Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Penyelidikan Arka Part 1


__ADS_3

"Suka, tapi sejujurnya..." jawab David belum menyelesaikan kalimatnya.


David mencodongkan wajahnya mendekati Rena dan berbisik kemudian berkata " Tidak ada yang lebih aku sukai dari pada mie goreng buatanmu,"


"Ah, kamu pasti berbohong," ujar Rena dengan wajah yang merona.


"Bagaiamana mungkin mie goreng buatannya lebih enak dari masakan restoran ini?" batin Rena.


"Kamu tidak percaya?" tanya David sambil mengerlingkan matanya.


"Bagaimana kamu lebih suka mie buatanku dari pada makanan ini? Makanan ini luar biasa enaknya?" ujar Rena.


"Tapi itu benar Rena? Kamu mau bukti?" tanya David sambil menaikkan satu alisnya.


Rena tidak menjawab. Bagaiamana cara membuktikannya?


"Baiklah, nanti malam kamu masakan aku mie goreng buatanmu," ujar David.


"Nanti malam?"


"Ya, bukankah kamu ingin membuatkan aku makan malam nanti malam?" tanya David mengingatkan pembicaraan mereka di mobil tadi.


Rena berpikir sejenak.


"Baiklah aku akan membuatkanmu mie goreng nanti malam," ujar Rena sambil tersenyum.


"Aku senang sekali Rena, rasanya tidak sabar untuk menunggu nanti malam," ujar David sambil tersenyum lebar.


Rena tersenyum melihat David yang kini sudah tidak murung.


Rena pun memandangi wajah David yang sedang menyantap makananannya. Ia mulai melihat sedikit kemiripan antara David dan juga Abian. Apakah mereka berdua benar - benar bersaudara?


Kalau Rena tidak mendengar Abian memanggil David dengan sebutan Kak, mungkin Rena tidak akan berpikiran jika mereka bersaudara. Tapi bagaimana mungkin?


"Rena, aku tahu aku memang tampan, tapi apa kamu harus terus menatapku terus - menerus?" ujar David memecah lamunan Rena.


Rena memutar bola matanya mendengar kenarsisan David.



"Hati - hati Adrena Clarisa Putri kamu bisa jatuh cinta padaku," ujar David sambil tertawa. David memang senang menggoda Rena.


"Bapak Alexander David Mahendra, asal Bapak tahu, saya tidak mudah jatuh cinta. Kalau Bapak berharap saya mudah untuk jatuh cinta pada Bapak, Bapak harus berusaha lebih keras dari pada hanya tampil tampan di depan mata saya." Ujar Rena membalas perkataan David.


"Oh begitu?" tanya David menahan tawanya. Ia kemudian maju ke depan dan berhenti ketika wajahnya hanya berjarak 20 sentimeter dari wajah Rena.

__ADS_1


"Baiklah Adrena Clarissa Putri, mulai saat ini kamu akan melihat usaha saya yang lebih keras untuk mendapatkan hatimu," ujar David sambil menatap dua netra hitam milik Rena.


"Asal kamu tahu, saya sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali saya melihatmu," ujar David masih menatap dua netra hitam yang dulu menatapnya sendu, saat pertama kali mereka bertemu.


Mereka berdua terdiam dan saling pandang. Tiba - tiba Rena tertawa tertahan dan David memandangnya dengan heran.


"Apa yang gadis ini tertawakan?" batin David.



"Bapak semudah itu jatuh cinta karena saya menumpahkan kopi ke baju Bapak?" tanya Rena sambil menahan tawanya.


Dalam bayangan Rena pertemuan pertama kali mereka adalah di Albatros saat Rena menumpahkan kopi ke tubuh David.


Kali ini gantian David yang memutar bola matanya. Gadis ini benar - benar tidak ingat apa - apa!


Ingin di jitaknya kepala Rena karena sudah menertawakannya, tetapi David punya cara yang lebih jitu dari pada menjitak kepala gadis kesayangannya ini.


Di tariknya tubuh Rena yang sama sekali tidak menyangka apa yang David akan lakukan padanya.


Dalam beberapa detik berikutnya tawa Rena menghilang di ganti oleh suara kecupan bibir David yang menyapu ranum bibir Rena.


*****************


Tak lama seorang pria dengan tompel sebesar uang 500 perak di rahangnya datang menghadap Arka.


"Apa yang kau dapat?" tanya Arka pada anak buahnya itu.


"Kegiatan Ibu Mira minggu kemarin biasa - biasa saja Pak. Menurut informasi dari Surya, supir Bu Mira, sehari - hari Bu Mira hanya arisan, shoping atau pun hangout dengan Vanila dan teman - temannya," ujar Tompel.


"Tetapi ada satu yang sedikit berbeda. Saat Bu Mira pulang menghadiri acara amal di hotel, ia terlihat sangat marah dan pakaiannya kotor. Surya sendiri tidak tahu apa yang terjadi, dan saya menyelidiki ke hotel tempat acara itu berlangsung," lapor Tompel.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Arka yang mulai tertarik.


"Pada awalnya saya tidak mendapatkan informasi apa - apa dari pihak keamanan. Tetapi yang saya dengar melalui desas - desus karyawan hotel, bahwa ada peristiwa pertengkaran dua orang wanita di acara amal tersebut. Dan salah satunya ternyata adalah Ibu Mira.


"Dengan siapa ia bertengkar?" tanya Arka semakin penasaran.


"Ini yang menurut saya aneh Bos," ujar Tompel menjeda laporannya.


"Saya tidak bisa menemukan identitas wanita yang bertengkar dengan Ibu Mira dan juga tidak menemukan rekaman CCTV peristiwa tersebut, seakan - akan peristiwa dan identitas wanita itu di sembunyikan,"


Arka mengetuk - ngetuk dagunya berpikir.


Lagi - lagi pekerjaan orang yang berkuasa dan rapi. Apakah dua peristiwa ini saling berkaitan? Pikir Arka.

__ADS_1


"Kau tahu siapa security hotel yang bertugas dan bertanggung jawab saat itu?" tanya Arka.


"Ya Bos, Menurut info yang saya terima, hal ini bisa terjadi atas wewenang kepala keamanan hotel," ujar Tompel.


"Kau tahu yang harus kau lakukan Tompel. Kalau kau sudah mendapatkan orang itu, biar aku yang menginterogasinya!" Ujar Arka.


Arka sangat penasaran dan berniat menginterogasi sendiri kepala keamanan hotel itu.


Tompel pun mengerti apa yang harus di lakukannya dan ia segera melaksanakan tugasnya.


Sore itu, saat Kepala Keamanan Hotel itu pulang dari kerjanya, Tompel dan beberapa anak buah Arka menculik dan menyekapnya. Mereka membawanya ke sebuah rumah kosong kurang lebih 10 km dari lokasi hotel.


"Pak Andri?" ujar Arka saat membaca kartu identitas kepala keamanan hotel itu.


"Tolong Pak. Jangan sakiti saya, saya punya anak dan istri," pinta Andri, kepala keamanan hotel.


"Tenang Pak Andri, anda tidak akan di sakiti jika anda memberikan informasi yang saya minta," ujar Arka dengan nada yang mengintimidasi.


Arka terlihat santai namun, pandangan matanya sangat menakutkan.


Andri menelan ludahnya. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang menyebabkannya di culik seperti ini.


"Seminggu yang lalu, ada dua orang wanita yang bertengkar. Siapa saja mereka?" tanya Arka sambil duduk di kursi yang berjarak kurang lebih dua meter dari kursi tempat Andri di ikat.


Andri teringat peristiwa itu, wanita Alexander David Mahendra dan Malvin Dirgantara, dan ia mengutuki dirinya sendiri karena berada di tengah - tengah masalah dua orang yang sangat berkuasa.


Namun ia sudah berjanji pada Alvin, tangan kanan Alexander David Mahendra untuk tidak memberikan identitas wanita itu kepada siapapun. Ia bahkan sudah lupa siapa nama wanita itu. Karena di pikirnya masalah itu sudah selesai.


"Saya... saya... tidak tahu apa yang Bapak maksudkan," ujar Andri sambil terbata - bata.


"Andri... bukankah saya sudah mengatakan saya tidak akan menyakitimu jika kamu memberi informasi yang saya inginkan?" ujar Arka sambil geleng - geleng kepala lalu memberi kode ke salah satu anak buahnya.


"Pak, jangan Pak...." teriak Andri lalu....


Bugh! Bugh! Bugh!


Arka memberi kode untuk berhenti memukuli Andri, lalu menghampiri Andri yang wajahnya sudah babak belur.


"Saya tanya sekali lagi, siapa mereka? tanya Arka.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2