
David dan Audrey baru saja kembali dari pertemuan mereka dengan Mama mereka. David bersyukur pertemuannya dengan sang Mama setelah sekian lama tak berbicara dan bertatap muka pun bisa terwujud. Pertemuan itu pun bisa terwujud. Pertemuan itu berlangsung dengan sangat mengharukan, walaupun terasa canggung pada awalnya.
Kali ini David berhasil membiarkan hatinya memaafkan Mamanya dan bisa menerima alasan sang Mama meninggalkan Audrey dan juga dirinya.
Ia tak lagi menyalahkan Mamanya atau pun Oma dan Opanya yang telah melarang Mama untuk menemuinya dan Audrey.
"Dimana Rena?" tanya David pada Jefri saat ia memasuki rumah dan tidak melihat Rena dimana pun.
"Sepertinya di ruang baca, Pak." jawab Jefri.
"Kak, aku pergi dulu ya, sama Rico dia sudah menunggu di depan," ujar Audrey.
"Oke, berhati - hatilah di jalan," jawab David sambil berjalan menuju ruang baca yang ada di lantai dua, mencari Rena.
David membuka ruang baca dan mendapati Rena tengah berbaring di sofa sambil membaca sebuah buku di tangannya.
"Ren," panggil David sambil menepuk bahu Rena.
Rena yang mendengar panggilan dari David pun langsung menoleh dan tersenyum saat melihat David
"Hey, bagaimana pertemuannya?" tanya Rena seketika sambil merubah posisinya menjadi duduk.
"Baik, seharusnya aku melakukannya dari dulu," ujar David sambil tersenyum. Terlihat tatapan bahagia di matanya.
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.Aku ikut senang," ujar Rena sambil memeluk David.
David balas memeluk Rena.
"Terima kasih sayang," ujar David masih memeluk Rena dengan erat. Rena mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Kapan kamu akan mengajak aku bertemu dengan Kakakmu, Austin?" tanya David.
Rena terkejut, karena David tiba - tiba saja menanyakan hal itu.
"Mengenai hal itu, aku belum tahu," jawab Rena.
"Kita bisa menemuinya sekarang kalau kau mau," ujar David saat ia teringat Gilang menelefonnya tadi pagi.
Rena memandang David ragu untuk berbicara.
"Masalahnya Kak Austin tidak tahu hubungan kita dan dia... dia... dia.... tidak setuju jika aku berhubungan denganmu," ujar Rena akhirnya memutuskan untuk memberi tahu pada David.
David mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa dia tidak setuju? Apakah aku kurang baik untukmu?" tanya David dengan intonasi suara meninggi.
"Bukan, bukan itu. Hanya saja, Kak Austin berpikir bahwa kamu sama saja seperti Malvin," ujar Rena dan langsung menambahinya lagi "Karena Kakakku hanya ingin melindungiku saja, tidak ada maksud lain,"
"Kamu tahu kan, aku tidak sama dengan Malvin," ujar David.
"Dan aku pun tidak akan menyakitimu atau pun keluargamu," tambah David lagi.
"Aku tahu, tapi Abang Austin belum mengenalmu," ujar Rena.
"Maka kenalkan aku padanya!" Ujar David dengan keras.
"Oke, akan aku kenalkan. Tapi tidak hari ini, karena Abang sedang keluar negeri untuk perjalanan bisnisnya," ujar Rena.
"Ya sudah, kasih tahu aku kalau dia sudah kembali," ujar David sambil beranjak.
"Aku keruangan kerjaku dulu, ada yang harus aku lakukan," ujar David sambil berjalan ke arah pintu keluar.
Belum lama David berada di ruangan kerjanya, Jefri datang menghampiri.
"Pak, penjaga melaporkan bahwa ada Austin Leonard Alfaro di depan gerbang ingin bertemu dengan Bapak," lapor Jefri padanya.
Austin? Ada perlu apa ia datang kesini? Bukankah ia ada bussines trip ke luar negeri? Pikir David.
"Biarkan dia masuk aku akan menemuinya.
...*****...
Austin tak gentar memasuki gerbang rumah David yang di jaga oleh beberapa orang penjaga keamanan. Belum lagi beberapa penjaga yang berpatroli di sekeliling rumah yang sangat luas itu. Tak di pungkiri bahwa Alexander David Mahendra adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki segalanya.
Austin datang hanya di temani oleh Bastian, orang yang di percayanya untuk menangani masalah keamanan di perusahaan peninggalan Ayahnya.
Tangan Austin mengepal dengan sangat keras, menahan geramnya ulah David pada Rena, adiknya. Ia tidak perduli dengan seberapa banyak penjaga yang di miliki oleh David, karena tekadnya sudah bulat.Apa pun yang harus terjadi, ia harus membawa Rena pulang bersamanya. Tak akan di biarkan adik kesyangannya itu menderita.
Bastian menghentikan mobil yang di kendarainya di depan pintu masuk gerbang rumah Alexander David Mahendra. Ia pun sudah siap dengan segala hal buruk yang mungkin saja terjadi. Baik ia dan Bastian masing - masing sudah membawa sepucuk senjata tajam bersama mereka.
Austin keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu depan rumah David dan di ikuti oleh Bastian yang ada di belakangnya.
Jefri yang melihat kedatangan Austin membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk dan menunggu di ruang tamu, sementara ia memberitahukan kedatangan mereka kepada David.
David yang telah selesai merapikan berkas - berkas pekerjaannya, beranjak keluar dari ruang kerjanya, melewati ruang baca, dimana Rena berada. David pun langsung masuk ke dalam ruang baca itu, namun mendapati Rena yang sudah tertidur di sofa dengan memegang sebuah buku di tangannya.
David tak sampai hati membangunkannya, ia terlihat sangat lelap. Mungkin lelah setelah tadi pagi berenang beberapa lap dengan sangat cepat.
__ADS_1
David menyingkirkan buku yang sedang di pegang oleh Rena dengan hati - hati agar tidak membangunkannya. Lalu David keluar dari ruang baca menuju ke lantai satu di mana ia bertemu Jefri, saat menuruni tangga.
"Pak Austin sudah datang, dan sedang menunggu di ruang tamu," lapor Jefri padanya.
David mengangguk dan berjalan menuju ke ruang tamu.
"Austin, apa kabar?" tanya David dengan hangat.
Austin yang duduk di sofa segera berdiri dan menghampiri David dengan tangan yang terkepal.
Bugh!
Sebuah hantaman kepalan tangan mendarat dengan mulus ke rahang David tanpa ia sempat menghindar. Dan ia pun terhuyung.
"Dimana adikku, Rena?!" Teriak Austin dengan amarah.
Jefri yang melihat hal itu segera memencet tombol rahasia yang ada di dekatnya mengirimkan sinyal kepada para penjaga untuk segera masuk, kemudian memegang David yang masih terkejut dengan hantaman dari Austin.
Beberapa penjaga rumah David masuk dan menodongkan senjata ke arah Austin, dan Austin pun menodongkan senjata ke arah David. Sementara Bastian menodongkan senjata ke arah penjaga David. Situasi saat itu sangat menegangkan. Mereka masing - masing menodongkan senjata ke arah yang berlawanan.
"Turunkan senjatamu!" Teriak penjaga David kepada Austin dan juga Bastian.
"David! Cepat katakan dimana adikku, Rena!" Teriak Austin pada David sekali lagi sambil menodongkan pistol ke arah David. Amarah telah menguasainya dan ia sama sekali tidak takut dengan orang - orang David yang mengelilinginya dan Bastian.
"Turunkan senjata anda Pak!" Teriak salah satu penjaga David dan menodongkan senjatanya ke arah Austin.
David yang saat itu mulai pulih kesadarannya, memberikan kode kepada para penjaganya untuk tenang.
"Austin, tenang! Rena memang ada di sini, tetapi kamu tidak perlu bersikap seperti ini!" Ujar David dengan tegas.
"Diamlah David! Kamu jangan banyak bicara! Sekarang lepaskan Rena!"
" Lepaskan Rena? Apa maksudnya?" batin David.
"Jefri, bangunkan Rena di ruang baca!" Perinath David.
Jefri pun segera berlari ke arah ruang baca di lantai dua.
Bersambung...
Nantikan terus kisah selanjutnya ya...!
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan hadiahnya.