Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Kondisi David


__ADS_3

Tiba - tiba David berada di suatu taman yang indah dengan bunga - bunga yang bermekaran di tata sedemikian rupa. Dan ia melihat dirinya duduk berdampingan dengan gadis itu. Memakai pakaian serba putih. Dan ia mengucapkan suatu kalimat, yang ia ucapkan dengan penuh keyakinan. " Saya terima nikahnya Renatta Azaria Putri Alfaro binti Alfaro, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Dan hal berikutnya yang ia lihat adalah bagaimana mereka berdua memadu kasih, tertawa bahagia dengan hari - hari yang ia lalui dengan gadis itu.


Kabut datang dan membawanya ke depan pintu sebuah kamar, dan ia memasukinya. Gadis itu sedang berdiri membelakanginya, menghadap sebuah cermin. Gadis itu berbalik saat melihat dirinya masuk ke dalam kamar itu. Ia lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Bertahanlah Yang. Kamu pasti bisa melewati semua ini.Kami menunggumu...." ujar gadis itu, sambil menatapnya. Dengan tatapan yang sangat merindu.


"Kami mencintaimu, Yang. Dan kami membutuhkanmu...." ujarnya lagi saat ia berdiri di dekatnya.


Kemudian gadis itu meraih tangan David dan menciumnya lembut.Kemudian meletakkan David di perutnya sambil tersenyum dan berkata, " Kami menunggumu....."


Seketika itu juga segala sesuatu di hadapan David berputar, dan yang ia dengar hanya suara lirih dan sedih...


"Yang, jangan berhenti di sini. Aku ingin berbagi kisah baru denganmu.... Aku masih ingin bersama denganmu... kamu berjanji padaku, kamu akan kembali.


...******...


Austin memandang adik kesyangannya itu, yang selalu duduk di samping suaminya yang sedang berbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Lima hari sudah, David tak sadarkan diri, dan selama itu pula Rena menolak untuk beranjak dari sisinya. David sudah di pindahkan dari kamar intesif ke kamar perawatan VVIP karena kondisi vitalnya sudah stabil.


Austin pun mau tak mau harus menemani Rena di sana. Karena hanya Austinlah yang mampu membuat Rena beristirahat sejenak atau makan. Itu pun di lakukannya di kamar perawatan David. Rena tidak pernah meninggalkan kamar itu, jika tidak ada sesuatu yang mendesak. Ia selalu ada di sana menemani David. Berbicara pada David seakan - akan ia mendengarkannya.Menceritakan apa saja yang mereka lalui bersama sejak pertama kali mereka bertemu.


Austin berjalan mendekati Rena. Ia ingin mengajak Rena untuk beristirahat, karena adiknya sudah duduk di sana selama beberapa jam.


Samar - samar ia mendengar Rena berbicara pada David.


"Yang, apa kamu ingat. Saat aku bawa kamu ke rumah pantai itu dan kamu bilang kamu ingin merayakan hari jadi kita. Aku berpikir saat itu, kamu sangat menggelikan karena di hari itu juga kamu memaksa aku untuk menjadi pacarmu," ujar Rena lalu tertawa kecil.


"Tapi justru di hari itulah, kamu mulai terbuka untuk bicara padaku mengenai keluargamu. membuat aku berpikir berbeda tentangmu. Bahwa Alexander David Mahendra tidak selalu menjadi orang yang angkuh dan sombong." ujar Rena mengingat kejadian itu.


"Oh ya. Apa kamu ingat? Saat aku ingat dulu menabrakkan mobil Lamborginimu? Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah akan berterima kasih atau mengutuk kejadian pada hari itu," ujar Rena sambil mengenang kejadian itu.


Rena meneteskan air matanya, mengecup tangan David yang sedari tadi di genggamnya dengan erat, berharap ada keajaiban yang bisa menggerakan tangan itu dan membawa David kembali kepadanya.


"Yang... jangan berhenti di sini, aku ingin berbagi kisah baru denganmu...aku masih ingin bersama denganmu...kamu berjanji kepadaku, kamu akan kembali," ucap Rena dengan lirih sambil terisak - isak.


Austin pun menghentikan langkahnya.Tidak tega menghampiri adiknya. Ia dapat merasakan betapa adiknya itu sangat mencintai suaminya.

__ADS_1


Rena menangis, berharap keajaiban Tuhan akan datang dan mengembalikkan belahan hatinya.


Tiba - tiba tangan David bergerak pelan.


Rena tersentak dan berhenti menangis. Menatap tangan David yang ada di genggamannya dengan harapan.


"Apa kamu mendengarku?" batin Rena sambil memperhatikan jari jemari David yang dirasanya bergerak sesaat yang lalu.


"Ren... kamu tidak boleh terus seperti ini."ucap Austin berusaha menguatkan adiknya itu.


Namun Rena malah memberinya tanda untuk diam dan tidak bicara sambil memandangi tangan David.


Austin pun ikut memandangi tangan David. Walaupun ia tidak paham apa yang di maksud Rena. Dan tiba - tiba jari David bergerak perlahan.


Rena dan Austin memekik tertahan.


"Yang, kamu dengar aku?" tanya Rena pada David sambil mendekatkan wajahnya di dekat wajah David menepuk pipinya perlahan, berusaha mencari respon dari David.


Austin pun segera memencet tombol dan memanggil perawat serta dokter yang berjaga di area perawatan David.


Tak lama perawat dan dokter pun datang, dan Austin langsung mengatakan apa yang di lihatnya. Sementara Rena masih berusaha memanggil nama David. Dokter pun segera mengambil alih dan langsung memeriksa kondisi David.


Austin kemudian merangkul adiknya itu agar menepi dan memberikan ruang pada dokter serta perawat untuk melakukan pemeriksaan pada David.


"Rena..." panggil David saat ia baru tersadar.


"Sayang," ucap Rena, yang masih di antara percaya dan tidak percaya.


David tampak tersenyum ke arahnya dan perlahan ia merentangkan tangannya yang masih terasa lemas agar Rena segera mendekati dirinya.


Rena pun langsung mendekat dengan bergetar hampir tidak percaya bahwa David sudah siuman. Ia pun meraih tangan David dan langsung memeluk tubuh David.


"Aku di sini, Yang." jawab Rena sambil mendekatkan wajahnya ke wajah David.


"Akhirnya kamu kembali sayang," ucapa Rena sambil menangis.


David tampak perlahan mengelus rambut Rena.


"Maaf, sudah membuatmu khawatir. Aku sudah kembali dan tak akan tinggalin kamu," ucap David.

__ADS_1


"Jangan hanya bicara, tapi buktikan," ucap Rena lalu David pun mencubit hidung Rena.


"Sakit, Yang," ucap Rena sembari menjauhkan wajahnya dari dada David.


"Kalau kamu merasakan sakit, berarti apa yang kamu alami hari ini, semuanya kenyataan." Rena berdecak tapi setelahnya langsung memeluk kembali tubuh David yang masih lemah itu.


David tersenyum dan mengelus lembut wajah Rena.


Tubuh David memang masih lemah dan ia masih belum banyak berbicara. Tetapi Rena tahu, David telah benar - benar kembali padanya dan ia akan baik - baik saja.


Rena tersenyum dan bersyukur David telah terbangun dari komanya dan ia pun memeluk David lagi untuk melepaskan kerinduannya.


David mengelus kepalanya dan secara tiba - tiba menurunkan tangannya dan meraba perut Rena yang masih rata dan berkata, " Milik kita sayang..."


Rena terkejut dan tidak menyangka David akan mengatakan hal itu.


...********...


Pagi itu adalah 8 bulan sudah sejak David terbangun dari komanya. Ia dan Rena sedang berada di atas ranjang di dalam kamar mereka.


David mengecup perlahan candunya, menyesapnya lembut, kemudian ia membuka matanya dan tersenyum pada wajah cantik yang ada di hadapannya.


"Selamat pagi sayang," sapa David seperti biasa


setiap kali mereka bangun tidur.


"Pagi sayang," sapa balik Rena, sambil mengecup bibir David dan David pun membalasnya.


David tidak akan pernah melupakan sapaan pagi mereka.Sejak terbangun dari komanya 8 bulan yang lalu. Ia tidak pernah menyianyakan waktunya untuk bersama dengan orang - orang yang di sayanginya.


Bahkan ia teringat pada hal pertama yang ia lakukan saat terbangun dari komanya adalah mencari Rena, Istrinya.


...****************...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2