
Aleta yang kesal karena tidak berhasil menemui David dan tidak berhasil mendapatkan informasi apa - apa mengenai David pun segera berbalik meninggalkan tempat itu. Ratih hanya geleng - geleng kepala melihat kelakuan mantan pacar bosnya itu.
Dalam hati Ratih berpikir, gimana kalau sampai ia tahu mantan pacarnya itu telah menikah dengan orang lain?
Dengan kesal Aleta meninggalkan gedung Mahendra Tower kemudian pergi ke rumah David. Di depan gerbang rumah David, Aleta telah di infokan bahwa David tidak ada di rumah, namun ia tetap memaksa untuk masuk.
"Siapa Jef?" tanya Audrey, saat Jefri terlihat kesal menjawab interkom dari penjaga pintu.
"Ini Non, Ibu Aleta memaksa untuk masuk ke rumah. Padahal penjaga sudah mengatakan kalau Bapak itu sedang tidak di rumah," terang Jefri.
"Aleta? Mau apa dia datang kesini?" batin Audrey bertanya.
"Ya sudah, biarkan dia masuk!" Seru Audrey.
"Tapi Non Audrey....."
"Tidak apa Jefri, aku bisa mengatasinya," ujar Audrey santai sambil duduk di sofa. Ia pun menyalakan televisi dan mencari acara yang menarik untuk di lihat.
Jefri pun memberitahu pada penjaga untuk membiarkan Aleta masuk Dan penjaga pintu pun segera membukakan pintu gerbang dan membiarkan Aleta masuk ke dalam rumah.
"David mana?" tanya Aleta pada Jefri langsung, saat Jefri membukakan pintu depan untuknya.
"Kak David tidak ada di rumah," jawab Audrey dari sofa tanpa melihat ke arah Aleta.
Aleta terkejut mendengar Audrey menjawabnya. Ia tidak tahu jika Audrey ada di rumah.
"Audrey, aku tidak tahu kau sedang pulang," ujar Aleta ramah sambil berjalan mendekati Audrey.
"Ya, Karena Kak David menyuruhku untuk pulang," jawab Audrey santai sambil melihat layar televisi di depannya.
Aleta duduk di sofa di samping Audrey.
"Mau apa kesini? Kan sudah di bilang, Kakak tidak ada di rumah" ucap Audrey tanpa memperdulikkan Aleta.
"Kakakmu memang pergi kemana?" tanya Aleta dengan suara yang manis, berharap Audrey mau memberitahukan dimana keberadaan Kakaknya itu berada.
"Pergi," jawab Audrey pendek.
Aleta tampak kesal dengan jawaban dari Audrey, namun ia mencoba menahan diri.
"Ia aku tahu. Tapi pergi kemana?" tanya Aleta berusaha bersabar. Bagaimana pun jika ia ingin mendapatkan David, ia harus berhubungan baik dengan adiknya juga.
"Honeymoon," jawab Audrey cuek.
"A...aa... apa katamu?" tanya Aleta terbata - bata, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Aleta berharap ia salah dengar.
"Aku bilang Kak David pergi Honeymoon!" Jawab Audrey sekali lagi dengan lengkap dan jelas.
Wajah Aleta langsung pucat.
"A..apa? Honeymoon? Tidak mungkin!" sangkal Aleta di dalam hatinya.
"David belum menikah. Bagaimana dia bisa pergi Honeymoon," ucap Aleta dalam batin lagi.
__ADS_1
"Audrey. Kamu... pasti bercanda kan?" tanya Aleta sambil tertawa, menganggap Audrey hanya bergurau saja.
"Tidak." jawab Audrey sambil memandang ke arah Aleta.
"A.... apa maksudmu?" tanya Aleta kembali gugup dan berhenti tertawa.
"Ya, Kakakku memang sudah menikah dan mereka sedang pergi Honeymoon. Itu sebabnya Kak David menyuruhku untuk pulang," jawab Audrey lebih lengkap.
"Audrey, mana mungkin David menikah! Aku belum mendengar berita apapun mengenai pernikahan itu!" Ujar Aleta masih menyangkal.
"Mungkin saja. Buat Kak David segala sesuatunya bisa terjadi. Dan kau belum mendengar berita itu karena Kak David belum mengijinkannya," ujar Audrey.
"Lalu dengan siapa David menikah?" tanya Aleta dengan cemas.
Dia benar - benar tidak menyangka jika David telah menikah. Kenapa ia tidak mendengar kabar tentang hal itu? Dan kenapa ia tidak di undang?
"Dengan Rena," jawab Audrey sambil tersenyum.
Aleta begitu terkejut.
"Aleta, sekarang kamu kan sudah tahu, kalau Kakakku sudah menikah. Jadi, tolong ya, jangan pernah ganggu Kakakku lagi! Karena dia sudah berbahagia dengan Istri pilihannya." ujar Audrey sambil memandang wajah pucat pasi Aleta.
"Sekarang, kalau tidak ada hal lain lagi, aku mau tidur. Kau tahu kan dimana arah pintu keluarnya? Atau kau mau aku meminta Jefri untuk mengantarmu?" tanya Audrey sambil melihat Aleta sambil menyengir.
"Audrey! Kau mengusirku?" tanya Aleta dengan marah.
"Bukan, tapi aku sangat mengantuk dan aku kasihan jika nanti kau hanya menunggu di sini sendirian," ujar Audrey beralasan.
David dan Rena telah menikah? Tapi Kapan? Rena, awas kau! Bagaimana pun caranya aku harus menyingkirkanmu dari kehidupan David! Karena dari awal David adalah milikku dan selamanya harus menjadi milikku siapapun tidak boleh memilikinya selain aku! Ia pun memukul setir mobilnya dengan geram dan emosi, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah David.
Audrey hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dari Aleta. Ia memang tidak pernah menyukai Aleta. Dan ia lega akhirnya Kakaknya menikah dengan Rena. Audrey berharap setelah ini Aleta akan menjuahi Kakaknya.
...*******...
David sedang membaca email di handphonenya sambil bersandar di kepala ranjang. Ia hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh bagian pinggang ke bawah. Rambutnya masih acak - acakan setelah menghabiskan waktu berjam - jam bersama dengan Rena.
Handphone Rena yang berada di atas meja nakas di sebrang tempat David duduk, berdering.
"Ren?" panggil David kepada Rena yang masih mandi di dalam kamar mandi. Namun bunyi air shower yang mengalir membuat Rena tidak bisa mendengar panggilan dari David.
David pun akhirnya mengambil handphone Rena dan menjawab telefon dari Austin.
"Mana Rena?" tanya Austin.
"Lagi mandi. Ada apa? Nanti biar aku yang sampaikan," ujar David.
"Tidak apa, aku hanya ingin tahu kapan kalian akan kembali, karena lusa aku harus pergi ke China," ucap Austin.
"Mungkin sekitar 1 - 2 hari lagi. Belum pasti, nanti aku akan kabari," jawab David.
"Baiklah, sampaikan salam ku pada Rena," ujar Austin lalu menutup sambungan teleponnya.
David mengembalikkan handphone Rena di meja nakas, dan tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang keras di dekat bantal.
__ADS_1
David mengangkat bantal itu, dan menemukan sebuah lingerie seksi dan buku yang sudah di sembunyikan oleh Rena.
David mengerutkan keningnya dan melirik ke arah pintu kamar mandi.
David memperhatikan lingerie itu, dan tersenyum penuh arti, setelah itu ia membuka - buka halaman buku yang ada di tangannya, dan pikirannya kembali menjelajah.
Rena yang sudah selesai mandi, keluar dengan menggunakan bathrobe dan handuk kecil yang membungkus kepalanya.
"Yang,aku sudah sele...." ucapan Rena terpotong saat melihat apa yang ada di tangan David.
David pun tersenyum pada Rena, sambil terus membuka buku yang ada di tangannya.
"Aku tidak tahu, kalau kamu ternyata memiliki buku kasij sayang seperti ini. Apa kamu ingin memberi aku kejutan?" tanya David sambil mengangkat buku dam baju lingeri seksi pemberian dari Gita yang sudah ada di tangannya.
"Itu.... itu bukan milikku," ujar Rena. David pun mengerutkan keningnya.
"Ma...maksudku, itu memang milikku tapi aku dapat hadiah..... dari Gita," ujar Rena jujur.
"Temanmu Gita sangat pengertian sekali." ujar David sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rena memutar bola matanya.
"Karena kita sudah memiliki buku kasih sayang ini, jadi tidak boleh di sia - siakan bukan." ujar David dengan pandangan nakal.
"Ya ampun mulai lagi! Apa aku harus bernegosiasi dengannya?" batin Rena sambil berjalan mendekati David.
"Jadi?" tanya Rena sambil melihat cover buku itu.
"Ya harus kita praktekkan dong sayang," ujar David sambil memeluk Rena.
"Tapi ini banyak Yang, 400 halaman." ujar Rena sambil menunjuk tulisan di buku cover.
"Nggak masalah sayang," ujar David sambil tertawa.
"Kamu tahu kan, aku tidak cukup sehari melakukannya denganmu.Aku yakin dalam beberapa bulan saja, kita sudah menyelesaikan buku ini! Bagaimana?" tanya David sambil menggoda Rena.
"Begini saja Yang, ini kan banyak, kita undi saja sehari sekali mau coba yang mana," ujar Rena memberi masukkan.
"Sehari sekali?" tanya David terlihat keberatan.
"Iya. Kalau kamu mau lebih, ya boleh. Tapi ya harus ikutin buku ini, cuma sehari sekali aja," ujar Rena.
"Nah, kalau itu aku setuju sayang!" Ujar David sambil mencubit dengan gemas pipi Rena.
"Jadi kapan kita akan mulai mengundinya?" tanya David memberi sinyal sambil mengangkat kedua alisnya, dan tangannya mengangkat lingerie dan buku kasih sayang dari Gita.
"Kamu mandi dulu Yang! Aku lapar," ujar Rena sambil bangkit menarik David menuju ke arah kamar mandi.
Bersambung..
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1