
Namun tidak sampai matahari terbit, Rena telah siuman dari pingsannya.Walaupun ia sudah tidak berteriak - teriak lagi, tetapi ia sudah lebih tenang.
"Dimana saya? Apa yang kamu mau?" tanya Rena pada Arka.
"Tenang, kamu berada di tempat yang aman dan kamu baik - baik saja," ujar Arka berusaha menenangkan Rena.
Rena mencoba menenangkan dirinya. Apalagi laki - laki yang ada di hadapan dirinya tidak berlaku kasar padanya.
"Apa maumu?" tanya Rena dengan lebih tenang sambil menatap laki - laki yang ada di hadapannya itu.
Dimana aku pernah melihat orang ini? Dia tampak familiar.Bekas luka di wajahnya....? Pikir Rena, merasa pernah bertemu dengan laki - laki yang ada di hadapannya itu.
"Tenang saja dan minum ini," ujar Arka sambil menaruh dua botol air mineral di atas meja di samping ranjang. Kemudian Arka meninggalkannya dan mengunci pintu kamar Rena kembali.
Rena segera berjalan kembali ke arah pintu dan berusaha membukanya namun, tidak bisa terbuka. Begitu juga jendela kamar yang telah berteralis, membuatnya tidak bisa melarikan diri.
Tidak boleh panik, pikir Rena. Berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya memberitahu David lokasinya? David pasti sangat khawatir?" batin Rena teringat pada suaminya itu.
Rena mencari telepon genggamnya yang ada di saku bajunya, namun tidak di temukannya.
Rena merasa sangat haus dan tenggorokannya terasa kering. Entah sudah berapa lama ia tidak minum. Ia sendiri tidak tahu jam berapa saat itu. Namun sepertinya hari masih malam, karena matahari belum terbit dan di luar pun tampak gelap.
Di ambilnya botol air mineral yang tadi di taruh laki - laki itu di meja dekat ranjang.
Ia memeriksa segelnya terlebih dahulu, sebelum ia meminumnya. Khawatir jika ia di bius lagi seperti sebelumnya. Selepas keluar dari kamar Rena. Arka berjalan menuju ke kamar Malvin dan mengetuk pintunya.
Malvin pun keluar setelah beberapa saat.
"Mbak Renatta telah bangun Pak," lapor Arka pada Malvin.
"Baik. Tunggu sebentar. Saya akan bersiap - siap," ujar Malvin yang baru bangun dari tidurnya. Ia menutup pintu dan bersiap - siap sebentar.
Setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya dan ia menemui Arka di ruang tamu.
Mereka pun segera berjalan ke arah kamar di mana Rena berada. Rena mendengar suara langkah kaki mendekat dan suara pintu di putar. Ia pun langsung bersiaga.
Pintu terbuka dan masuklah Malvin.
"Malvin?!" ucap Rena dengan terkejut.
"Harusnya aku tahu! Dia adalah dalang dari semua ini!" Geram Rena dalam batin.
"Renatta, ini aku sayang," ujar Malvin sambil mendekati Rena.
"Berhenti Malvin! Apa yang kamu inginkan dariku?! Cepat lepaskan aku!" Seru Rena pada Malvin.
__ADS_1
Ia tidak ingin Malvin mendekatinya. Rena sangat membenci Malvin, karena apa yang sudah dilakukannya pada keluarganya, menghancurkan usaha Ayahnya dan akhirnya menyebabkan ia kehilangan kedua orang tuanya.
"Renatta, aku tidak akan melukaimu.Aku melakukan ini untuk bisa bersama denganmu, sayang." ujar Malvin berusaha menenangkan Rena.
"Jangan pernah kau panggil aku sayang! Kau adalah pembunuh Malvin! Kau yang sudah membunuh kedua orang tuaku! Aku membencimu Malvin dan sangat membencimu!" Teriak Rena, sambil menaruh kedua telapak tangannya di depan tubuhnya memberi isyarat, agar Malvin tidak mendekat.
"Kenapa kau sangat membenciku, Renatta! Padahal aku tidak pernah membunuh kedua orang tuamu, mereka meninggal hanya karena sakit." dalih Malvin sambil berhenti berjalan.
"Tapi kau yang membuat mereka seperti itu, Malvin! Dan karena kau jugalah yang sudah menghancurkan semua usaha Ayahku! " Teriak Rena.
"Semua itu terjadi karena Ayahmu yang tak pernah mengijinkan aku untuk bersama denganmu, Renatta!" Ujar Malvin geram sambil membela dirinya. Kemudian pandangannya melembut dan berjalan mendekati Rena.
"Renatta, selama ini, aku masih selalu menunggumu.Pergilah bersama denganku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu!"
"Tidak akan pernah Malvin! Berhenti di situ dan jangan mendekat!" Pinta Rena saat Malvin semakin mendekatinya.
Rena berusaha meronta saat Malvin memegang tangannya dan menyudutkannya ke tembok.
"Renatta, kenapa kamu tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk bersama denganmu?" tanya Malvin, sambil memandang bola mata Rena.
"Malvin, kamu sudah menikah, dan begitu pula aku." jawab Rena berusaha menyadarkan Malvin.
Rena tidak bisa bergerak dan berteriak pada Malvin pun tidak akan membuat situasinya menjadi lebih baik.
"Tinggalkanlah dia dan hiduplah bersama denganku, Renatta. Kita akan bahagia bersama," ujar Malvin sambil menatap ke dalam manik mata Rena.
"Malvin, tolong sadarlah. Kamu sekarang telah memiliki Mira." ujar Rena. Dan sekelebat Malvin teringat pada Mira dan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Kau tidak bersungguh - sungguh mengatakannya, Renatta." ujar Malvin sambil menatap nanar mata Rena, mencari kesungguhan dari kata - katanya.
"Itu benar Malvin! Aku sangat mencintai David dan aku tidak bisa bersama denganmu." ujar Rena. Ia tahu sangat bersiko jika mengakui hal itu, tetapi ia harus mengatakan yang sebenarnya.
Malvin mencengkram kedua tangan Rena dengan keras, sebelum ia melepasnya dengan kasar, membuat Rena terperangah dan memekik kesakitan. Kemudian Malvin keluar dari kamar dengan wajah gusar.
...********...
Di Mahendra Hotel. David tidak bisa tidur semalaman. Ia bersama Audrey dan juga Alvin ikut memonitor hasil penyelidikan Gilang.
Austin yang telah di beri kabar pun telah dalam perjalanan menuju Hotel Mahendra Tower bersama dengan Bastian dan beberapa anak buahnya.
Gilang dan anak buahnya beserta kepolisian sedang berusaha mencari jejak kepergian Rena. Melalui beberapa potongan CCTV yang ada di seluruh Hotel Mahendra Tower. Gilang pun akhirnya mendapatkan petunjuk yang jelas jenis mobil dan wajah orang yang mengendarainya. Dan Gilang pun telah berhasil menemukan ke tiga orang yang telah membawa Rena setelah melakukan beberapa kali identifikasi gambar. Gilang dapat mengenali ke dua orang dari empat orang yang sudah menculik Rena. Ya, siapa lagi kalau bukan Arka dan Tompel. Dan di saat itu juga Gilang langsung bergegas ke kamar David untuk melaporkan hasil investigasinya.
"Kak, sebaiknya Kakak beristirahat. Nanti, kalau ada berita aku akan memberi tahu Kakak langsung." ujar Audrey.
__ADS_1
"Kakak nggak bisa, Dek. Sebelum Kakak bisa menemukan Rena, Kakak belum bisa beristirahat." ujar David. Wajahnya tampak lelah dan khawatir. Ia sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi di hari resepsi pernikahan mereka.
"Kamu dimana sayang? Apa kamu baik - baik saja? Apa mereka menyakitimu? Bertahanlah sayang, aku pasti akan menemukanmu...." ucap David dalam batin.
Tiba - tiba, pintu kamar David di ketuk. Alvin pun segera membuka pintu kamar hotel David.
Austin langsung masuk, tanpa menunggu di persilahkan, dan mereka duduk di sofa.
"David sebenarnya apa yang terjadi? Dimana adikku?!" Tanya Austin dengan wajah marah, cemas dan juga khawatir.
"Kau bilang kau akan menjaga dan melindungi adikku David!" Ujar Austin sambil berjalan ke arah David.
"Tenang Pak Austin. Kami sedang berusaha untuk mencari Mbak Rena." ujar Alvin mencoba menenangkan Austin.
"Maafkan aku, Austin. Seseorang sudah mengambil Rena, tapi aku berjanji akan membawanya kembali. Kami sedang berusaha mencarinya sekarang." ujar David. Ia tahu, hal ini adalah kesalahannya. Jika ia sampai kehilangan Rena. Maka ia bertanggung dan ia juga sudah berjanji pada Austin akan selalu menjaga Rena.
Kembali pintu kamar di ketuk dan Audrey yang membuka pintunya. Gilang masuk bersama dengan beberapa orang anak buahnya.
"Pak, kami sudah tahu siapa yang telah menculik, Mbak Rena." ujar Gilang langsung.
"Siapa yang sudah menculik Istriku, Gilang! Cepat katakan! Tidak akan aku biarkan dia lolos!" Seru David dengan keras dan lantang. Ia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui siapa orangnya dan ingin segera menyelamatkan Rena.
Gilang segera menunjukkan bukti - bukti yang ia dapat.
"Arka!" Ujar Bastian, saat ia ikut melihat gambar
yang telah di perjelas dari potongan CCTV hotel.
"Maksudmu Arka anak buah Malvin Dirgantara?" tanya Austin.
"Kurang ajar! Aku tidak akan membiarkanmu lolos dengan ini!" Ujar David dengan emosi.
"Tenang Kak," ujar Audrey mencoba menenangkan Kakaknya.
"Saya dan anak buah akan segera ke rumah Malvin Dirgantara saat ini juga, Pak" ujar Gilang
"Saya ikut Gilang!" Ujar David sambil meraih jaketnya dan berjalan keluar kamar.
Austin dan yang lainnya pun ikut serta kecuali Audrey dan seorang penjaga.
...************...
Author cuma mau ingetin pada para reader tolong dong kasih vote dan hadiahnya😢
Jangan lupa juga untuk kasih tombol likenya yang banyak yah. Jangan pelit - pelit dong😣 Ingat! Selalu tinggalkan jejak baca kalian.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.