
Sudah saya katakan, saya tidak punya rahasia Pak David!" Jawab Rena berdalih. Ia tidak mungkin menceritakan identitas yang sebenarnya pada David.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu," ucap David menyandarkan bahunya pada sandaran kursi.
Waiter datang membawakan pesanan mereka dan mereka berdua menyesap minuman mereka masing - masing.
"Saya mengenal Aleta, sekitar 9 tahun yang lalu," ujar David setelah beberapa saat.
Rena sempat terkejut, David mau bercerita tentang hubungannya dengan Aleta, dan ia mendengarkan.
"Saat itu, ia adalah bintang baru di dunia entertaiment namanya sedang melejit dan Varrel, sahabat saya menjadi managernya. Dari Varrelah saya mengenal Aleta."
"Saya langsung jatuh cinta saat pertama kali mengenalnya. Kami sama - sama masih muda, dan yah, benar - benar saling jatuh cinta!" Ujar David meneruskan ceritanya.
"Saya dan dia telah berpacaran selama hampir dua tahun, saat saya mengetahui bahwa ia pun menjalin hubungan diam - diam dengan Varrel di belakang saya hingga ia hamil anak Varrel." ujar David. Ia pun menarik nafas dalam - dalam. Terlihat berat mengingat kejadian itu.
Pak David benar - benar mencintai Aleta, itu sebabnya ia memintaku untuk menjadi pacarnya, untuk membuatnya cemburu atau membalas sakit hatinya? Tapi kenapa Aleta seakan - akan masih mencintai Pak David? Bukankah ia berselingkuh dan meninggalkannya? Pikir Rena.
"Saya minta maaf Pak, karena keingintahuan saya, membuat Bapak mengingat masa lalu yang menyakitkan," ujar Rena merasa bersalah.
David tersenyum dan menggeleng.
"Tidak Rena, saya memang sakit hati saat itu, tetapi sekarang saya sudah bisa menerimanya. Walaupun saya menjadi sangat berhati - hati saat berhubungan dengan wanita, tapi saya sudah bisa menerima kenyataan itu. Toh mereka sekarang sudah menikah dan mempunyai anak," ujar David.
"Tapi Bapak masih mencintai Ibu Aleta? Itu sebabnya Bapak meminta saya untuk menjadi pacar Bapak malam ini? Bukankah untuk membuat Ibu Aleta cemburu dan membalas sakit hati Bapak?" tanya Rena mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
"Kamu pikir saya meminta kamu untuk menjadi pacar saya karena ingin membuat Aleta cemburu dan membalas sakit hati saya?" David balik bertanya dengan heran.
Dan Rena mengangguk.
David pun tertawa.
"Rena... Rena..."
"Saya sudah tidak ada perasaan apa - apa lagi terhadapnya. Buat saya dia masa lalu saya," ujar David memberitahu Rena.
Kemudian David mendekatkan wajahnya di depan wajah Rena dan berkata, " Bagaimana kalau saya bilang, saya memang ingin kamu jadi pacar saya,"
Wajah Rena langsung memerah, karena malu dengan ucapan David yang tidak di sangkanya!
"Kenapa Rena? Kamu kaget? Kamu bilang kamu belum punya pacar, bolehkah saya jadi pacarmu?" ujar David makin menggoda Rena melihat rona merah di wajah Rena.
__ADS_1
David sangat senang melihat rona merah di wajah Rena, membuatnya semakin cantik dan menggemaskan.
"Bapak... pasti bercanda..." ucap Rena sambil tersenyum canggung.
Bagaiamana mungkin seorang Alexander David Mahendra ingin berpacaran dengannya? Dan lagi orang sombong dan angkuh seperti Alexander David Mahendra juga bukanlah tipenya!
"Saya tidak bercanda Rena... saya suka kamu.." ujar David sambil menatap kedua bola mata Rena.
David pun menelan ludah. Ia sendiri sama sekali tidak menyangka akan mengucapkan kata - kata itu kepada Rena.
Tadinya ia hanya ingin menggoda Rena, tetapi sesuatu di dalam dirinya memaksnya untuk mengucapkan kalimat itu. " Saya suka kamu..."
Dan baru ia sadari, ia memang benar - benar menyukai Rena, tanpa perlu alasan baginya untuk suka pada seorang wanita. Suka adalah suka.
Dan David menyukai Rena.
David memandangi Rena yang terlihat canggung mendengar pengakuannya.
"Adrena Clarissa Putri, kamu mau menjadi pacar saya?" tanya David sambil meraih tangan Rena di atas meja dan menggenggamnya.
********
Di sebuah ruangan di lantai 10 sebuah gedung apartemen, dua insan saling menyatukan tubuh mereka bersuara sangat gaduh, sehingga suara mereka menggema ke seluruh ruangan.
Deru nafas mereka terdengar makin berirama, seiring dengan bertambahnya kecepatan Malvin, pria berusia 35 tahun itu menghujam berkali - kali tubuh wanita yang ada di bawahnya.
Mira, wanita itu bersuara demikian keras, menikmati keperkasaan Malvin di ranjangnya.
Peluh Malvin jatuh dan pekik tertahan mengiringi pelepasan Malvin di dalam tubuh Mira.
Dan tubuh Malvin pun terjatuh lungai di atas tubuh Mira.
"Malvin... kamu luar biasa," bisik Mira di telinga Malvin yang saat itu masih berusaha mengatur nafasnya.
Malvin mengangkat wajahnya dari ceruk leher Mira, kemudian memandangi wajah wanita yang ada di hadapannya.
Ia menutup matanya, menyadari wanita yang ada di hadapannya bukanlah wajah wanita yang ada di dalam bayangnnya saat ia mencapai puncak kenikmatannya.
Renatta. Ya, gadis itulah yang selalu ada di dalam bayangannya setiap kali ia melakukan penyatuan dengan perempuan manapun. Gadis 15 tahun yang ia yakini kini telah menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.
7 tahun sudah, Malvin mencari Renatta Azaria. Namun, tak juga ia menemukan jejak kepergiannya.
__ADS_1
Malvin, mengenang saat ia pertama kali mengenal Renatta Azaria.
**** Flashback On ****
Malvin Dirgantara mengenal Renatta Azaria sejak ia di lahirkan. Jarak usia mereka memang cukup jauh.
Malvin sudah berusia 13 tahun saat Renatta lahir. Saat itu Malvin menganggap Rena sebagai adik seperti halnya saudara seAyahnya, Vanila.
Malvin mulai merasakan sesuatu yang berbeda, saat ia bertemu dengan Renatta remaja, ketika gadis itu berusia 14 tahun. Di usianya yang belia, gadis itu sudah memperlihatkan betapa cantiknya ia. Dan Malvin saat itu berusia 27 tahun pun langsung jatuh hati pada Renatta.
Selama setahun Malvin berusaha mendekati Renatta sebagai seorang laki - laki pada seorang gadis. Namun, Renatta masih sangatlah polos sehingga segala pendekatan yang di lakukannya di anggap sebagai perlakuan seorang Kakak. Renatta tidak memiliki perasaan yang sama seperti perasaan Malvin padanya.
Malvin saat itu, sudah mapan dan memimpin salah satu perusahaan Ayahnya.Malvin Dirgantara, berniat untuk melamar Renatta saat ia sudah berusia 17 tahun. Ya, Malvin rela menunggu hingga Renatta cukup dewasa untuk ia nikahi.
Akan tetapi, Alfaro, Ayah Renatta yang juga adalah Kakak dari Ibu tiri Malvin, mengetahui apa yang ia rasakan pada Renatta, dan ia menentangnya.
"Om minta maaf Malvin, tetapi Om akan berbicara terus terang pada Malvin," ujar Alfaro sore itu pada saat ia memanggil Malvin ke rumahnya.
"Om harap, Om salah, tetapi apa Malvin menyimpan hati pada Renatta?" tanya Alfaro pada Malvin muda.
Malvin yang sangat mencintai Renatta pun tidak bisa membohongi perasaannya. Dan ia mengakui apa yang di rasakannya pada Alfaro.
"Ya Om, saya memang mencintai Renatta.Dan saya harap Om tidak berkeberatan jika saya akan melamar Renatta saat ia sudah berusia 17 tahun," ujar Malvin saat itu. Ia memutuskan untuk langsung saja mengatakan rencananya.
"Om mengerti Malvin." ujar Alfaro kemudian ia menghela nafas berat.
"Tapi Om minta maaf. Mungkin apa yang Om katakan ini, akan membuat Malvin kecewa, tetapi Om harus mengatakannya," ujar Alfaro.
"Malvin dan Renatta adalah saudara sepupu, dan juga Renatta masih terlalu muda untuk berumah tangga, walaupun jika Rena sudah berusia 17 tahun nanti. Ia masih harus bersekolah, dan menjalani masa mudanya. Di lain sisi Malvin sudah dewasa dan sudah waktunya untuk berumah tangga, alangkah baiknya jika Malvin mencari wanita lain yang lebih sesuai dengan usia Malvin." ujar Alfaro saat itu.
"Tapi Om, Renatta dan saya tidak memiliki hubungan darah. Dan mengenai usia saya yakin, kami berdua bisa saling melengkapi satu sama lain," ujar Malvin berusaha untuk mempertahankan keinginannya untuk menikahi Renatta.
"Walaupun kalian tidak berhubungan darah, tetapi kalian adalah keluarga dekat. Kalian tumbuh bersama!" Ujar Alfaro yang masih memegang kukuh adat istiadat. Apa yang akan orang lain katakan jika ia menikahkan anaknya dengan anak adiknya? Walaupun Malvin adalah anak tiri dari adiknya.
"Om, saya mohon Om untuk memberikan kesempatan kepada saya. Saya tahu, Renatta masih sangat muda, tetapi saya sangat mencintainya, dan saya tidak keberatan menunggu hingga Renatta siap untuk menikah, asalkan Om memberi restu." ujar Malvin masih berusaha melunakkan hati Alfaro.
"Maaf Malvin, Om tidak bisa merestui niat kamu," ujar Alfaro.
"Menikahlah dengan orang lain yang lebih sesuai dengan mu. Kamu masih muda, tampan dan juga sukses. Om sangat yakin banyak wanita cantik dan baik yang mengharapkan Malvin." ujar Alfaro tetap pada pendiriannya.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya.