Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Jagalah Adikku


__ADS_3

Bastian melajukkan mobilnya malam itu, setelah mendapatkan telepon dari Agus kepala asisten rumah tangga di rumah Austin Leonard Alfaro.


Penjaga yang telah mendapatkan perintah untuk membiarkan Bastian masuk pun membukakan pintu.


Di dalam rumah, Bastian di sambut oleh Agus yang langsung memberitahukan bahwa Austin telah menunggunya di ruang kerja. Ia pun segera berjalan menuju ke ruang kerja Austin.


"Selamat malam Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Bastian saat ia memasuki ruang kerja Austin.


"Ya Bastian. Silahkan duduk," ujar Austin.


"Apa yang bisa saya bantu Pak?" tanya Bastian pada Austin.


"Aku ingin kau memperhatikan gerak - gerik dari Malvin Dirgantara dan apa saja yang ia lakukan," ujar Austin.


"Dan mulai sekarang, segera kumpulkan anak buahmu sebanyak mungkin. Aku ingin kalian siap jika sewaktu - waktu aku butuhkan." perintah Austin.


"Baik Pak. Ada lagi yang Bapak butuhkan?" tanya Bastian.


"Ya" jawab Austin, kemudian memanggil Bastian mendekat.


...******...


Di taman bermain.


Setelah hampir mencoba semua wahana yang ada di taman bermain itu selama dua jam. David dan Rena terlihat sangat lelah, namun senyum tersungging di bibir mereka.


"Aku tidak tahu, kalau kamu sangat berani menaiki semua wahana itu!" Ujar David sambil mengomentari keberanian Rena.


Rena tampak tidak kenal takut, mencoba semua wahana yang cukup memompa adrenalin itu.


"Sejak kecil aku sangat menyukainya, jadi aku tidak takut lagi." ujar Rena.


"Apakah yang di Jepang dan LA lebih menakutkan?" tanya Rena ingin tahu, sembari mereka berjalan ke arah mobil mereka. Di tangannya Rena membawa sebuah boneka kelinci besar yang di dapat David dari hasil menembak target, dan segelas minuman segar yang baru saja mereka beli di outlet dekat pintu keluar.


"Ya... beberapa lebih menegangkan. Aku rasa kamu akan menyukainya," komentar David.


"Hmm... kamu harus bawa aku kesana, Pak David," ujar Rena sambil tersenyum menggoda.


"Pasti, aku akan membawa kamu kesana setelah kita menikah," ujar David.


"Kenapa setelah kita menikah?" tanya Rena.


"Sayangku, kamu tidak dengar apa yang aku katakan barusan? Di sana itu wahananya lebih menegangkan," ujar David kemudian menghabiskan minuman dinginnya dan membuang bungkusnya ke dalam tong sampah yang mereka lalui.


"Lalu?" tanya Rena heran, tidak mengerti hubungannya, kenapa harus menikah terlebih dahulu untuk bisa menaiki wahana yang ada di sana.


"Kamu tidak ingat syarat yang aku ajukan tadi untuk menaiki wahana itu?" tanya David sambil menunjuk wahana - wahana yang telah mereka naiki tadi.


"Ya?" tanya Rena yang masih tidak mengerti.


"Apa kamu pikir aku akan meminta syarat yang sama jika wahananya lebih menegangkan dari ini?" tanya David lagi.


Rena masih berpikir, Oke, apalagi syarat yang David inginkan?

__ADS_1


David mendekat dan berbisik di telinga Rena.


"Aku hanya tidak akan meminta untuk dinaiki, tetapi aku juga akan menaikimu, mengerti sayang?"


Dengan itu, David berjalan meninggalkan Rena sambil tertawa geli melihat ekspresi terkejut Rena.


"Ayo Yang, kita Pulang!" Teriak David sambil berbalik melihat Rena yang masih berdiri di tempat tadi ia meninggalkannya dan masih terkejut dengan perkataannya tadi.


"Sayang, ayo pulang sebelum Abangmu melarang aku untuk menemuimu lagi!" Ujar David sambil berteriak.


David tampak sangat bahagia malam itu. Ia tidak menyangka bisa menghabiskan malam bersama Rena di taman bermain bisa membuatnya sangat bahagia.


Rena yang tadinya masih terkejut dengan ucapan David, kini menggelengkan kepalanya melihat David yang berteriak dengan lepasnya; tidak perduli pandangan pengunjung lain yang ada di sana.


"Rena, ayolah!" Teriak David lagi membuat Rena melangkah cepat menuju mobilnya.


Mereka pun pulang ke kediama Alfaro. Dalam perjalanan, David menelefon Eddy untuk menjemputnya di sana.


"Apa kamu sudah mengantuk? Biar Tirta yang mengantarkanmu pulang," ujar Rena menawarkan supir keluarganya untuk mengantar David pulang.


"Tidak, aku tidak mengantuk. Aku akan meninggalkan mobil ini di rumahmu dan aku akan pulang bersama dengan Eddy. Mobilmu yang satu lagi mau aku bawakan juga?" tanya David.


"Tidak usah biar lain kali aja," jawab Rena.


David pun mengangguk.


"Aku senang sekali hari ini, Ren. Aku bukan hanya di beri ijin untuk menemuimu. Tetapi juga menghabiskan waktu seharian bersama denganmu," ujar David sambil menggenggam tangan Rena.


"Aku juga senang.... mendapat boneka ini," ujar Rena bergurau sambil memeluk boneka kelinci di pangkuannya dengan gemas, sengaja menggoda David.


Mereka pun sampai di rumah keluarga Alfaro dan penjaga gerbang langsung membukakan pintu saat melihat Rena dan David berada di dalam mobil.


"Abang dimana, Gus?" tanya Rena pada Agus yang membukakan pintu.


"Di ruang kerja, Mbak. Sedang bicara dengan Bastian," jawab Agus.


"Sudah dari tadi?" tanya Rena lagi.


"Sudah lebih dari satu jam Mbak," jawab Agus.


Rena mengangguk dan berpikir, Abangnya itu sebentar lagi akan selesai.


"Yang, Abang sedang ada meeting. Kamu mau pulang duluan atau menunggu Abang?" tanya Rena.


"Aku tunggu sebentar. Eddy juga belum sampai," ujar David sambil duduk di sofa.


O iya, Rena baru teringat Eddy.


"Pak David, mau minum sesuatu? Kopi?" ujar Agus menawarkan.


"Ya, terima kasih," jawab David.


David dan Rena pun menunggu Austin selesai berbicara dengan Bastian sambil menikmati kopi buatan Agus.

__ADS_1


David berpikir jika ada sesuatu yang terjadi. David mengetahui dari Gilang, bahwa Bastian adalah anak buah dari Austin yang mengurus masalah keamanan. Dan kelihatannya Austin berbicara cukup lama dengan Bastian.


Setelah menunggu setengah jam, Austin dan Bastian akhirnya keluar dari ruang kerja.


"Saya permisi dulu, Pak." pamit Bastian. Kemudian ia pun pamit kepada Rena dan juga David.


"Kalian baru pulang?" tanya Austin sambil melirik ke arah jam


"Sudah dari tadi, Bang. Kami menunggu Abang,"


ujar Rena.


"Ada apa?" tanya Austin.


"Tidak ada apa - apa. Aku hanya ingin mengantar Rena pulang," ujar David.


Austin mengangguk.


"Yang, kamu istirahat aja dulu," ujar David pada Rena agar segera beristirahat.


Rena mengangguk dan segera mencium tangan Austin sebelum naik ke kamarnya di lantai dua.


"Kalau boleh tahu, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya David setelah Rena sudah tidak terlihat lagi.


Austin menarik nafas panjang.


"Malvin datang kesini tadi sore," ujar Austin.


David tidak tampak terkejut. Ia sudah mengira dengan kedatangan Bastian ada hubungannya dengan Malvin Dirgantara.


"Apa dia melakukan sesuatu?" tanya David lagi.


"Tidak. Tidak saat ini," ujar Austin.


"Aku akan menjaga Rena disini. Tetapi, berhati - hatilah kalau kau sedang bersama dengan Rena. Aku tidak ingin sesuatu hal yang tidak inginkan atas adikku," ujar Austin.


"Kamu tahu aku akan selalu melindungi Rena. Apa kau butuh batuanku?" tanya David.


"Jagalah adikku baik - baik," ujar Austin.


David mengangguk.


"Maaf Pak David mobil Bapak sudah sampai," ujar Agus.


"Baik, terima kasih," ucap David pada Agus.


"Aku pulang dulu Austin, katakan saja kalau butuh batuanku," ujar David sambil menyalami Austin.


Austin mengangguk dan menerima uluran tangan David.


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2