Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Mencari Rena


__ADS_3

Rena keluar dari kamarnya perlahan dan bertemu dengan seorang penjaga di depan kamarnya.


Rena pun mencari akal agar bisa menyuruh penjaga itu pergi.


"Mas, Bapak ketinggalan handphonenya di pelaminan, bisa tolong ambilkan?" tanya Rena.


"Sebentar Bu, biar saya kontak te..." ujar penjaga itu namun di potong oleh Rena.


"Kata Gilang, Masnya tolong yang ambilkan karena yang lainnya sedang sibuk memeriksa pintu keluar," ujar Rena beralasan.


"Tapi Bu,"


"Tidak apa - apa. Saya bersama dengan Pak David." jawab Rena meyakinkan penjaga bahwa tidak masalah jika meninggalkannya sebentar.


Dan telepon genggam Rena masih terhubung dengan Arka, sehingga Arka bisa mendengar percakapan mereka.


"Baik, Bu" jawab penjaga itu, lalu ia menaiki lift ke lantai bawah. Rena pun segera naik lift lainnya dan turun ke ground floor.


"Apa lagi yang harus saya lakukan? Dimana Audrey?" tanya Rena mengkhawatirkan keadaan Audrey.


"Pastikan, tidak ada seorang pun yang bisa melihatmu, dan segera masuk ke dalam toilet di sisi barat dekat pintu keluar!" Perintah Arka.


"Ingat Renatta Azaria! Nyawa Audrey tergantung padamu, lakukan sesuai yang aku perintahkan!" Ancam Arka lagi.


Rena pun keluar dari lift dengan menengok ke kanan dan ke kiri. Ia bersembunyi di balik pohon dekorasi saat melihat beberapa penjaga yang ia kenal berjalan. Perlahan - lahan Rena berjalan menuju tempat yang di perintahkan oleh laki - laki yang meneleponnya itu.


Ricky yang berjaga di dekat lift mengikuti Rena dari belakang, memastikan bahwa Rena telah masuk ke dalam toilet itu sendirian dan tidak ada yang mengikutinya.


Sesampainya di depan toilet yang di tuju. Rena membuka pintunya secara perlahan dan berjalan ke dalamnya. Ia melihat Audrey sedang tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi itu, sedangkan seorang laki - laki berdiri di dekatnya.


"Pilihan yang bijaksana, Renatta!" Ujar Arka saat melihat Rena sudah masuk ke dalam toilet.


Rena pun langsung berlari kepada Audrey.


"Audrey! Audrey! Audrey bangun Audrey!" Panggil Rena dengan khawatir, mencoba membangunkan Audrey.


"Tenang Renatta, dia akan baik - baik," ujar Arka. Dan seketika itu juga Arka langsung membius Rena dengan sapu tangan yang sudah ia siapkan.


Di samping itu, David baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan bersenandung. Ia sudah memakai pakaian santai dengan kaos dan sweat pants.


"Yang, aku sudah selesai." panggil David sambil melihat ke sekeliling kamar President Suite mereka.

__ADS_1


"Yang?" panggilnya lagi sambil berjalan kearah ruang tamu yang telah di sediakan di sana.


Namun, ia masih belum juga melihat Rena.


"Yang?!" Panggilnya lebih keras dengan khawatir. Ia berkeliling ke ruangan itu sekali lagi, lalu keluar dari kamarnya dan melihat ke arah lorong hotel. Ia juga tidak menemukan seorang penjaga pun di sana.


David pun segera kembali ke dalam kamarnya dan mengambil handphonenya. Kemudian ia segera menelepon Rena. Terdengar nada panggilan, namun Rena tidak mengangkatnya. Ia mencoba sekali lagi, namun masih belum juga mengangkat telefonnya.


"Ayo, sayang! Angkat telefonmu!" Ucap David dengan penuh harap. Ia pun berjalan mondar - mandir di dalam kamarnya.


Dan David pun segera menelepon Gilang.


"Gilang, kamu tahu dimana Rena?" tanya David segera setelah Gilang menjawab panggilan teleponnya.


"Mbak Rena bukannya sedang bersama dengan Bapak di kamar?" tanya Gilang kaget.


"Rena tidak ada di kamar Gilang! Aku sudah berusaha meneleponnya dan dia tidak menjawab!" Ujar David dengan sangat khawatir, karena tidak biasanya Rena seperti ini. Rena selalu menjawab teleponnya.


"Baik! Saya akan segera kesana Pak!" Ujar Gilang dengan sigap.


David pun menutup pembicaraan teleponnya dengan Gilang dan kembali menelepon Rena. Namun, masih tidak ada perubahan. Telepon genggam Rena tidak juga di angkat.


Gilang yang baru saja menerima telepon dari David langsung menghubungi seluruh anak buahnya untuk menyisir keberadaan Rena dan memerintahkan mereka untuk mengecek rekaman CCTV di hotel itu. Ia menelepon Leo, anak buahnya yang di tugaskan untuk berjaga di President Suite.


"Saya sedang ada di Ball Room Pak. Sesuai perintah Bapak, untuk mencari telepon genggam Pak David yang ketinggalan."ujar Leo, yang masih mencari telepon genggam milik David di pelaminan.


"Leo! Saya tidak pernah menyuruh kamu untuk ke Ball Room! Sekarang juga temui saya di President Suite!" Perintah Gilang dengan gusar.


Gilang pun segera naik ke President Suite, menemui David. Sementara ia tetap memonitor laporan dari semua anak buahnya yang sedang menyisir hotel.Saat mencapai lantai atas hotel itu, ia pun berpapasan dengan Leo.


"Apa yang terjadi? Siapa yang menyuruhmu untuk meninggalkan Posmu?!" Tanya Gilang dengan geram.


"Ibu Rena yang menyuruh saya untuk mengambil Handphone milik Pak David. Katanya Pak Gilang yang menugaskan saya," terang Leo dengan cemas dan takut.


"Apa kau tidak punya pikiran?" ucap Gilang dengan kesal pada Leo, karena telah melalaikan tugasnya. Leo hanya menunduk karena merasa bersalah.


Gilang pun segera berjalan cepat ke arah President Suite dan mengetuk pintunya.


David pun segera membuka pintu saat ia mendengar pintu di ketuk. Ia berharap Rena yang ada di depan pintu.Namun, ia kecewa ternyata bukan Rena yang ada di sana.


"Dimana Rena, Gilang? Apa kamu sudah menemukannya?" tanya David langsung meminta penjelasan Gilang.

__ADS_1


"Belum Pak. Kami masih mencarinya," jawab Gilang.


"Aku tidak mau tahu! Kamu harus segera menemukannya Gilang!" Perintah David sambil terus menelepon telepon genggam milik Rena.


"Kami pasti akan segera menemukannya, Pak. Harap bersabar," ujar Gilang.


"Pak David, kalu boleh saya tahu, sebenarnya apa yang terjadi? Kapan terakhir kali Bapak melihat Mbak Rena?" tanya Gilang dengan berhati - hati.


David pun mematikan panggilan teleponnya.


"Rena sebelumnya masih ada di sini, Gilang! Ia masih ada di sini sebelum aku mandi, tetapi saat setelah aku mandi Rena sudah tidak ada,"


"Berarti terakhir kali Bapak bertemu dengan Mbak Rena sekitar setengah jam lalu?" tebak Gilang.


"Sekitar 40 menit yang lalu," koreksi David sambil melihat jam di handphonenya.


"Apa ada yang mencurigakan terakhir kali Bapak bertemu dengan Mbak Rena?" tanya Gilang lagi.


"Tidak ada Gilang. Dia juga baik - baik saja;" ujar David sambil mengingat wajah Rena.


"Leo, kapan Ibu Rena menyuruhmu untuk turun ke bawah?" tanya Gilang pada Leo.


"Setengah jam Pak. Dan saya belum lama tiba di Ball Room," jawab Leo.


"Lapor Pak. Kami menemukan Mbak Audrey dan telepon genggam milik Mbak Rena berada di toilet sisi barat di lantai dasar," ujar anak buah Gilang melalui walkie talkie.


"Oke, saya akan segera kesana," jawab Gilang sambil bergegas berjalan kearah pintu.


"Aku ikut!" Jawab David, sambil melangkah menuju pintu keluar.


"Bagaimana dengan kedaan Mbak Audrey?" tanya Gilang yang masih tidak menyangka jika Audrey ada hubungannya dengan menghilangnya Rena. Ia berharap Audrey tahu dimana keberadaan Rena.


Mereka bertiga segera berjalan menuju lift dan turun ke lantai dasar.


"Chandra, segera periksa rekaman CCTV di sekitar toilet di sisi barat, sejak 30 - 40 menit yang lalu!" Perintah Gilang melalui handphonenya.


"Baik Pak. Saya sudah di control room saat ini. Dan sedang saya cek." jawab Chandra langsung.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2