Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Penyesalan


__ADS_3

Di ruamah sewaan Malvin Dirgantara.


Udara dingin dini hari yang menusuk kulit tidak di hiraukan oleh Malvin. Ia menghisap rokoknya dalam - dalam, berpikir apa yang akan dia lakukan.


Tujuh tahun yang lalu, Malvin tidak ragu untuk melakukan apa saja saat Alfaro tidak mengijinkannya bersama dengan Renatta Azaria, karena memang hanya Renatta yang ada di dalam hati dan pikirannya saat itu. Hatinya menjadi buta. Buta karena cinta.


Namun, kali ini dia gelisah.


Ada sesuatu yang lain yang ada di hati dan pikirannya. Bukan hanya Renatta Azria.


Ya, kini jabang bayi yang ada di dalam kandungan Mira telah mengusik ketenangan hatinya.Ia bahkan masih mencintai Renatta Azaria sampai detik ini. Akan tetapi, ia tidak pernah melihat Renatta mencintainya. Saat dia masih remaja pun, Renatta belum benar - benar membalas isi hatinya, dan tidak juga sekarang.


Apakah memaksakan kehendakknya, akan bisa mendapatkan hati Renatta? Apalagi sekarang lawannya bukanlah Alfaro, tetapi seorang Alexander David Mahendra. Ia sadar David bisa saja menghancurkan perusahaannya dalam hitungan minggu atau bahkan hari, jika ia mau.


Mira mungkin bukan Renatta, tetapi Mira sangat mencintainya dan kini ia telah mengandung anaknya. Apakah memaksakan kehendaknya pada Renatta dan meninggalkan Mira dan anaknya akan membuat hidupnya lebih baik? Apakah setimpal dengan resiko yang ia hadapi?


Malvin tidaklah muda lagi, ia sudah 35 tahun dan harus memikirkan bukan hanya masa depannya.


Di buanganya putung rokok untuk kesekian kalinya itu ke tanah. Dan ia pun masuk ke dalam rumah.


"Buka pintunya!" Pinta Malvin Dirgantara pada Arka untuk membuka pintu kamar Renatta.


Arka memberi signal pada anak buahnya untuk menunggu di ruangan lain. Sementara ia berbicara dengan Malvin.


"Maaf, kalau saya sudah berbicara lancang. Tetapi saya harap, anda bisa membuat keputusan yang tepat. Belum terlambat untuk berbuat yang benar," ujar Arka, sebelum Malvin membuat keputusan yang akan di sesalinya nanti.


"Buka saja pintunya! Dan biarkan aku berbicara dengannya!" Perintah Malvin lagi.


Arka pun mengangguk dan membuka pintu kamar Rena.


Rena yang sedang berbaring di atas ranjang segera beranjak dan berdiri saat mendengar kunci pintu di buka.


Malvin pun masuk ke dalam kamar Rena. Ia melihat Rena berdiri di ruangan itu dengan waspada. Malvin berhenti di tengah - tengah kamar Rena.



"Apa aku begitu menakutkan di matamu, Renatta?" tanyanya pada Renatta.


"Apa yang kamu harapkan Malvin! Kamu sudah menghancurkan keluargaku dan memisahkan aku dari keluarga yang aku sayangi!" Jawab Rena dengan lantang dan tidak boleh takut serta menunjukkan sisi lemahnya. Ia bertekad akan melawan Malvin. Apa pun yang akan terjadi.

__ADS_1


Rena akan bertahan sekuat tenaga, jika Malvin memaksakan kehendaknya dan ia yakin David akan menyelamatkannya.


Malvin menghela napas dalam. Ia berjalan mendekati Rena dan Rena pun dengan reflek mengambil langkah mundur.


"Jangan bertindak gegabah Malvin! Berhenti!" Teriak Rena pada Malvin yang terus berjalan mendekatinya.


Tangan dan mata Rena beredar, untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya mempertahankan diri. Rena pun mulai melemparkan benda - benda yang ada di dekatnya ke arah Malvin. Seperti, Vas bunga, Lampu tidur, panjangan - panjang kecil - kecil dan buku - buku yang ada di atas meja.


Malvin mengelak dan terus berjalan mendekatinya dengan terus menatapnya.


"Stop Malvin! Aku peringatkan padamu.Jangan mendekat!" Teriak Rena saat tidak menemukan apapun lagi, untuk ia lemparkan ke arah Malvin dan dirinya kini terpojok tidak bisa kemana pun.


Malvin berhenti kurang dari dua meter dari Rena.


"Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan?" batin Rena khawatir Malvin akan melakukan sesuatu yang tidak - tidak pada dirinya.


"Apa tidak pernah terbesit sedikit saja di hatimu, namaku?" tanya Malvin pada Rena.


Rena menggeleng, dan masih dengan siaga.


Malvin memandang Rena dengan lekat dan melangkah maju tidak menghiraukan teriakan Rena yang memintanya berhenti.


Malvin memandang Rena dengan tatapan bengis.


"Aku melakukan apapun! Apapun untukmu Renatta!" Pekik Malvin di depan wajah Rena. Tangannya terkepal dan menonjok tembok di sebelah wajah dengan keras. Membuat Rena berteriak tertahan dan menutup matanya.


Rena menahan nafasnya, mengira Malvin akan melampiaskan kekesalannya kepadanya, namun saat Rena membuka matanya Malvin menatapnya dengan lekat. Dan bukan lagi amarah dan kebencian yang ia lihat di sana.


Penyesalan. Ya, Rena kelihat tatapan penyelasan di mata Malvin Dirgantara.


Malvin mundur dan menatap ke bawah sebelum ia kembali menatap Rena.



"Maafkan atas apa yang telah aku lakukan padamu, Renatta. Maaf kan aku karena sudah membuatmu menderita selama ini. Sungguh aku minta maaf kepadamu! Kali ini aku menyerah dan aku berjanji tak akan pernah menganggumu lagi. Sekarang, aku melepaskan mu dan hidup berbahagia lah dengan orang yang kamu cintai itu, Renatta " ujar Malvin perlahan dan sambil menangis. Lalu ia melepaskan tangan Rena dan berbalik, berjalan meninggalkan kamar itu.


Rena tertegun dan hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi. Apa Malvin akan melepaskannya begitu saja? Pikir Rena


Kemudian Malvin berjalan keluar dari kamar tanpa ia menutupnya kembali.sebelumnya ia pun sudah menghampus jejak air matanya sebelum ia keluar dari kamar tadi.

__ADS_1


Arka yang sejak tadi menunggu dengan cemas di depan kamar, segera menghampiri Malvin.


"Arka. Kembalikan dia kepada David!" Ujar Malvin lalu melangkah keluar dari rumah sewaan itu dan masuk ke dalam mobilnya.


Ketiga anak buahnya yang lain, berdiri di dekat mobil Malvin Dirgantara dengan pandangan bertanya - tanya.


Arka berjalan menuju ke kamar Rena dan melihat Rena masih berdiri di pojokan ruangan dengan menyisakan ekspresi histeris, mungkin setelah kejadian mencekam yang telah di alaminya.


Arka pun membawanya sebotol air minum dan menaruhnya di meja dekat Rena.



"Minumlah, aku akan membawamu pulang sebentar lagi," ujar Arka kemudian meninggalkan kamar itu dan menutup pintu.


"Diki, siapkan kendaraan!" Perintah Arka pada Diki.


"Apa yang akan kamu lakukan, Arka?" tanya Tompel.


"Aku akan memulangkannya," jawab Arka.


"Apa maksudmu? Kita tidak boleh melakukan itu, Arka! Kita telah melakukan banyak hal untuk membawanya kesini! Lebih baik kita habisi saja dia!" Ujar Tompel sambil mengikuti langkah Arka.


"Apa kau bilang?!" Teriak Arka pada Tompel, sambil mengangkat kerah baju Tompel tinggi - tinggi. Membuat Tompel berdiri berjinjit.


"Jangan pernah membantah dan lakukan saja perintahku! Kita tidak akan menyakiti gadis itu, mengerti?!" Teriak Arka di depan wajah Tompel.


Tompel ketakutkana namun ia tidak menjawab.


"Lakukan, apa yang aku perintahkan! Dan aku akan membiarkanmu hidup!" Hardik Arka dengan tajam, kemudian menghempaskan Tompel ke tanah.


Diki dan Ricky yang melihat kejadian itu, menjadi ketakutan karena melihat kemurkaan Arka.


Di samping itu, David dan rombongannya telah sampai di depan rumah Malvin. Anak buah Gilang dan juga Bastian, keluar dari mobil seketika dan langsung menodongkan senjatanya ke arah para penjaga rumah Malvin Dirgantara, dan memaksanya untuk membuka gerbang rumah. Mereka sama sekali tidak menyangka akan kedatangan sepasukan orang yang bersenjata api di rumah itu. Bahkan Bos mereka pun tidak memberikan peringatan apapun.


Para penjaga itu pun akhirnya tidak punya pilihan lain lagi selain membukakan gerbang rumah dan membiarkan iring - iringan mobil itu masuk ke dalam halaman rumah Malvin Dirgantara yang luas itu.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca.Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2