Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Pilihan Yang Sulit (Ganti Rugi Lamborgini)


__ADS_3

"Tidak Pak, Pak David jangan suuzon gitu dong Pak," jawab Rena sambil memegang mangkuk es krim untuk David.


David pun menerima mangkuk itu.


"Duduk di sini, Ren!" Ujar David. Menepuk tempat kosong di sebelahnya, saat Rena hendak duduk di sofa di seberang David.


Rena ragu.


"Rena, aku tidak suka jika harus bicara dua kali. Cepat duduk di sini" Ucap David dengan sikap arogannya.


Rena sebenarnya kesal, tetapi di turutinya juga David, karena ia tidak ingin membuat masalah baru dengan Bosnya itu.


"Hpmu kenapa aku telepon tidak kamu angkat!" Tanya David yang masih kesal karena sedari sore ia mencoba menghubungi Rena, tetapi gadis itu tidak juga mengangkat panggilan teleponnya.


"Sepertinya saya silent tadi," jawab Rena. Ia baru teringat mensilent handphonenya saat menonton bioskop dengan Austin tadi sore, dan ia lupa mengubah modenya kembali karena mengantuk dan lelah setelah membersihkan apartemennya.


"Rena, kamu itu Asisten saya, lain kali jangan di silent lagi!" Ujar David.


"Tapi kan sekarang hari libur, Pak. Weekend." Rena berdalih.


"Tugas kamu itu 24/7 Rena, kamu harus selalu ada saat saya membutuhkan kamu!" Ujar David.


"24/7? yang bener aja!" Batin Rena sambil menyendokkan es krimnya tetapi dengan mulut yang maju kedepan.


David menahan senyumnya melihat ekspresi Rena. Ia pun menaruh mangkuk es krimnya yang sudah kosong di atas meja.


"Sekarang, mengenai mobil saya," ujar David sambil melipat tangannya di depan dada.


Rena memandang David dengan menghela nafas. Setelah itu di taruhnya mangkuk es krim yang belum habis ke atas meja. Ia tidak lagi bernafsu makan.


Tanpa di duga David mengambil mangkok es krim Rena dan menyuapinya.


"Habiskan, jangan membuang makanan!" Ujar David sambil memegang sendok es krim di depan mulut Rena.


Mau tak mau Rena pun membuka mulutnya dan memakan es krim itu dengan sekali hap. Setelah itu, David menaruh mangkok kosong itu di atas meja dan meraih sehelai tissue. Tanpa sungkan ia me lap noda es krim di sudut bibir Rena.


"Kamu memang Renatta," batin David yang menatap wajah Rena saat ia membersihkan noda eskrim.


Rena yang merasakan pandangan mata David tertuju padanya menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari David.


"Mengenai mobil Bapak. Apakah rusak parah? Berapa biaya yang harus saya tanggung?" tanya Rena to the point. Ia merasa tidak ada gunanya berbasa - basi. Toh, memang itu tujuan David malam itu, untuk membicarakan masalah mobilnya yang ia tabrak tadi siang.


"Kamu sudah siap mendengar biaya yang harus kamu tanggung?" tanya David mengamati ekspresi wajah Rena.

__ADS_1


"Ya sudah Pak, tinggal bilang saja. Nanti saya akan menghitung berapa lama saya akan membayar hutang saya," ujar Rena pasrah.


David hampir di buat tertawa olehnya.


"Mobil itu sudah tidak akan pernah saya pakai lagi!" Ujar David.


"Maksud Bapak?" tanya Rena heran.


"Saya tidak suka memakai mobil yang sudah di permak. Jadi saya memesan mobil yang baru, dan mobil itu akan saya jual," ujar David dengan santainya.


"Ya ampun! Dasar orang kaya! Sombong amat!" Batin Rena mengutuk David dengan ekspresi wajah yang ia sendiri tidak bisa membayangkan.


"Jadi saya harus bagaimana Pak?" tanya Rena bingung mengomentari ucapan Bosnya itu.


"Apa aku tidak perlu membayar atau bagaimana?" ucap Rena dalam batin.


"Ya, kamu harus tetap membayar perbaikan dan ketidaknyamanan saya! Tetapi saya tidak tahu berapa lama kamu harus bekerja pada saya untuk membayar semua itu!" Ujar David sambil melipat tangan di dadanya.


Rena terlihat bingung dan tidak bisa mengira - ngira berapa biaya yang di maksudkan oleh David.


"Tapi kamu jangan khawatir Rena. Saya tidak akan meminta kamu membayar dengan uangmu atau menyuruh kamu bekerja pada saya lagi. Yang kemarin saja kamu belum selesai melunasi!" Ujar David bergeser mendekati Rena.


"Jadi, saya harus membayar dengan apa Pak?" tanya Rena sambil bergeser menjauhi David hingga pantatanya menyentuh pinggiran sofa.


"Kalau kamu menjadi pacar saya kamu tidak perlu membayar," ujar David sambil menatap wajah Rena.


"Pak David, anda ini!" Seru Rena dengan geram sambil beranjak dari sofa. Ia tidak merasa nyaman duduk terlalu dekat dengan David.


"Kan saya sudah bilang, saya tidak bisa menjadi pacar Bapak!" Ujar Rena lagi sambil berjalan mondar - mandir di depan David karena gugup.


"Terserah kamu Rena, karena saya tidak menerima pembayaran berupa uang darimu. Saya akan kasih kamu dua pilihan," ujar Davud sambil berjalan dan berdiri kearah Rena.


"Kamu mau menjadi pacar saya, atau..." ujar David tidak menyelesaikan kalimatnya.


Rena berhenti berjalan mondar - mandir.


"Atau... apa Pak?" tanya Rena dengan rasa ingin tahu.


"Atau... kamu bisa membayarnya dengan tubuhmu!" Ujar David sambil menaikan satu alisnya.


Wajah Rena langsung berubah merah saat mendengar perkataan David.


"Pak...anda... anda..." Rena benar - benar tidak bisa berkata - kata.

__ADS_1


Apakah benar yang di dengarnya bahwa David menginginkan tubuhnya?


"Jadi apa pilihanmu? Kamu mau menjadi pacar saya atau memilih pilihan yang kedua, Adrena Clarissa Putri?" tanya David.


"Tidak kedua - duanya Pak. Saya akan membayar Bapak saja!" Ujar Rena terlihat sangat gusar.


"Saya sudah katakan, saya memberimu dua pilihan dengan uang tidak ada di dalamnya!" Ujar David.


David tahu, Rena tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya ganti rugi mobil itu. pun ia tidak akan meminta pada Kakaknya Austin. Karena jika ia mau meminta pada Austin, pasti sudah di lakukannya dari dulu.


"Saya akan memberi waktu kamu satu menit untuk memilih jawaban, dan jika kamu tidak menjawab, saya akan menganggap kamu memilih pilihan yang kedua," ujar David sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dan Rena, saya akan senang sekali melakukannya denganmu saat ini, di sini," ujar David berbisik di telinga Rena.


"Pak, anda... anda... tidak bisa begitu! Ini.... ini... tidak benar!" Ujar Rena dengan gugup.


David tidak memperdulikan ucapan Rena dan ia menyalakan stopwatch yang ada di jam tangan di gitalnya.


"20 detik Rena," ujar David sambil menyeringai.


"Pak, anda tidak mungkin seriuskan?" tanya Rena mencoba merubah keputusan David.


Kedua - duanya adalah pilihan yang sulit untuknya.


Ia tidak mau menjadi pacar David, tetapi menyerahkan tubuhnya pada David?


"40 detik dan saya sangat serius Rena! Cepat tentukan pilihanmu!" Ujar David sambil menepuk tangannya meminta Rena untuk segera memutuskan.


"Pak David, kenapa anda melakukan ini Pak?" tanya Rena hampir putus asa.


"Rena, kamu yang menabrakkan mobil saya, dan bukan saya. Jadi kamu melakukan ini pada dirimu sendiri!" Ujar David sambil tersenyum licik.


"Dasar songong! Mesum!" Umpat Rena di dalam hati.


"55 detik Rena!" Ujar David sambil tersenyum penuh kemenangan, dan ia pun mulai menghitung mundur.


"5... 4... 3..."


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2