Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Hadiah Kejutan


__ADS_3

Di teras belakang rumah, David dan Rena sedang berbicara dengan team dari Wedding Organizer yang akan mengatur penyelenggaraan resepsi pernikahan mereka yang rencananya akan di laksanakan akhir minggu itu.


Rena dan David sudah menikah hampir dua minggu dan mereka melalui hari - hari mereka dengan penuh gairah layaknya pengantin baru.


Tidak pernah seharipun mereka lalui tanpa bercinta, untuk mengeksplore buku Kamasutra yang di berikan oleh Gita, membuat kehidupan rumah tangganya mereka menjadi berwarna setiap harinya.


"Jadi nanti Bapak dan Ibu tinggal fitting baju pengantin saja, karena segala sesuatunya sudah kami persiapkan," ujar Nada, pemilik Wedding Organizer yang terkenal di kota mereka.


"Ada lagi yang kamu inginkan sayang?" tanya David pada Rena sebelum mereka menutup meeting mereka dengan pihak Wedding Organizer.


"Sudah cukup, Yang." jawab Rena sambil menoleh dan tersenyum pada suaminya itu.


"Ibu tidak usah khawatir karena resepsi pernikahan Ibu dan Bapak akan indah dan menjadi pernikahan yang sensasional," ujar Nada.


Rena pun sebenarnya tidak meminta resepsi pernikahan yang mewah dan megah seperti yang David rencanakan, akan tetapi resepsi pernikahan mereka akan mengundang kolega - kolega dan rekan bisnis David, sehingga mau tidak mau resepsi pernikahan mereka di buat megah dan mewah. Sebagai pengusaha, David harus menjaga nama baik dan Prestisnya, dan Rena sebagai Istri harus berusaha untuk mengerti dan mendukungnya.


"Baiklah, kalau tidak ada yang lain, kami permisi dulu, untuk perkembangannya akan kami infokan lebih lanjut," ujar Nada sambil beranjak dan menyalami David dan Rena.


"Terima kasih, Mbak Nada." ucap Rena sambil menyambut uluran tangan Nada.


"Yang, aku harus berangkat siang ini. Kamu yakin tidak mau ikut aku?" tanya David saat Nada telah meninggalkan tempat pertemuan mereka. Rencananya David akan pergi ke Jepang siang itu untuk urusan bisnis selama 2 atau 3 hari.


"Kamu kan sedang ada bisnis di sana dan lagian aku tidak bisa ikut, karena Abang Austin belum pulang dari China," ujar Rena.


Rena memang di minta untuk menggantikan posisi Austin selama Austin pergi berbisnis ke China, sehingga ia tidak bisa pergi bersama David.


"Kalau aku kangen gimana?" tanya David.


"Ya tinggal telepon!" Jawab Rena sambil tersenyum geli.


"Tapi, kalau aku kangen yang itu?" tanya David memberi kode. Rena pun mengerti maksud David.


Ia pun mendekat dan tersenyum menggoda dan berbisik, " Nanti, kalau kamu sudah pulang aku kasih dobel!"


"Yes!" Pekik David senang, membuat Rena tersenyum geli melihat suaminya itu.


...*******...


Rena sangat rindu dengan David setelah dua hari tidak bertemu karena bisnis meeting David yang ada di Jepang. Dan David baru saja pulang pagi ini. Tetapi ia tidak sempat menemui Rena di rumah, karena harus datang ke kantor untuk meeting paginya.


Rena pun mematut dirinya di depan cermin di dalam kamarnya. Ia memoles make up tipis dan memulas lipstik berwarna clasic red di bibirnya.


Rena berencana menemui David di kantornya siang ini sekaligus membawakan makan siang yang baru saja di masakanya untuk David. Selain itu Rena juga akan memberikan hadiah kejutan untuk David. Long coat berwarna cream yang di pakainya menutupi menutupi gaun berwarna merah yang sexy yang ia kenakan siang itu untuk David.


Ia beranjak dari meja riasnya dan berjalan menuju di meja nakas di samping tempat tidur, mengambil kotak undian dan buku yang membuat hari - hari mereka sangat bergairah.


Ya, karena Rena sudah berjanji pada David, akan memberikannya dua kali lipat saat ia datang nanti, dan ia ingin menunaikan janjinya itu.


Rena berjalan turun dari kamarnya menuju ke pintu depan rumah dimana Gilang telah menunggunya.

__ADS_1


"Mbak Rena, ini kotak makan Bapak." ujar Jefri sambil memberikan kotak makan siang yang sudah di siapkan oleh Rena untuk David.


"Terima kasih, Jefri." balas Rena, hampir saja ia lupa membawa kotak makan itu karena terlalu bersemangat untuk segera bertemu dengan David.


Setelah itu, Rena masuk ke dalam mobil BMWnya yang di supiri oleh Gilang. Saat Rena hampir sampai di Gedung Mahendra Tower, David meneleponnya.


"Yang, aku mungkin akan datang terlambat sampai di kantor, kamu tunggu saja di dalam kantor, aku usahakan akan kembali secepatnya," ujar David mengabarinya.


Rena sedikit kecewa, karena David akan sedikit terlambat kembali ke kantor. Tetapi ia memaklumi.


"Ya sudah Yang. Aku tunggu di kantor ya, kamu hati - hati di jalan," ujar Rena.


"Iya sayang, pasti. I love you." ujar David.


"Love you too, Yang." jawab Rena sambil tersenyum membayangkan wajah David.


"Kita sudah sampai, Mbak." ujar Gilang dari kursi pengemudi.


Gilang juga mendengar apa yang di katakan David pada Rena, sehingga ia menunggu perintah dari Rena apa yang selanjutnya harus di lakukan.


"Parkir dulu saja, Gilang." ujar Rena sambil mendial nomor Gita.


"Halo! Apa kabar cantik kesayangan Pak David!" Ujar Gita berceloteh seperti biasa.


Rena tertwa mendengar panggilan Gita buatnya.


"Yah, selain kerja ngejar target. Aku baik - baik saja!" Seru Gita sambil tertawa.


"Ada apa nih, Ren? Kok tumben kamu nelfon jam segini?" tanya Gita heran, karena biasanya Rena sedang sibuk di jam kantor.


"Aku sedang ada di gedung Mahendra, kamu ada di kantor?" tanya Rena.


"Ada sayangku. Kamu ada di mana? Biar aku ke tempatmu?" ujar Gita.


"Nggak usah, biar aku ke tempatmu saja, tunggu ya. Aku sudah ada di basement " ucap Rena sambil beranjak keluar dari mobilnya dan Gilang pun mengikuti Rena berjalan keluar mobil. Mereka kemudian berjalan dan menaiki lift menuju ke lantai 30 di Divisi Marketing.


"Rena!" Seru Gita. Saat Rena keluar dari lift VIP bersama dengan Gilang.


"Gita!" Balas Rena sambil cipika dan cipiki dengan Gita.



"Halo Gilang," sapa Gita sambil tersenyum genit pada Gilang.



Gilang tersenyum, namun tetap menjaga sikap dan menyapa balik Gita. "Mbak Gita,"


Rena hanya tersenyum geli melihat Gita dan Gilang saling melirik.

__ADS_1


"Gilang, saya tidak apa - apa jika di tinggal. Nanti, kalau saya sudah selesai saya hubungi ya," ujar Rena kepada Gilang agar ia tidak menunggunya selama bersama dengan Gita.


"Oh iya, tolong taruh ini di ruang kantor Bapak," ujar Rena sambil memberikan kotak makan kepada Gilang.


"Baik Mbak," ujar Gilang sambil berbalik ke arah lift.


"Ya ampun Ren! Kenapa Gilang tambah ganteng aja sih," celoteh Gita sambil memandangi punggung Gilang yang berjalan ke arah lift dan menaikinya.


"Ya udah sana, ngomong langsung sama orangnya!" Goda Rena pada Gita.


"Gengsi dong," jawab Gita sambil tersenyum, mereka lalu berjalan masuk ke ruangan Marketing.


Rena bertemu dan menyapa teman - teman yang di kenalnya saat masih bekerja di sana. Dan mereka pun mengobrol dengan serunya di ruangan istirahat karyawan sampai David menelepon Rena lagi.


"Sayang, kamu sudah di kantor?" tanya David.


"Sudah. Tapi aku sedang di ruangan Marketing bersama dengan Gita." jawab Rena memberitahukan.


"Aku sudah sampai, aku jemput di sana ya," ujar David.


"Nggak usah Yang, biar aku yang ke ruanganmu." jawab Rena.


"Gak pa - pa. Aku sekalian lewat. Sudah ya, Yang. Sebentar lagi aku naik lift." ujar David lalu menutup percakapan teleponnya.


"Git, David sebentar lagi datang. Aku tunggu di kubikusmu ya." ujar Rena meminta ijin pada Gita.


"Iya, pake aja. Kamu duluan gih, aku mau ke toilet dulu." ujar Gita sambil beranjak dari duduknya. Mereka berdua pun keluar dari ruang istirahat karyawan dan berpisah.


Rena berjalan menuju ke kubikus Gita dan melewati kubikus Manda. Saat itu, Manda sedang berbicara dengan dua orang temannya, dan mereka tidak mengetahui kehadiran Rena.


"Kalian ini. Apa sih, yang hebat dari si Rena? Dia itu kerjanya hanya menggoda para pria - pria kaya! Sekarang aja Pak David CEO kita sudah tergoda sama si Rena karena akal bulusnya. Tapi lihat ya, palingan juga nggak lama lagi Pak David akan bosan. Cewek simpanan kaya gitu juga Pak David juga nggak bakalan mau," timpal Manda.


Glek.


Rena merasa sakit hati di bilang cewek simpanan.


Kedua orang teman Manda tidak sengaja melihat Rena ada di belakang Manda dan membalalakan matanya.


"Katanya dia itu anaknya Alfaro? Ah, paling dia hanya mengada - ngada! Mana ada anaknya Alfaro hidupnya kaya dia, jadi simpanan orang! Keluarga Alfaro kan tajir! Lihat aja si Austin itu, udah kaya, ganteng lagi! Masa iya, adiknya kerja di PUB di bolehin. Nggak mungkinlah! Palingan juga dia kerja di PUB tuh, jual diri! Emang udah bawaannya, itu perempuan cuma bisanya cuma mengada - ada! Belum pernah kena getahnya dia!" Ujar Rena tidak berhenti menjelek - jelekkan Rena.


Kedua orang di depan Manda, mencoba memperingatkan Manda, namun sepertinya Manda tidak menangkap maksud dari sinyal teman - temannya itu.


Tiba - tiba suara berat maskulin berdehem. Membuat semua orang yang ada di sekitar meja Manda terkejut dan menoleh ke arah asal suara itu, begitu pula Rena.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen dan vote serta hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2