
Rena yang mengalami benturan di kepala dan pelipisnya yang berdarah, mengangguk walaupun ia belum sadar benar. Tetapi ia memilih untuk mengikuti kata - kata laki - laki itu, dan percaya ia akan membantunya.
Arka membawa Renatta bersembunyi di semak - semak, saat terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Arka mencoba mencari telepon genggamnya, namun ia teringat memberikannya pada Renatta sebelum kejadian itu. Dan Renatta sepertinya menjatuhkannya di mobil. Arka pun memberi aba - aba agar Rena untuk diam dan tidak bersuara, sementara ia mengeluarkan pistol.
"Arka! Dimana kau?!" Terdengar seorang suara laki - laki dari arah mobil ringsek yang tadi mereka tumpangi.
"Bajingan!" Umpat Arka dengan pelan saat melihat Tompel adalah orang yang telah membunuh Diki dan menyebabkan mereka celaka.
"Cepat kau serahkan perempuan itu dan aku akan membiarkanmu hidup!" Teriak Tompel kemudian tertawa.
"Renatta, aku akan menghadapi orang itu dan kamu berlarilah ke arah sana. Ada sebuah kota tidak jauh dari sini, pergilah...dan cari bantuan untukmu. Ingat! Kau harus terus berlari dan jangan pernah sekalipun menengok ke belakang apapun yang terjadi!" Ujar Arka sambil menunjuk sebuah arah.
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Rena
"Aku, akan baik - baik saja, Pergilah!" Ujar Arka, kemudian ia berjalan merangkak ke tempat lain untuk mengalihkan perhatian Tompel.
"Arka! Keluarlah kau tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi! Cepat atau lambat aku akan menemukanmu!" Teriak Tompel.
"Pergilah, Tompel! Sebentar lagi bantuan akan datang!" Ujar Arka dari persembunyiannya yang baru.
"Bantuan?" Tompel tertawa.
"Aku bukanlah orang yang bodoh, Arka! Dan tidak ada yang akan membantumu!" Ujar Tompel.
"Tempat ini, terlalu jauh dan bantuan paling akan datang 30 menit lagi, dan aku akan menemukanmu jauh sebelum bantuan itu datang!" Ujar Tompel lagi.
Rena pun bergerak perlahan saat mereka berdua sedang berbicara. Ia merangkak menuju tempat yang di tunjuk oleh Arka perlahan - lahan.
"Menyerahlah Arka. Aku bukan orang yang sabaran!" Teriak Tompel lalu terdengar suara letusan senjata api.
Dor! Dor!
Arka pun membalas tembakan Tompel dan baku tembak pun tak dapat di hindarkan. Akhirnya mereka berdua pun kehabisan peluru dan perkelahian pun tidak bisa di hindari. Arka menonjok wajah Tompel dan begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya Arka bisa mengapit tubuh Tompel dan mengunci kepala Tompel. Arka hampir saja memenangkan perkelahian itu, sampai tiba - tiba Ricky datang dan menodongkan senjata ke arah Rena.
Ricky berhasil menangkap Rena saat ia tengah melarikan diri dari semak - semak persembunyiannya.
__ADS_1
"Hentika Arka!" Teriak Ricky.
"Ricky, apa yang kamu lakukan?" tanya Arka yang masih mengunci Tompel. Ia tak menyangka, jika Ricky ikut bersekongkol dengan Tompel.
"Aku sedang membutuhkan uang dan Tompel bisa memberikannya! Cepat lepaskan dia!" Teriak Ricky.
Arka pun melepaskan Tompel perlahan, agar Rena tidak di sakiti.
Tompel yang terbebas pun langsung menendang Arka dengan membabi buta.
"Kau lemah Arka. Kau tidak pantas memimpin anak buah!" Teriak Tompel sambil terus memukuli Arka.
"Kau memilih menyelamatkan perempuan itu, karena kau lemah! Tapi, aku akan menggunakannya untuk kepentingan ku sendiri!" Ujar Tompel sambil membuat kode uang dengan jarinya.
"Cih! Siapa yang sudah membayarmu Tompel? Kau berkhianat pada Malvin! Dan tunggu sampai dia membalasmu!" Ujar Arka sambil meludahi Tompel.
Wajah Arka sudah babak belur karena pukulan dan tendangan dari Tompel.
"Tapi seseorang akan senang, jika perempuan ini menghilang," ujar Tompel, kemudian mengambil pistol yang ada di tangan Ricky.
Dor! Dor!
Malvin sedang dalam perjalanan pulang dari bertemu Renatta di rumah sewaannya. Ia merasa lega telah memilih yang menurutnya benar dalam peperangan batinnya. Cara inilah yang terbaik, bahwa ia harus segera melupakan Renatta dan memikirkan masa depannya dan keluarganya.
Malvin mengambil telepon genggamnya yang dalam keadaan mati dari dalam dashboardnya. Ia mematikan telepon genggamnya itu, sejak ia meninggalkan kediamannya tadi malam. Ia tidak ingin meninggalkan kediamannya tadi malam. Ia tidak ingin meninggalkan jejak keberadaannya atau pun menerima panggilan telepon dari siapa pun. Akhirnya Malvin sampai juga di gerbang rumahnya. Seseorang berpakaian penjaga mendekatinya.
"Selamat Pagi," ujar penjaga yang Malvin tidak kenal itu.
Apa Mira mempekerjakan penjaga baru? Pikir Malvin.
"Pagi, cepat buka pintunya!" Perintah Malvin.
"Maaf, Bapak ada keperluan apa?" tanya penjaga yang juga tidak mengenalinya.
"Apa - apaan ini?! Dia juga tidak tahu siapa aku?" batin Malvin.
"Aku Malvin Dirgantara, pemilik rumah ini. Cepat bukakan pintunya!" Perintah Malvin dengan kesal. Di luar dugaan penjaga itu justru menodongkan pistol kearahnya.
__ADS_1
"Buka pintunya!" Teriak penjaga gerbang padanya sambil ia memberi signal pada temannya di dalam pos penjaga untuk keluar.
Malvin tidak tahu, apa yang terjadi. Namun, ia mempunyai firasat buruk dengan apa yang terjadi di rumahnya.
Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan di rumahnya? Dan bagaimana dengan Mira? Apa dia baik - baik saja? Malvin menjadi khawatir dengan Mira dan jabang bayi yang di kandungnya.
Karena kekhawatirannya itu pun ia membuka kunci pintu mobilnya dan membiarkan penjaga menodongkan pistol masuk ke dalam mobilnya. Sementara penjaga yang satu lagi membuka gerbang.
"Jalan!" Perintah penjaga pintu masih menodongkan pistol padanya.
Malvin mengikuti perintah penjaga itu, dalam ancaman senjata api. Ia sangat terkejut saat melihat banyak kendaraan sudah di parkir di depan rumahnya dan ia pun memarkirkan mobilnya.
"Apa yang kamu mau?" tanya Malvin pada penjaga bersenjata itu.
"Sudah, cepat keluar!" Ujar Penjaga itu, menyuruh Malvin untuk keluar dari mobilnya.
Gilang dan Bastian yang mendapatkan laporan dari anak buah mereka yang ada di gerbang, jika Malvin telah pulang dan sedang menuju ke teras rumah pun segera melaporkan hal ini kepada David dan Austin.
David, Austin, Gilang dan juga Bastian segera berjalan ke arah depan rumah. Saat melihat Malvin berjalan dengan di todong oleh senjata api menuju ke arah mereka, David segera mempercepat langkahnya dan....
Bugh! Bugh! Bugh!
Hantaman kepalan tangan David, mendarat beberapa kali di wajah Malvin.
"Bajingan! Dimana Istriku! Dimana kau sembunyikan Istriku?!" Teriak David pada Malvin, sambil memegang kerah kemejanya dan menatap dengan garang ke arah Malvin. Malvin terlihat masih terkejut dengan pukulan yang di terimanya.
Melihat Malvin yang tidak bersuara, David memukulnya beberapa kali lagi sampai Austin melerainya dan David menghempaskan Malvin ke lantai.
Austin, tidak ingin Malvin terbunuh sebelum Rena di temukan.Lagi pula Malvin masih keluarganya juga. Ia adalah anak tiri dari Tante Alexa.
"Malvin! Cepat kau katakan, dimana kau sembunyikan Rena, adikku?!" Seru Austin di dekat wajah Malvin.
Malvin mengangkat telapak tangannya meminta mereka untuk tenang, namun ia masih belum berkata - kata!
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1