Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Kamu Yang Pertama


__ADS_3

Rena terpesona melihat keindahan yang di sajikan di depannya. Bagaimana tidak,semua kenyamanan yang ada di depannya di bungkus dengan keindahan alam semesta yang tiada bandingnya. Saat itu, langit sedang cerah, sehingga bulan dan bintang dapat terlihat jelas dengan mata telanjang.


"Sini Ren!" Panggil David yang sudah diduk di salah satu sofa, yang menghadap ke laut. Ia sudah menaruh makanan dan minuman yang di bawanya di meja kecil di depannya.


"Kita dimana? Ini dirumahmu?" tanya Rena sambil duduk di sofa di sebelah rumah David. Kali ini ia sangat berhati - hati dalam berbicara tidak ingin keceplosan lagi!


"Rumah keluarga. Oma dan Opa yang membeli rumah ini. Kadang - kadang aku kesini kalau sedang penat dan membutuhkan istirahat," ujar David.


"Tempat ini sangat memikat. Kamu pasti sudah membawa banyak wanita kesini," ujar Rena.


"Kolam renang, jacuzzi pemandangan yang indah ini, tidak mungkin dinikmati sendiri di tempat seperti ini pasti sering di gunakan oleh David untuk memikat banyak wanita, pikir Rena.


David memandang Rena.


"Tidak. Kamu yang pertama," ujar David.


Rena tertegun. Masa sih?


"Apa kamu terpikat?" tanya David menggoda Rena, kemudian ia tertawa kecil.


Rena memutar bola matanya menanggapi kelakuan David yang senang menggodanya.


"Kamu harus tahu Rena, tidak semua pengusaha yang sukses, pintar dan ganteng seperti aku ini suka bermain dengan wanita, ujar David sambil menahan senyumnya.


"Ya ampun narsis sekali," batin Rena. Walaupun di lubuk hatinya ia kagum, jika David tidak bermain wanita seperti kebanyakan orang kaya yang ia sering lihat di Albatros.


David memang sukses dan tampan, dan dengan semua harta yang di milikinya. Ia bisa saja memiliki wanita manapun yang ia inginkan, tak ada yang bisa menghalanginya kan?


David tersenyum dan menuangakan jus jeruk dingin kesukaan Rena ke dalam dua belah gelas yang ia bawa tadi, dan memberikannya satu pada Rena.


"Opaku mengajariku dengan sangat keras Rena. Aku sangat menganggumi beliau," ujar David kemudian menyesap jusnya.


"Kedua orang di foto itu adalah Opa dan Omamu?" tanya Rena sambil menunjuk arah dinding yang memajang foto - foto mereka.


"Ya, mereka adalah Opa dan Omaku dan yang satu lagi adalah Audrey, adikku." ujar David.


"Opaku sangat menyayangi Omaku dan aku berharap bisa seperti mereka yang selalu bersama sampai usia senja," ujar David sambil melirik ke arah Rena.

__ADS_1


Rena berdehem, dan meminum jus jeruknya dan melihat ke arah laut, menghilangkan kecanggungan akan tatapan David padanya.


"Orang tauamu?" tanya Rena yang ingin tahu seperti apa orang tua David, karena mereka tidak ada diantara foto - foto yang di lihatnya.


David meletakkan gelas jusnya kemudian bersandar pada senderan sofa dan menatap langit yang penuh dengan bintang - bintang.


"Papaku meninggal saat aku berumur 6 tahun," ujar David matanya menerawang jauh menatap bintang - bintang, tetapi terlihat seperti menatap kosong.


"Maaf aku tidak tahu," ujar Rena merasa tidak enak karena telah mengungkit masa lalu yang membuat David bersedih.


"Tidak apa, itu sudah puluhan tahun yang lalu. Ia meninggal karena kecelakaan yang di alaminya," ujar David sambil menoleh ke arah Rena dan tersenyum.


David diam sejenak.


"Mamaku... dia... dia... sudah tidak bersama kami lagi," ujar David sambil bangkit dari sandaran sofa dan maraih gelas jusnya, kemudian meminumnya sampai habis.


Apa maksudnya sudah tidak bersama lagi? Apakah ia sudah meninggal? Pikir Rena yang tidak paham apa yang di katakan David. Namun melihat David meneguk minumannya hingga habis, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Maaf," ujar Rena.


"Tidak semua orang bisa memiliki keluarga yang sempurna, bahkan dengan uang yang banyak sekalipun, tidak dapat membeli kebahagiaan," ujar David dengan getir.


"Paling tidak ada Opa dan Oma yang selalu bersama dengan Bapak," ujar Rena sambil tersenyum dan menyentuh lengan David. Ia berniat menghibur hati David, namun sepertinya ia pun lupa dengan sebutannya kepada David lagi!


David yang tadinya bersedih mengingat Mamanya, menjadi tersenyum dan menoleh pada Rena yang masih belum menyadari kesalahannya.


"Kenapa Pa...." dan Rena pun tersadar kemudian menepuk jidatnya.


"Aku rasa kamu sengaja, Ren. Apa kamu sudah mulai kecanduan dengan hukumanmu?" ujar David yang sudah tiba - tiba ada di depan wajah Rena.


Rena pun segera menggeleng.


"Yang... tunggu Yang!" Teriak Rena saat wajah David mulai maju mendekatinya. Terpaksa ia memanggil David Yang, Sayang!


"Ada apa sayang?" tanya David sambil berhenti bergerak.


"Biar saya yang menciummu, Yang," ujar Rena sambil tertawa kikuk.

__ADS_1


David mengerutkan dahi dan memandang Rena dengan heran.


"Kamu mau menciumku?" tanya David dan Rena mengangguk.


"Oke," ujar David dengan tersenyum dan menepuk tangannya dengan atusias. Ia pun menunggu Rena untuk menciumnya.


"Ayo Rena!" Ujar David dengan tidak sabar saat melihat Rena tidak bergerak.


Rena berdehem dan mulai bergerak maju mendekati David.


Ini kali pertama Rena berinisiatif mencium seorang laki - laki, dan Rena berencana hanya akan memberi kecupan di bibir David dengan cepat. Ia berpikir lebih baik jika ia mengecup David, daripada jika David yang menciumnya.


Ia pun mengambil ancang - ancang dan menempatkan wajahnya di depan wajah David.


David menunggunya dengan menahan senyum geli.


Setelah menghitung dalam hati Rena pun maju dengan cepat sambi memajukan bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, David yang mengetahui pikiran Rena pun menahan tengkuk Rena sehingga membatasi ruang gerak Rena dan David bisa dengan leluasa menciumi Rena.


Rena yang sempat terkejut dengan gerakan cepat David untuk menahan kepalanya yang berusaha mendorong David. Namun, apa daya tenaga David lebih besar darinya dan ia pun pasrah saat David ******* habis bibirnya!


Dan David tertawa penuh kemenangan saat ia telah selesai menikmati manisnya bibir Rena, sambil memandangi wajah Rena yang kembali merona.


"Ya ampun Rena, kamu akan membuatku senang sepanjang malam ini!" Seru David sambil tertawa geli.


"Kamu itu!" Gerutu Rena sambil memukul - mukul lengan David dengan kesal. Ia merasa tidak berdaya menghadapi kelihaian seorang David.


"Maaf ya Ren, aku akan berbaik hati. Hukumanmu untuk malam ini akan aku tiadakan untuk sementara karena kita sedang merayakan hari jadi kita. Jangan marah ya sayang?" ujar David menggoda sekaligus membujuk Rena yang sedang kesal.


"Sebel!" Seru Rena kali ini sambil memukuli dada David, hingga David mengaduh.


David memeluk Rena untuk menghentikan Rena menukulinya.


"Udah ya Ren, jangan marah dong!" Ujar David sambil mencium kenang Rena.


Rena pun mulai berhenti memukuli tubuh David dan ia pun mulai tenang.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2