Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Sebuah File


__ADS_3

"Kau mau lari kemana lagi Rena?" tanya David memandangnya dengan nakal.


Karena terpojok Rena mengambil 3 buah bantal sofa yang ada di dekatnya dan melemparnya ke arah David. David berhasil menghindar dan menangkis serangan bantal yang bertubi - tubi dari Rena.


Dan Rena menggunakan kesempatan itu untuk berlari ke arah lain. Namun, apa daya David lebih sigap dan berhasil menangkapnya dari belakang.


"Kena kamu sayang!" Seru David sambil menahan badan Rena yang memberontak.


"Alexander David Mahendra, lepaskan atau aku tidak mau menikah denganmu!" Teriak Rena sambil mencoba melepaskan tangan David yang melingkar di pinggangnya. Rena pun sudah putus asa.


David memutar dan mengunci tubuh Rena, menempelkannya ke tembok belakangnya.


"Aku akan melepaskanmu, tapi setelah kamu menciumku," ujar David tersenyum lebar.


"Tidak mau!" Tolak Rena dengan cemberut.


"Ya sudah, kita akan seperti ini sampai pagi. Dan jangan salahkan aku, kalau aku tidak kuat iman," ujar David sambil mengerlingkan nakal.


Rena yang keras kepala memberontak dan membuat David memeluknya makin erat. Kepala David menyusup di antara tengkuk Rena dan menghirup aroma gadis itu. Tercium samar aroma Vanila dan Stroberi dari tubuh Rena.


"David, jangan!" Seru Rena saat di rasanya bibir David mengecup lembut leher Rena dan naik ke telinga Rena.


"Yang cepatlah, sebelum aku tidak bisa melepaskanmu," bisik David dengan suara yang bergetar.


"Oke.. oke! Hentikkan!" Ujar Rena akhirnya setelah ia merasakan getaran ke sekujur tubuhnya, efek dari kecupan David di daerah sensitif belakang telinganya.


David mengangkat kepala dan menatap mata Rena. Netra David menggelap dan ia terlihat menahan gejolak dalam dirinya.


Rena melingkarkan lengannya di leher David dan berjinjit. Mengecup perlahan kedua bibir David yang menerimanya dengan penuh kehangatan. David menyesap bibir Rena dengan sangat hati - hati dan ia benar - benar harus menahan dirinya.


Di lepaskannya bibir Rena dan di usapnya pipi gadis itu.


"Aku akan menjaga janjiku, aku pulang sayang," ujar David kemudian mengecup kening Rena.

__ADS_1


Di lepaskannya tubuh Rena, kemudian ia berjalan ke arah pintu keluar.


*******


Arka memperhatikan David berjalan keluar dari lobby gedung Apartemen Anggrek Mas dan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggunya di drive away gedung itu.


Wanita itu, Adrena Clarisa Putri tinggal di sana. Dan Arka menghitung hampir 2 jam pria kaya, berwibawa yang di segani banyak orang itu, berada dalam gedung itu.


Setelah mobil David menghilang dari pandangannya ia memperhatikan kartu identitas Rena yang di ambilnya tadi sore saat ia tidak sengaja berpura - pura bertabrakan dengannya. Dan ia sangat yakin jika gadis itu adalah Renatta Azaria. Ia melihatnya langsung sore tadi.


Tentu saja wajah gadis itu,terlihat lebih dewasa, bukan gadis remaja yang berusia 15 tahun saat ia terakhir melihatnya. Tapi pembawaan Rena yang baik hati dan ramah pada semua orang yang di temuinya masih sama. Belum lagi ia tampak mirip dengan Syahnaz, Ibunya.


Arka memang tidak mengenal dekat dengan Rena, tetapi selama 7 tahun bekerja pada Alfaro sebagai salah satu bodyguardnya. Ia sering kali melihat anak perempuan Alfaro, dan mendengar cerita dari Alfaro akan sikap manja anak perempuannya itu.


Di taruhnya kartu identitas Rena di kursi kosong di sebelahnya saat unknown panggilan telepon masuk. Ia memang menunggu panggilan telepon dan segera mengangkatnya.


"Aku kirimkan data gadis itu," ujar Aldo dari sebrang telepon dan kemudian memutus sambungan telepon tanpa Arka sempat menjawab.


"Baiklah Gilang, ini saatnya menemuimu lagi kawan," gumam Arka.


Arka melajukan mobilnya melewati jalan yang senggang, karena hari sudah malam. Tetapi ia tahu dimana Gilang berada. Anak buahnya sudah mengkonfirmasi posisi Gilang saat itu.


Gilang saat itu tengah berada di sebuah Bar bersama dengan seorang wanita. Arka berjalan mendekati Gilang dan duduk di sampingnya.


"Whiskey sour," ujar Arka pada bartender yang berada di balik meja bar.


"Arka! Sedang apa kau di sini? Kupikir kau sedang sibuk mencari seseorang," ujar Gilang saat mengenali suara Arka.


"Memang, dan aku sudah menemukannya," ujar Arka sambil melirik ke arah Gilang.


"Selamat untukmu!" Ujar Gilang pendek. Ia masih sangat biasa menanggapi Arka.


"Hey cantik, bisa tinggalkan kami sebentar," ujar Gilang pada perempuan yang ada di sampingnya, dan perempuan itu pun pergi dengan enggan.

__ADS_1


Arka memberikan Gilang selembar kertas yang di lipat dan Gilang pun membukanya. Foto Adrena Calarissa Putri dan Alexander David Mahendra, tengah bersama di rumah David.


Walaupun Gilang sangat terkejut tapi ia tidak menampakkannya. Ia melihat gambar itu dengan tanpa ekspresi.


Apa yang Arka ketahui? Dan apa yang Arka inginkan sehingga ia datang menemuninya? Gilang mempersiapkan diri dengan skenario yang terburuk, namun wajahnya masih saja tenang. Ia terlatih untuk itu. Sebuah pistol colt yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi, tersarung di balik jas casual yang di pakai oleh Gilang.


"Kenapa kau tunjukkan aku ini?" tanya Gilang sambil melipat gambar itu dengan cueknya dan mengembalikannya.


"Katakan padaku, apakah gadis ini sedemikian penting sampai kau memukuli calon istri bosku?" tanya Arka langsung.


"Kau punya bukti?" tanya Gilang sambil terkekeh.


"Aku tahu apa yang terjadi di hotel itu dan bagaimana Mira menampar gadis itu," ujar Arka.


"Kalau begitu kau sudah tahu alasannya, jika aku adalah orang yang telah menampar calon istri bosmu itu," jawab Gilang.


"Kenapa kau lakukan itu? Justru kau membuat gadis itu dalam bahaya?" ujar Arka dengan datar sambil melihat ke sekeliling Pub tempat mereka duduk. Ia mengenali beberapa anak buah Gilang ada di sana. Mengawasi pembicaraan mereka.


Arka pun tidak mau kalah, ia membawa serta beberapa orangnya yang berjarak tak jauh darinya dan Gilang.


"Maksudmu?" tanya Gilang.


"Gadis itu akan baik - baik saja dalam pengawasanku. Kau tidak perlu meragukan apa yang telah Alexander David Mahendra akan lakukan untuk membuat gadis itu aman," tambah Gilang meyakinkan Arka bahwa Alexander David Mahendra tidak bisa di anggap remeh oleh kubu Malvin Dirgntara.


"Aku tahu," ujar Arka, kemudian meneguk minuman yang terasa menyengat di tenggorokannya itu.


Arka sudah melihat bagaimana Alexander David Mahendra memperlakukan gadis itu. Bagaimana David menatap gadis itu dan membawakannya seikat bunga. Dan Arka sudah memikirkan apa saja yang mungkin terjadi jika Malvin memutuskan untuk berlawanan dengan Alexander David Mahendra. Bisa saja terjadi perang terbuka antara kubu Malvin dan kubu dari David yang pastinya akan membuat aparat hukum di kota itu menjadi kalang kabut.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadihanya.

__ADS_1


__ADS_2