
David dan Rena sangat bersemangat hari ini. Rencananya mereka akan mengadakan resepsi pernikahan mereka nanti malam. Audrey, Oma dan Opa sudah datang dan menginap di rumah. Bahkan Abang Austin pun sudah kembali dari perjalanan bisnisnya ke China.
Tidak terlihat kesibukkan di kediaman David, karena segala sesuatunya sudah di kerjakan oleh Wedding Organizer yang mereka sewa.
Namun sejak pemberitaan mengenai pernikahan mereka terkuak. Media masa tidak habis - habisnya mencoba mencari berita mengenai kedua pengantin baru tersebut. Bahkan berapa kali para penjaga harus mengusir awak media yang sembunyi - sembunyi menangkap kamera kegiatan David dan Rena yang sedang berada di rumah.
Gilang pun telah mensterilka lokasi hotel tempat acara resepsi yang akan di laksanakan. Begitu juga dari pihak kepolisian ikut membantu mengamankan, karena akan di hadiri oleh tamu - tamu penting seperti Gubernur, dan para pejabat tinggi lainnya. Serta Pengusaha - pengusaha sukses dan juga para kolega - kolega David.
Akhirnya waktu acara pun telah tiba, semua keluarga sudah berada di tempat acara dan tamu - tamu hotel pun telah berdatangan. Mereka semua mengucapkan selamat atas pernikahan David dan Rena. David bahkan mengadakan konferensi pers, untuk mengumumkan secara resmi pernikahannya dengan Rena yang telah di langsungkan kurang lebih selama 3 minggu yang lalu.
"Saya dan Renatta Azaria memohon maaf sebelumnya, karena tidak memberitahukan hari bahagia kami kepada teman - teman wartawan."
"Memang benar, saya dan Renatta Azaria sudah menikah sejak 3 minggu yang lalu. Pernikahan kami di lakukan secara tertutup di kediaman Almarhum Alfaro, Ayah Renatta dan hanya di hadiri keluarga terdekat saja." ujar David mengkonfirmasi secara resmi dalam Pers Converence yang di adakan di Lobby hotel dengan di dampingi oleh Rena.
Mereka berdua menjawab semua pertanyaan awak media selama Pers Converence itu dan segera kembali ke tempat acara saat waktu yang telah di sediakan telah usai. Dan Gilang selalu bersama mereka selama acara berlangsung.
David dan Rena mengundang semua teman - teman dan para kerabatnya dalam resepsi malam itu. Bahkan Aleta dan Varell pun ikut hadir, begitu juga dengan Alexa, Milan Dirgantara dan Vanila Dirgantara. Namun Malvin dan Mira terlihat tidak hadir.
Arka masuk ke dalam hotel saat acara sudah hampir selesai. Arka menyamar sebagai waiter itu bersama dengan anak buahnya, Ricky dan Diki. Sedangkan Tompel menunggu di dalam mobil Van di suatu sudut di basement hotel itu.
Tugas Ricky adalah mengamati Rena dan tugas Diki adalah mengamati Audrey, adik David.
Audrey memang seseorang yang sangat supel dan teman - temannya pun banyak, dan lagi Audrey juga tidak mendapatkan pengamanan yang ketat seperti halnya Rena dan David.
Gilang tidak mengetahui keberadaan Arka dan para anak buahnya itu. Karena Arka sudah menyiapkan rencananya dengan sangat rapi.
"Bos, terget B sedang berjalan ke arah toilet sendirian," lapor Diki melalui ear piece di telinganya. Dan saat itu tamu - tamu sudah mulai pulang, dan tempat acara sudah mulai sepi.
"Bagus. Aku akan arah kan dia ke toilet yang telah kita siapkan," ujar Arka.
Diki pun mulai melancarkan aksinya. Arka memang telah bersiaga di depan toilet yang yang di beri tulisan 'Out of order', untuk mengelabui Audrey. Arka sendiri sudah berganti pakaian dan sekarang sedang menyamar sebagai Cleaning Service yang sedang mengempel lantai di dekat pintu toilet.
"Maaf Mbak, toilet ini sedang rusak. Mbak bisa pakai toilet yang ada di sebelah sana." ujar Arka pada Audrey saat Audrey hendak memasuki toilet.
"Rusak?" tanya Audrey heran.
"Ya, Mbak. Toilet ini sedang di perbaiki." ujar Arka.
Audrey mengangguk dan berjalan menuju ke arah toilet yang di tunjuk oleh Diki.
Audrey yang masih tidak menyadari sedang di ikuti oleh Arka hanya bersikap biasa saja. Ia pergi ke toilet itu dan melakukan aktivitasnya, namun saat ia keluar dari bilik toilet, Arka dan Diki telah menunggunya di sana.
__ADS_1
"Mau apa kalia......" belum sempat Audrey menyelesaikan perkataannya. Mulutnya telah di sumbat oleh sapu tangan yang telah di bubuhi oleh obat bius.
Di samping itu, Rena dan David tampak tersenyum bahagia dalam pelaminan. Walaupun lelah, tetapi mereka sangat menikmati resepsi pernikahan mereka. Rena sangat senang karena teman - temannya juga dapat hadir di acara mereka. Sedangkan, David pun terlihat senang saat kolega dan rekan - rekan bisnisnya ikut menghadiri acara mereka.
"Capek Yang?" tanya David sambil memindahkan anak rambut Rena ke belakang telinganya.
"Lumayan," jawab Rena sambil melirik pada kakinya yang terasa sangat pegal karena berdiri terlalu lama di acara tersebut.
"Besok kita istirahat seharian di Spa, bagaimana?" ujar David menawarkan sambil mengetuk hidung Rena dengan jari telunjuknya.
"Ah, ide yang bagus Yang. Aku sangat membutuhkannya!" Ujar Rena sambil membayangkan perawatan Spa yang akan ia lakukan esok hari.
David tersenyum geli, melihat ekspresi wajah Rena.
"Yang, aku lega kita telah mengumumkan pernikahan kita hari ini. Aku sungguh sangat bahagia, bisa menikah denganmu.Kamu adalah hadiah terindah dalam hidupku dan aku tidak ingin kehilanganmu," ujar David sambil menatap kedua manik mata Rena. Kemudian memeluknya sangat erat.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang." bisik David sambil mengecup kepala Rena saat memeluknya
"Aku juga sangat memcintaimu, Yang.Dan aku pun tidak ingin kehilangan kamu." balas Rena sambil memeluk David dengan erat.
Air mata Rena menetes. Ia merasa sangat bahagia. Rena merasa sangat beruntung bisa menikah dengan David, karena mereka berdua bisa saling mengerti dan mengisi satu sama lain. Dan Rena pun belum pernah merasakan apa yang ia rasakan kepada David sebelumnya.
"Jangan nangis dong, Yang. Aku kan tidak kemana - mana. Aku janji akan selalu bersama kamu, sampai kapan pun." ujar David sambil menghapus air mata Rena yang menetes.
Rena tersenyum, kemudian tersenyum malu karena terlalu perasa hari itu.
"Nggak pa - pa, Yang. Aku tahu dari dulu. Kamu itu sudah cinta mati sama aku." ledek David sambil tersenyum menggoda ke arah Rena. Dan Rena yang merasa di goda pun memukul dada David dengan kesal.
"Maaf Pak, Bu. Saya rasa kita bisa akhiri acara ini. Kalau Bapak dan Ibu mau beristirahat bisa langsung ke kamar hotel sekarang?" tanya Nada dari Wedding Organizer.
"Kita akan langsung pulang atau kita mau ke kamar hotel dulu, Sayang?" tanya David sambil merangkul Rena.
"Aku mau ganti baju dulu di kamar hotel. Nanti, setelah itu, kita baru kembali ke rumah," jawab Rena setelah berpikir sebentar.
"Yang lainya gimana? Oma dan Opa?" tanya David pada Nada.
"Oma dan Opa tadi sudah pulang. Untuk Mbak Audrey tadi saya sudah menanyakanya dan katanya Mbak Audrey tidak akan ikut pulang karena ia akan menginap di rumah temannya," ujar Nada.
Dan David pun mengangguk.
"Ayo Yang. Kita kamar dulu," ajak David sambil ia beranjak dan menggandeng tangan Rena.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju lift untuk menuju kamar Presidential Suite mereka bersama dengan Leo, penjaga yang di tugaskan oleh Gilang untuk menjaga mereka. Sementara Gilang masih mengatur keamanan di sekitar hotel.
"Yang, kamu mau ke kamar mandi?" tanya David setelah mereka telah sampai di kamar hotel.
"Kamu duluan aja, Yang. Aku mau melepas baju ini dulu," jawab Rena yang sudah mulai melepas baju pengantinnya.
Saat David tengah berada di dalam kamar mandi, dan Rena pun telah berganti dengan pakaian yang lebih santai, teleponnya tiba - tiba saja berdering.
Melihat Audrey yang menghubunginya.Rena pun segera mengangkat telepon itu.
"Halo, Audrey." sapa Rena.
"Ikuti perintah saya atau Audrey akan mendapatkan akibatnya!" Ujar Arka melalui pesawat telepon Audrey.
Audrey sendiri masih tidak sadarkan diri di toilet di tempat mereka menyekapnya.
"Si... siapa ini? Apa yang sudah kamu lakukan pada Audrey?" tanya dengan khawatir.
"Audrey saat ini, masih baik - baik saja. Kamu turuti saja perintah saya dan saya akan lepaskan dia!"
"Apa maumu?!" Tanya Rena sambil melirik ke arah kamar mandi di mana David berada. Ia berpikir untuk memberitahukannya pada David. Namun, di urungkan niatnya itu saat Arka berkata, "Jangan pernah katakan hal ini pada siapapun kalau mau Audrey selamat! Mengerti!"
"Ya, ya... saya mengerti. Sekarang apa maumu?" tanya Rena sambil mencari tahu tujuan laki - laki itu memberikan ancaman padanya.
"Jangan matikan teleponnya. Sekarang kamu harus pergi ke ground floor dan tidak boleh ada seorang pun yang mengikutimu! Dan satu hal lagi yang perlu kamu ingat, nyawa Audrey sekarang tergantung padamu!" Ancam Arka.
"Ba..baik," jawab Rena. Dan Rena pun tidak mempunyai pilihan lain, selain mengikuti perkataan laki - laki itu. Ia tidak ingin terjadi hal - hal yang tidak di inginkan terhadap Audrey.
...*********...
Hai - hai para readerku ingat ya! Besok hari senin jangan lupa beri sajen votenya🤗
Yuklah, para readerku jangan pelit - pelit untuk tekan tombol likenya dong😣. Semakin banyak like yang di berikan author pasti lebih semangat lagi buat nulis dan jangan lupa juga tinggalkan jejak baca kalian. Author juga selalu menunggu hadiah🌷 dan ☕
Makasih....
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1