Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Kedatangan Audrey


__ADS_3

Jam tujuh lebih David turun ke bawah dan seperti biasa mendengarkan laporan Alvin untuk jadwalnya hari itu. Tak lama Rena pun turun, sudah rapi mengenakan blazer coklat natural di padukan dengan dalaman blush dan celana panjang hitam di atas pergelangan kaki. High heels berwarna senada menghiasi kakinya.


"Duduk sini, Yang." panggil David pada Rena.


"Kamu cantik," puji David saat Rena sudah duduk di sampingnya.


"Terima kasih, baju ini bagus.Membuat aku terlihat sangat cantik;" ucap Rena sambil tersenyum.


"Terima kasih Jefri," ujar Rena sambil tersenyum pada Jefri.


"Mbak Rena memang sudah cantik. Walaupun tanpa baju itu," jawab Jefri, yang merasa itu sudah tanggung jawabnya untuk menyediakan kebutuhan Bosnya dan tamu Bosnya.


David melotot mendengar ucapan dari Jefri.


"Maksud saya, Mbak Rena cantik pakai baju apapun. Baju itu pun Pak David yang memilihkan," koreksi Jefri segera.


Rena mengangkat alisnya tidak menyangka jika David yang memilihkan baju untuknya.


"Kamu kan pacarku, Yang. Masa orang lain yang harus memilihkan baju untukmu," jawab David sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan - jangan yang memilihkan pakaian dalam juga David?" batin Rena.


Namun sebelum ia sempat berpikir lagi, David berbisik lagi padanya dan berkata, "Sayang sekali aku tidak melihatmu memakai gaun tidur itu tadi malam"


Dan wajah Rena memerah seketika.


"Ya ampun! Apa yang ada di pikirannya saat memilihkan baju yang kurang bahan itu?" batin Rena.


"Tenang sayang, walaupun aku sangat menginginkanmu, tetapi aku akan menunggu sampai kita menikah," bisik David lagi.


"Ngomong apa sih?" ujar Rena pelan sambil melirik ke arah Alvin dan Jefri yang melihat ke arah lain. Rena malu jika sampai mereka mendengar percakapannya dengan David.


David hanya tertawa kecil dan mengecup pipi Rena dengan gemas.


"Ayo kita makan," ajak David sambil memotong french toast miliknya dan memakannya.


"Alvin, sarapan sekalian," ujar David pada Alvin yang sedang mengecek sesuatu di telepon genggamnya.


"Saya sudah sarapan, Pak. Saya minum kopi saja," ujar Alvin sambil mengambil cangkir kopinya.


"Kamu bilang punya kejutan untukku, mana kejutannya?" tanya Rena yang teringat perkataan David tadi malam.


"Ada. Tapi nanti setelah kita sarapan, Sayang," jawab David.

__ADS_1


Rena menjadi tambah penasaran mendengar jawaban dari David.


"Bagaimana pekerjaanmu, Na?" tanya David yang mengalihkan pembicaraan.


"Baik. Hari ini aku ingin mencari klien baru. Ada beberapa perusahaan yang aku pikir bisa di ajak kerjasama," jawab Rena.


David tersenyum dan mengangguk. Ia bisa saja membantu Rena mendapatkan klien, tapi ia tahu Rena pasti akan menolaknya.


"Bagus. Kamu harus pandai - pandai mencari Oportunity dan memanfaatkannya. Kamu pasti bisa sayang," ujar David memberi semangat dan Rena mengangguk.


"Haloooo,selamat pagi! Apa kabar semua?" tiba - tiba seorang wanita muda masuk ke dalam rumah sambil menyapa semua orang yang ada di sana dan tersenyum dengan lebar.


"Nona Audrey! Selamat datang, Non," sapa Jefri dengan terkejut saat melihat wanita itu.


"Terima kasih Jefri!" Ujar Audrey, masih sambil tersenyum dan berjalan ke arah David.


"Apa kabar Kak?" tanya Audrey sambil memeluk David.


"Baik Dek. Kok, kamu nggak ngabarin sih kalau mau pulang?" tanya David pada Audrey, adiknya. Walaupun begitu ia tidak tampak heran melihat Audrey pulang.


"Memang Kakak akan jemput juga, nggak kan?" jawab Audrey sengaja sambil meledek David dan David memutar bola matanya menanggapi ledekan adiknya itu.



"Audrey, ini Rena. Sayang, ini adikku Audrey." ujar David memperkenalkan mereka berdua.


"Halo Rena, ternyata kamu lebih cantik dari pada fotomu, pantas saja Kakak ku tergila - gila padamu, kamu cantik sekali," ujar Audrey sambil memeluk Rena dan mengecup pipi kiri dan kanannya. Audrey adalah tipe orang yang periang dan mudah bergaul sehingga dia akan dengan terbuka berkenalan dengan orang yang baru. Audrey pun senang akhirnya Kakaknya itu mempunyai seorang pacar.


"Terima kasih Audrey, senang bertemu denganmu," jawab Rena kembali memeluk Audrey dengan hangat. Rena lega ternyata David mempunyai seorang adik yang ramah.


Apa ini kejutan yang di siapakan David? Kedatangan adiknya? Tetapi David pun sepertinya tidak tahu bahwa Audrey akan pulang. Pikir Rena.


"Jadi kalian sudah tinggal bersama?" tanya Audrey blak - blakan yang di sambut pelototan mata dari David.


Rena tersedak mendengar pertanyaan Audrey. Ia pun segera meminum segelas air putih.


"Kamu nggak pa - pa, Yang?" tanya David sambil menepuk pundak Rena perlahan.


Rena mengangguk.


"Dek, kamu kalau ngomong yang benar. Rena hanya menginap tadi malam, karena Kakak ada perlu dengannya pagi ini?" ujar David menerangkan agar adiknya itu tidak berpikir macam - macam terhadap Rena.


"Ooh, maaf." ucap Audrey singkat sambil melirik pada Kakaknya dan Rena, memperhatikan ekspresi kedua orang itu.

__ADS_1


"Sarapan Dek," ajak David pada wanita yang berusia 26 tahun itu.


"Aku tadi udah sarapan bareng Kak Rico, Kak," jawab Audrey sambil memegang perutnya.


"Riconya mana?" tanya David heran, tidak melihat Rico tunangan adiknya.


"Sudah pergi, ia harus ke kota A untuk urusan bisnis pagi ini?" jawab Audrey.


"Oh ya, Kak. Mobil di depan it...." ucapan Audrey tertahan oleh pelototan dari David.


David memberi sinyal pada adiknya untuk tidak berbicara mengenai mobil baru yang ada di depan rumah mereka dan Audrey pun mengerti. Namun Audrey tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya menyadari sang Kakak membelikan pacar barunya mobil seperti itu. Bukan hanya harga mobil yang membuat Audrey terkejut, tetapi betapa perhatian Kakaknya itu terhadap Rena.


"Rupanya Kakak sudah benar - benar jatuh hati pada Rena," batin Audrey.


Audrey berharap Kakaknya itu benar - benar serius menjalin hubungan dengan Rena. Dengan begitu, ia pun dapat segera menikah dengan Rico tanpa harus melangkahi Kakaknya.


Rena yang melihat Audrey tidak jadi berbicara pun heran.



"Ada apa dengan mobil di depan?" tanya Rena sambil memandang Audrey.


"Ah, tidak. Sebaiknya aku ke kamarku dulu, sampai nanti Yah!" Ujar Audrey kemudian beranjak dari kursi di meja makan itu, ke lantai 2 menuju kamarnya. Salah satu pelayan yang di tunjuk Jefri membawaskan tas dan koper Audrey ke kamarnya.


"Yang, aku ada kejutan untukmu di depan," ujar David saat mereka sudah selesai sarapan.


Di depan? Memang ada kejutan apa sebenarnya? Ia benar - benar di buat penasaran oleh David sejak semalam.


"Ayo, ikut aku," ujar David sambil tersenyum.


Rena pun mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar mengikuti David.


"Tutup matamu, Yang," ujar David berhenti dari jalannya dan berdiri di depan Rena. Pintu depan hanya berjarak 3 meter dari mereka.


"Harus tutup mata?" tanya Rena yang memang enggan untuk menutup matanya.


"Ya! Kalau sampai kamu buka terlebih dahulu. Terpaksa aku harus menghukummu," ujar David sambil mengerlingkan matanya.


Rena pun menutupnya setelah berdecak dan berkata, " Baiklah..."


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2