
Pintu ruang asisten CEO pun terbuka, dan Safa terlihat memasuki ruangan David.
"Maaf Pak. Mbak Rena kurang sehat, dan sekarang sedang beristirahat. Saya yang akan membantu Bapak sementara," ujar Safa sambil menunduk.
"Ada yang saya bisa bantu, Pak?" tanya Safa. Ia terlihat gugup saat berbicara dengan David. David memang tidak terlalu sering berbicara dengan Safa dan juga Satria.
David sebenarnya ingin menanyakan kondisi Rena lebih lanjut saat Safa memberitahunya bahwa Rena kurang sehat, tapi di urungkannya karena Malvin ada di hadapannya.
"Kamu catat pembicaraan rapat hari ini Safa!" Perintah David pada Safa.
"Baik Pak," jawab Safa lalu mengambil kertas dan pulpen, dan duduk di sofa tak jauh dari David.
"Siapa Rena?" tanya Malvin ingin tahu. Sekilas ia menangkap ekspresi wajah khawatir David.
"Asisten pribadi saya," ujar David.
"Apakah dia baik - baik saja? Anda terlihat khawatir," tanya Malvin.
"Malvin, saya memang memperlakukan asisten saya dengan baik. Dan saya yakin ia akan baik - baik saja," ujar David.
Dan mereka pun kembali membicarakan bisnis mereka.
"Akan saya pertimbangkan proposal anda, dan akan saya beritahukan secepatnya," ujar David pada Malvin saat mereka telah selesai dengan rapatnya dan Malvin pamit meninggalkan ruang kerja David.
"Safa, dimana Rena?" tanya David pada Safa setelah Malvin keluar dari ruangannya.
"Tadi ada di ruangannya Pak," jawab Safa dengan gugup.
"Cepat panggil dia kesini!" Ujar David.
"Baik Pak." Ujar Safa lalu segera berjalan menuju ke ruangan personal asisten.
"Sakit apa lagi Rena? Tadi pagi ia terlihat baik - baik saja, bahkan makan bubur ayam dengan lahapnya!" Batin David merasa aneh. Walaupun begitu ada rasa khawatir di dalam hatinya, karena ia tahu Rena tidak akan meninggalkan kewajibannya terkecuali terjadi sesuatu.
Safa mencari Rena di ruang kerjanya.
"Mbak Rena di panggil Pak David," ujar Safa pada Rena yang sedang duduk di meja kerjanya dan mengetik sesuatu.
"Tamunya sudah pergi?" tanya Rena pada Safa.
"Sudah Mbak," jawab Safa singkat.
"Kamu bilang apa pada Pak David?" tanya Rena.
__ADS_1
"Seperti yang Mbak Rena bilang, kalau Mbak Rena sedang kurang enak badan," jawab Safa. Safa pun heran, sebab Rena tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
"Terus Pak David bilang apa?" tanya Rena penasaran.
"Tidak bilang apa - apa. Ia hanya menyuruh saya mencatat pembicaraan rapat," ujar Safa sambil menyerahkan catatannya.
Rena melihat sekilas catatan yang di berikan Safa dan mengangguk.
"Mudah - mudahan Pak David percaya," batinnya.
"Terima kasih Safa, kamu bisa kembali ke ruanganmu," ujar Rena sambil tersenyum.
Safa mengangguk dan tersenyum, kemudian meninggalkan ruang kerja Rena.
Dengan membawa catatan Safa, Rena berjalan menuju pintu ruang kerja David. Namun, ia berhenti sejenak tepat di depan pintu. Ia menghembuskan napas beberapa kali dan mencoba memasang wajah lelah.
"Maaf Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Rena saat ia telah berdiri beberapa meter dari David.
"Kamu sakit?" tanya David yang telah memperhatikan Rena, semenjak ia membuka pintu penghubung ruang kerja mereka.
Walaupun wajahnya terlihat pucat, tapi langkah kakinya tidak gontai seperti seseorang yang tidak sakit. Batin David.
"Tidak Pak, saya hanya merasa lemas dan butuh istirahat sejenak," ujar Rena memberi alasan.
"Kamu yakin, kamu tidak apa - apa?" tanya David sambil maju dari sandaran kursinya dan menaruh kedua sikutnya di atas meja.
"Apa jadwal saya selanjutnya Rena?" tanya David sambil memperhatikan mimik wajah Rena.
"Bapak ada meeting dengan Bapak Adrian dari PT. Glass Harbour setengah jam kedepan, setelah itu jam 7 Bapak akan menghadiri undangan launchung film terbaru sutradara Damian. Di gedung Epicentrum," ujar Rena membacakan jadwal David yang tersisa hari itu.
"Mendekatlah!" Perintah David.
"Maksud Bapak...?" tanya Rena bingung.
"Cepat mendekatlah!" Perintah David lebih keras.
Rena tidak mengerti apa yang David inginkan, dan ia berjalan mendekat dengan ragu.
David terlihat mengamati wajah Rena, kemudian dengan ekspresi datar ia berkata, "Rena, kamu istirahatlah, saya akan panggil kamu lagi jika saya butuh sesuatu.
"Bapak yakin?" tanya Rena.
__ADS_1
"Ya, kamu istirahatlah sekarang, saya membutuhkanmu nanti malam," ujar David kemudian mengalihkan pandangannya ke arah laptopnya di meja.
"Baik Pak," jawab Rena setelah tidak ada perintah lebih lanjut dari David.
"Apa maksudnya dia membutuhkan aku nanti malam? Dasar Aneh!" Batin Rena merasa heran dengan kelakuan David.
Selepas kepergian Rena.David menyandarkan bahunya pada sandaran kursi dan ia termenung. Ia memang akan membutuhkan Rena malam ini.
Ia pun menelepon Alvin.
"Selamat siang Pak," jawab Alvin yang langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Alvin, apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai Rena?" tanya David.
Semalam, David memerintahkan Alvin untuk pergi ke kota F untuk menyelidiki identitas Rena. Ia sangat penasaran dengan identitas asli Rena.
"Saya sudah menemui kedua orang tua angkatnya di kota ini. Mereka tidak mengatakan kecuali hal yang sudah kita ketahui. Sedangkan untuk laporan keuangan mereka, saya masih membutuhkan waktu sedikit lagi," ujar Alvin melaporkan.
"Bagaimana dengan panti asuhan tempat Rena tumbuh?" tanya David. Ia yakin Rena tidak besar di panti asuhan.
"Saya pun sudah mendatangi panti asuhan tempat Mbak Rena di besarkan, dan saya memang menemukan kejanggalan di panti asuhan tersebut,"
"Walaupun kepala panti di sini menceritakan bahwa Mbak Rena berada di panti asuhan sejak bayi, hingga ia berusia 15 tahun. Namun, saya tidak menemukan foto Mbak Rena sejak sebelum ia berusia 15 tahun di panti itu. Tidak ada foto Rena kecil di sana.
"Dan sayangnya, Ibu kepala panti asuhan sebelumnya, yang mengetahui tentang Rena, telah meninggal dunia," lapor Alvin pada David.
Hmmm... janggal bukan? Tidak ada fotonya sama sekali jika ia besar di sana? Pikir David.
Namun Alvin belum bisa memberikan petunjuk mengenal asal Rena yang sebenarnya, seperti ada seseorang yang berusaha menutup rapat masa lalu Rena.
"Beri aku laporan, begitu laporan keuangan orang tua angkatnya dan panti ada di tanganmu!" Perintah David. Terdengar nada tak sabar dari perkataan David.
"Baik Pak," ucap Alvin.
"Bagaimana dengan Mira Handono? Apa kamu sudah menemukan ada hubungan apa antara Rena dengan Mira?" tanya David.
Seketika ia teringat pertemuannya dengan Malvin siang tadi, dan bagaimana Rena tidak menjawab panggilannya untuk datang. Apakah ia menghindari Malvin? Apakah Malvin dan Mira ada hubungannya dengan masa lalu Rena? Terbesit dalam fikiran David.
"Saya sudah menugaskan Gilang untuk menyilidiki Mira Handono.Menurut Gilang baik Mira ataupun Rena tidak berhubungan, baik di media sosial atau pun aktivitas sosial mereka. Mereka berdua bergaul dengan kalangan yang berbeda Pak. Seperti Bapak tahu, Mbak Rena tidak bergaul dan tidak mengenal secara pribadi kalangan menengah ke atas," ujar Alvin dengan hati - hati.
"Kalau begitu interograsi Mira dan balas 3x lipat apa yang telah ia lakukan pada Rena." ujar David dengan tegas.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.