan Nenek nya.
Rena ingat pohon itu dengan jelas, karena di bawah pohon itu ia terjatuh setelah berlari - lari mengitari halaman rumah Kakek dan Nenek itu.
Dan batu besar itu. Batu besar helm sepeda yang membuatnya terjatuh sore itu masih ada di sana, di dekat pohon besar itu!
Belum lagi reda keterkejutannya, tiba - tiba sepasang tangan kekar David mengangkat tubuhnya dan menggendongnya.
Rena yang terkejut segera melingkarkan lengannya di leher David untuk menahan tubuhnya agar tidak merosot.
"Apa sudah mengingatkanmu akan sesuatu?" tanya David sambil menatap netra hitam milik Rena yang sedang menatapnya dengan terkejut.
"Tidak mungkin!" Ucap Rena tanpa sadar dari mulutnya. Matanya masih memandang mata David dengan lekat. Tidak percaya dengan apa yang baru di sadarinya.
"Apa yang tidak mungkin Renatta Azaria?" tanya David masih memandangi wajah dan mata Rena yang demikian dekat dari wajahnya.
"Apakah kamu....?" tanya Rena memorinya mengenang seorang pemuda berwajah tampan yang menghampirinya sore itu saat ia menangis karena terjatuh.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.