
Wajah itu ... wajah itu. Wajah di mana pertama kali aku melihatnya. Dingin, kejam. Siap membunuh mangsanya! Kenapa dia marah? Apakah dia mendegar Ibu-ibu ini waktu berbicara?
"Kak!" panggilku lirih.
Kak Azril menghampiriku yang masih duduk di lantai. Wajahnya tiba-tiba berubah lembut saat mendekatiku. Oh, tidak! Cukup sampai di situ, Kak! Aku tidak mau wajahku terlihat merah di depanmu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya saat sudah berada di depanku.
"Iya, tidak apa-apa, Kak,' jawabku dengan senyuman semanis mungkin.
"Himai! Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu yang baru datang entah dari mana.
"Himai tidak kenapa-napa, Bu!" jawabku.
"Ya udah, kamu ajak suamimu istirahat, Nak!" perintah Ibu.
Ah, suami? Semuanya seperti mimpi. Waktu berjalan begitu cepat.
"Ayo! Berdiri. Biar kubantu pegang gaunnya," ujar Kak Azril.
"Tidak apa-apa, Kak. Himai bisa kok," tolakku lembut.
"Jangan menolak. Cepat masuk kamar kita!" perintahnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ya Tuhan! Rasanya aku pengen terbang. Jantungku berdetak tida beraturan. Kalau di dekatnya terus, bisa-bisa aku tidak tahu bernapas.
__ADS_1
Aku berjalan pelan masuk ke kamar diikuti Kak Azril yang memegangi gaun. Saat berada dalam kamar kecilku, ada rasa tidak enak terhadap Kak Azril. Malam ini dia akan tidur di kamar yang panas, kasur tipis. Tidak seperti kamarnya yang pasti ada pendingin ruangan, kasur empuk dan televisi pasti ada juga.
"Kak!" lirih kupanggilnya.
"Iya!" jawabnya menatapku lembut.
"Em-m, maaf, ya!"
"Maaf? Buat?" tanyanya heran.
"Maaf! Karena kamar himai kecil, panas dan kasurnya juga tipis," ucapku menunduk.
"Setiap apa yang disyukuri itu rasanya pasti nikmat walaupun biasa-biasa saja. Namun, walaupun bergelimang harta tapi, tidak disyukuri itu semua ambyar rasanya! Betul bukan?" ucapnya lembut dan lagi mengedipkan sebelah matanya.
Ah! Kak! Aku terpesona banget padamu! Pengen peluk deh. Ya Allah, semoga Kak Azril selalu seperti ini. Bisa menjadi imam yang baik untuk himai, bertanggung jawab sama keluarga. Aamiin.
"Dek, Kakak gerah nih! Kamar mandi di mana? Aku mau bersih-bersih," tanya Kak Azril.
"Ada di belakang, Kak. Bersebelahan dengan dapur," jawabku.
"Anterin dong!" godanya. Ya Tuhan! Aku tak kuat!
"Manja!" celetukku.
"Sudah halal, 'kan!" ucapnya menggoda.
__ADS_1
Ya Tuhan! Hatiku berasa ingin meloncat, ingin menenangkan jantungku yang berdetak kian kencang. Ternyata ... Kak Azril, sweet juga! Nikmat mana lagi yang mau kudustakan?
"Kakak tunggu di luar! Himai mau ganti baju dulu!" perintahku.
"Nggak! Mau lihat di sini." Santai dia menjawab sambil memangku tangan di dada.
Ya Tuhan! Dia begitu kekanak-kanakan. Kuusap kasar wajahku. Kubuka peniti jilbab lalu cepat menarik jilbabnya, dan langsung menutupi kepala dengan handuk mandi. Untung saja aku memakai daleman, jadi tidak masalah jika gaun ini kubuka di depan Kak Azril.
Kak Azril, kan sudah sah jadi suamiku. Jadi di berhak melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat. Namun, akunya masih malu banget!
"Kenapa kepalanya ditutupi lagi? Kan kita sudah sah!" protesnya.
"Em-m ... duh! Kebelet pipis, Kak!" kelikku.
"Ayo! Aku antar, Kakak ke kamar mandi!"
Kak Azril berjalan mengikutiku dengan menenteng handuk biru di bahunya. Kucel banget, tapi kok tetap ganteng begitu? Andaikan aku tidak ada malunya, sudah dari tadi kupeluk. Pasti nyaman banget!
"Ini Kak, kamar mandinya. Maaf kecil!" ucapku.
"Mandi sama yuk!" Bisik Kak Azril.
"Ih! Kak Azril mesum!" rajukku.
"Dasar anak kecil!" ejeknya lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku berjalan menghentak-hentakkan kaki. Kesel banget sama Kak Azril! Masa aku dibilangin anak kecil. Kan yang salah memang dia! Mana boleh coba, perempuan dan laki-laki mandi barengan. Oh, tidak!