
Pelayan datang membawakam kopi pesanan Arka.
"Tergantung dari aspek mana kau melihatnya. Bagiku ia cukup penting," ujar Arka kemudian meneguk kopinya.
"Tentu saja, kalau tidak kau tidak akan mencarinya bukan?" ujar Gilang sambil tersenyum.
"Sayang sekali orang itu cukup lihai menghilangkan jejaknya!" Ujar Arka sambil memandang Gilang.
"Kalau begitu, kau harus berusaha lebih keras, kawan!" Ujar Gilang sambil tertawa.
"Orang itu mengingatkan aku pada dirimu!" Ujar Arka lagi sebelum Gilang selesai tertawa.
"Arka... Arka.... apakah kau punya bukti? Atau karena kau tidak punya bukti makanya kau menuduh aku melakukan itu?" tanya Gilang sambil tertawa kecil. Ia masih sangat santai menanggapi tuduhan Arka padanya.
"Apakah kau yang melakukannya?"tanya Arka langsung padanya.
"Menurutmu?" tanya Gilang balik, sambil menatap balik Arka. Mereka berdua saling tatap dan tidak ada yang berbicara.
"Tidak, ini belum waktunya berkonfrontasi dengan Gilang" batin Arka.
Arka mengalihakan pandangannya dan menyesap kopinya lagi.
"Baiklah, aku harus pergi. Ada hal lain yang harus aku kerjakan," ujar Gilang pada Arka sambil mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar minumannya dan Arka.
"Sampai nanti kawan!" Ujar Gilang pada Arka sambil menepuk pundak Arka.
Arka memandangi punggung Gilang yang berjalan menjauhinya.
Apakah Gilang yang melakukan itu? Bisa saja! Tapi apa motifnya? Darwin bilang tidak ada masalah antara Alexander David Mahendra dan Malvin Dirgantara.
Apakah Gilang bertindak di luar perintah Alexander David Mahendra? Untuk kepentingan siapa?
Arka belum bisa mengambil kesimpulan. Ia akan menunggu hasil investigasi anak buahnya yang menyelidiki aktifitas Mira Handono.
********
Pagi itu adalah hari senin, sehari setelah David mengajaknya menginap di rumah pantai keluarganya.
David baru mengantar Rena pulang kembali tadi malam setelah seharian mengajaknya beraktifitas di rumah pantai itu.
__ADS_1
Rena baru mengenal sisi Alexander David Mahendra yang berbeda dari yang ia tahu. David memang tegas dan keras jika berhubungan dengan pekerjaannya, tetapi ia pun bisa menjadi sosok yang lembut dan perhatian walaupun Rena sering di buatnya kesal.
Rena baru saja selesai melakukan gerakan Child's pose sesi yoganya, saat bel apartemen pintunya berbunyi. Ia meraih handuk kecil untuk mengelap keringat di dahinya sebelum ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Abang, ada apa? Kok tumben pagi - pagi udah datang kesini?," ujar Rena saat membuka pintu apartemennya.
Austin berdiri di depan pintu apartemennya dengan berpakaian rapi kemeja dan setelan jas.
"Nggak apa - apa. Abang cuma ingin main saja. Abang bawakan nasi goreng buat kita sarapan," ujar Austin sambil melangkah masuk. Di tangannya ia membawa paper bag yang di taruhnya di meja makan.
Rena pun langsung mengambil paper bag itu dan membukanya.
"Hmmm... kelihatannya enak nih, Bang," ujar Rena tersenyum sambil menghirup dari nasi goreng yang di bawa Kakaknya.
"Bi Asri yang masak. Abang minta Bi Asri untuk masakin nasi goreng katsu kesukaanmu tadi pagi," ujar Austin sambil melepas jasnya dan di letakkan di senderan kursi meja makan.
"Kamu sedang apa, Ren?" tanya Austin sambil melihat ke sekeliling apartemen Rena.
"Biasa Bang, cari keringat," ujar Rena sambil mengambil piring dan perlengkapan makan di dapur.
"Abang mau minum apa? Kopi, jus, teh atau susu?" tanya Rena sambil menaruh peralatan makan di meja makan.
"Air putih aja Ren," jawab Austin sambil duduk di kursi makan.
Mereka pun mulai makan dan menikmati masakan asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah keluarga Alfaro.
"Ren, Abang dengar kamu ketemu? Mira minggu kemarin. Apa benar?" tanya Austin.
Rena mengerutkan keningnya. Ia ingat peristiwa tamparan Mira di hotel itu.
"Abang tau darimana?" tanya Rena penasaran sambil menyuapkan satu sendok nasi ke mulutnya.
"Tante Alexa yang bilang, kemarin sore Tante ke rumah nanyain kamu," ucap Austin.
"Tante ke rumah? Terus Abang bilang apa?" tanya Rena terkejut hampir saja ia tersedak makanannya.
"Tante nanya apa Abang pernah mendengar tentang kamu. Ya, Abang jawab nggak tau!" Ujar Austin.
"Kata Tante kamu sempat bertengkar dengan dia. Apa yang terjadi?" tanya Austin sambil memandang adiknya itu.
__ADS_1
"Bukan bertengkar Bang, justru Rena berusaha mengabaikan dia. Rena sudah berusaha untuk berpura - pura tidak peduli mengenai dia Bang," terang Rena.
"Di percaya?" tanya Austin lagi.
Rena mengangkat bahunya.
"Mira berusaha mendorong Rena, tapi justru Mira yang jatuh. Terus Mira mengatakan, kalau Rena yang mendorong dia!" Ujar Rena kesal mengingat kejadian itu.
"Perempuan itu memang selalu saja menganggu kamu! Perlu di beri pelajaran dia!" Ujar Austin dengan geram sambil menggebrak meja.
"Gak usah Bang! Yang penting sekarang Rena nggak apa - apa. Dan dia juga tidak bisa menemukan Rena. Buat Rena itu udah cukup. Rena bersyukur," ujar Rena.
Austin memandangi wajah adiknya. Adiknya itu memang selalu memiliki hati yang baik. Tak heran semua orang yang di keluarga mereka selalu menyayangi dan memanjakannya sejak kecil. Terlebih Kakek dan Nenek mereka. Sayang mereka telah tiada saat Austin dan Rena menginjak Remaja.
"Ren, lain kali kalau ada kejadian seperti ini lagi. Kamu harus beritahu Abang! Kalau tidak, Abang terpaksa akan suruh orang untuk mengikuti kamu. Kamu mau?" ujar Austin sedikit menekan adiknya itu. Rena memang keras kepala, sehingga ia perlu sedikit mengancam adiknya itu agar mau memgikuti kata - katanya.
"Oke Bang! Rena akan cerita lain kali. Tapi Abang jangan suruh orang untuk ikutin Rena! Rena nggak suka!" Ujar Rena sambil cemberut.
Dalam hatinya ia berharap Abangnya itu tidak benar - benar menyuruh orang untuk mengikutinya. Kalau iya, Abangnya akan tahu hubungannya dengan David.
"Ya sudah, asalkan kamu berjanji. Abang nggak akan suruh orang," ujar Austin sambil tersenyum.
Austin menaruh sendok dan garpunya di piring yang telah kosong, kemudian ia melihat pergelangan di jam tangannya.
"Kamu nggak kerja Ren?" tanya Austin.
"Sebentar lagi Bang," ujar Rena. Ia pun segera beranjak membereskan bekas makanan mereka.
"Abang antar ya? Abang sekalian mau ke kantor," ujar Austin, kemudian meneguk air putih yang ada di depannya.
"Nggak usah Bang! Rena berangakat sendiri aja," ujar Rena cepat - cepat.
Rena tidak ingin Abangnya tahu jika ia bekerja pada perusahaan David.
"Nggak apa - apa Ren. Abang nggak buru - buru kok. Abang juga tidak ada meeting pagi ini. Abang juga ingin tahu tempat kerjamu. Abang tunggi ya, kamu siap - siap saja," ujar Austin sambil bangun dari kursi meja makan dan pindah duduk di sofa ruang tamu Rena. Ia kemudian menyalakan televisi yang ada di sana.
"Aduhh... gimana ini?" ucap Rena dalam batin.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen vote dan hadiahnya.