Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Hukuman David


__ADS_3

"Oke! Oke Pak, tunggu!" Ujar Rena akhirnya.


"Kalau saya jadi pacar Bapak untuk beberapa lama?" tanya Rena.


David mengerutkan keningnya. Tentu saja David tidak memikirkan tentang hal itu, tentu ia mengharapkan Rena akan menjadi pacarnya sampai mereka menikah nanti.


"6 bulan," jawab David.


"6 Bulan kemudian kita akan menikah, Rena." batin David.


Walaupun David sangat yakin ia bisa membuat Rena jatuh cinta padanya dalam waktu sebulan.


"1 bulan," ujar Rena menawar.


David memutar bola matanya. Kenapa gadis ini selalu menawar? Pikir David.


"Saya sudah terlalu baik sama kamu Rena! 3 bulan dan tidak bisa kurang lagi!" Ujar David.


"Oke Pak! Tapi saya juga punya syarat!" Ujar Rena cepat.


Syarat apa lagi? Desah David.


"Rena, kamu tidak ada di posisi untuk menawar dan memberikan syarat, kamu tahu kan?" ujar David dengan kesal.


"Bapak mau jadi pacar saya atau tidak? Kalau Bapak mau menjadi pacar saya Bapak harus setuju dengan syarat saya!" Ujar Rena. Rupanya Rena memang tidak mudah untuk di kalahkan!


"Baiklah apa syaratmu?" tanya David akhirnya.


Rena menghela nafas.


"Yang pertama, saya tidak bisa menjadi Asisten Bapak lagi. Maksud saya, kalau saya jadi pacar Bapak, bagaimana mungkin saya menjadi Asisten Bapak? Apa kata orang?" ujar Rena.


David memikirkan perkataan Rena.


"Baiklah, mulai besok kamu bukan Asisten saya lagi, kamu akan kembali bekerja di tim marketing," ujar David.


"Yang kedua...." ujar Rena.


"Astaga Rena, kamu punya beberapa syarat?" potong David kesal dengan syarat Rena.


Sulit sekali membuat gadis ini menjadi pacarnya!


"3 Pak. Saya punya 3 syarat!" Ujar Rena.


David menghela nafas.

__ADS_1


"Cepat, apa syarat yang kedua?" ujar David dengan tidak sabar.


"Yang kedua, tolong rahasiakan kalau saya ini adalah pacar Bapak," ujar Rena dengan nada gugup. Ia takut David akan marah dengan syarat ini.


"Rena? Bagaimana mungkin saya merahasiakan kamu? Kamu pacar saya Rena!"


"Pak, kalau orang - orang sampai tahu, saya pacar Bapak, bagaimana mungkin saya bisa bekerja? Nanti orang - orang akan membicarakan saya," ujar Rena.


Rena pun memikirkan jika sampai Abang sampai tahu. Ia pasti akan sangat marah.


"Baik, tapi aku tidak bisa merahasiakan ini dari keluargaku Rena. Mereka harus tahu, dan mengenal kamu," ujar David.


Rena berpikir. Mungkin kalau keluarga ia tidak akan keberatan. Lagi pula siapa lagi keluarga David keculi adiknya Audrey? Rena bahkan belum pernah bertemu siapapun di rumah David kecuali pelayan dan penjaga.


"Baik, saya setuju!" Jawab Rena


"Dan syarat yang ke 3?" tanya David.


"Saya... saya tidak..." Rena berdehem sebelum ia berkata, " Berhubungan badan sebelum menikah," ujar Rena lirih hampir tidak terdengar dan melihat lain arah.


Ia sedikit malu mengatakannya, tetapi ia harus mengatakannya agar David tidak memaksnya untuk melakukan itu suatu hari nanti.


David tertegun mendengar syarat yang ketiga. Tentu ia sudah menduga Rena bukanlah penganut pergaulan bebas. Bahkan pilihan kedua yang di ajukan David pun sebenarnya hanya untuk memaksa Rena untuk menjadi pacarnya.


David sangat yakin, ia akan menikahi Rena. Dan David pun tersenyum.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang, sayang?" tanya David pada pacar barunya untuk 3 bulan kedepan.


Wajah Rena memerah mendengar panggilan mesra David untuknya.


"Pak..." Rena hendak meminta David untuk pulang, karena hari sudah malam. Namun, di potong ucapannya oleh David.


"Rena, aku bukan Bosmu lagi saat ini. Jangan panggil aku Pak kalau kita sedang berdua seperti ini!" Ujar David sambil membelalakan matanya.


"Terus saya harus panggil apa, Pak?" tanya Rena.


David berdecak.


"Terserah kamu, kamu bisa panggil saya Sayang, Honey, Baby, Ayang, Beb, Mas, Love, Oppa...." ujar David panjang lebar.


"Boleh nggak Pak, saya panggil Ong... yang artinya songong?" batin Rena menahan tawanya.


"Ah nggak... saya belum terbiasa memanggil Bapak dengan sebutan - sebutan seperti itu," ujar Rena berdalih.


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa! Awas kalau sampai kamu panggil saya Pak, Bapak lagi saat kita sedang bedua... kamu sudah tahu kan apa hukuman saya untuk kamu?" ujar David sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Ah... iya.. iya, Pa... eh Yang," ujar Rena dengan gugup. Hampir saja ia memanggil David dengan sebutan Pak!


"Gitu dong, Ren!" Ujar David tersenyum senang. Akhirnya berhasil juga ia mendapatkan Rena!


"Kita keluar yuk, Ren. Aku ingin merayakan hari ini bersama kamu!" Ujar David.


"Tapi ini sudah malam Pak!" Ujar Rena, namun ia segera menutup mulutnya yang keceplosan.


David menyadari itu dan ia pun menyeringai.


"Rena.... sini sayang..." panggil David dengan wajah yang sumringah. Ingin segera memberi hukuman kepada Rena.


"Maaf Pak, saya lupa!" Ujar Rena yang kembali keceplosan.


Aduuuuuhhh! Mulut ini kenapa siiiih! Umpat Rena pada dirinya sendiri. Sambil menepuk bibirnya sendiri dengan telapak tangannya. Duuuuhh!


Dalam sekejap mata Rena sudah dalam pelukan David. David mengangkat dagu Rena hingga pandangan mereka bertemu.


"Apa kamu sengaja ingin saya hukum?" tanya David sambil melihat ke arah bibir Rena, dan ia menelan ludahnya. Jakunnya naik turun, sudah tak sabar ingin mencicipi lagi candu manis Rena.


Rena menggeleng. Ia tidak mau menjawab, takut berbicara keceplosan lagi.


"Karena kamu sudah menjadi pacar saya, mulai sekarang kamu harus membalas ciuman saya setiap kali saya menciummu. Kalau tidak, saya tidak akan berhenti sampai kamu merespon balik. Kamu mengerti Rena?" ujar David, masih memeluk Rena. Rena kembali hanya mengangguk, tidak mau menjawab pertanyaan dari David.


David pun perlahan menurunkan kepalanya mendekati wajah Rena. Di pandanginya wajah cantik yang ada di hadapannya.


Badan Rena menegang, menyadari apa yang David akan lakukan padanya.


"Kamu milikku, Renatta Azaria!" Ucap David dalam batin. Kemudian ia perlahan mengecup bibir Rena, kemudian melepasnya. Di pagutnya lagi bibir bawah Rena, hingga Rena memejamkan matanya menikmati apa yang David lakukan padanya. Tanpa di sadari, Rena membalas ciuman David dan mereka pun saling mencium satu sama lain seperti layaknya sepasang kekasih, berpagutan dengan penuh semangat dan membelai satu sama lain. David menyesap lama bibir bawah Rena sebelum ia melepasnya, mengecupnya sekali lagi, kemudian ia tersenyum saat Rena membuka matanya.


Rona merah memenuhi wajah Rena. Ia merasa sangat malu telah menikmati hukuman dari Alexander David Mahendra.


"Ayo ikut aku," ujar David sambil menggandeng tangan Rena dan berjalan keluar dari apartemen.


"Kita mau kemana?" tanya Rena pada David saat mereka melewati pintu apartemen Rena.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk merayakan hari jadi kita!"


Hari jadi kita? Rena memutar bola matanya, namun di ikutinya David.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2