Wanita Pilihan Ceo

Wanita Pilihan Ceo
Kedatangan Milan Dirgantara dan Alexa


__ADS_3

Di ruangan kerja Malvin Dirgantara, Malvin tengah menghirup dalam - dalam putung rokok yang ada di tangannya. Ia tengah menanti kedatangan Arka, dan matanya menerawang jauh menatap pepohonan yang bergoyang yang di tiup angin. Namun benaknya tidak berada di sana. Ia tengah memikirkan Renatta Azaria, saat terakhir kali melihatnya di rumah Alfaro sore itu, setelah pemakaman Syahnaz. Ia sama sekali tidak punya firasat akan kehilangan Renatta Azaria setelah hari itu, selama 7 tahun lamanya. Dan saat ia menemukan gadis itu, ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dan yang membuatnya sangat kesal adalah karena gadis itu sudah berada di pelukan orang lain.


Sore itu, Alexa datang bersama dengan Milan Dirgantara. Alexa telah menceritakan apa yang terjadi kepada suaminya itu dan Milan Dirgantara pun sependapat dengannya. Ia tidak ingin anak laki - laki satu - satunya itu bersiteru dengan Alexander David Mahendra dan berharap ia mau melupakkan Renatta Azaria serta mau menikahi Mira Handono.


Garda, Kepala Asisten Rumah Tangga di kediaman, Malvin, mengetuk pintu ruang kerja Malvin. Karena tidak ada jawaban pun Garda masuk ke dalam ruangan. Tampaknya benak Malvin sedang berselancar terlalu dalam pada masa lalu, sehingga tidak menyadari kehadiran Garda.


"Maaf Pak, Ibu Alexa dan Bapak Milan datang, untuk menemui Bapak," ujar Garda memecah lamunan Malvin.


"Papa sama Mama? Mau apa mereka kesini?" batin Malvin.


"Oke Garda, aku akan segera turun." ucap Malvin lalu segera mematikan putung rokok yang ada di tangannya.


Garda pun meninggalkan Malvin dan menemui Alexa dan Milan di ruang keluarga di lantai bawah.


"Di tunggu sebentar, Pak Malvin akan segera turun," ujar Garda pada Alexa dan juga Milan.


Alexa pun mengangguk.


Tak lama kemudian, Malvin turun dan menemui mereka.


"Pah, Mah," sapa Malvin sambil mencium pipi dan memeluk mereka.


"Apa kabar Malvin? Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Milan Dirgantara. Milan Dirgantara yang telah berusia 62 tahun tampak masih segar dan bugar.


"Baik Pah," jawab Malvin.


Garda membawakan minuman teh hangat dan kue untuk Alexa dan juga Milan.


"Papa dan Mama ada keperluan apa datang kesini? Ada yang Malvin bisa bantu?" tanya Malvin tanpa basa - basi.


"Kami hanya ingin menanyakan bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Mira? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Alexa sambil menyelidiki raut wajah Malvin.


"Harusnya semua lancar. Tetapi aku tidak tahu pasti, karena Mira yang mengurus semuanya," tutur Malvin.


Malvin memang tidak tahu menahu tentang persiapan pesta pernikahannya dengan Mira, karena keluarga Mira yang mengurus segala sesuatunya.


"Apa hubunganmu dengan Mira baik - baik saja?" tanya Milan Dirgantara pada anak laki - lakinya itu.


Malvin memandang Papa dan Mama tirinya itu. Apa mereka sudah tahu apa yang telah terjadi? Pikir Malvin.

__ADS_1


"Sejujurnya aku... tidak tahu," ujar Malvin akhirnya.


"Mungkin Mama dan Papa sudah mendengar dari Mira," tukas Malvin menebak alasan kedatangan mereka untuk menemuinya.


"Ya, Mira memang menemui Mamamu, dan dia sudah menceritakan apa yang terjadi." ujar Milan juga berterus terang.


"Malvin, sebagai Papamu. Papa minta kamu lebih fokus kepada pernikahanmu dengan Mira. Apalagi Mira tengah mengandung anakmu. Kamu harus bertanggung jawab Malvin." ujar Milan Dirgantara.


Malvin terdiam.


"Lupakanlah Renatta, biarkan dia juga bahagia dan kamu juga bisa berbahagia dengan pernikahanmu sendiri. Mira adalah gadis yang sangat baik...." tambah Alexa namun di potong oleh Malvin.


"Mira bukan Renatta!" Seru Malvin tiba - tiba.


"Tapi dia sedang mengandung anakmu, Malvin." ujar Alexa lagi.


"Dia bisa menggugurkannya!" Tukas Malvin dengan cueknya.


"Malvin! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu! Anak itu adalah darah dagingmu, kamu harus bertanggung jawab membesarkan dan merawatnya!" Seru Milan Dirgantara dengan keras.


"Aku tidak perduli Pah! Salah Mira sendiri kenapa sampai hamil anakku! Aku tidak menginginkannya!" Ujar Malvin dengan ketus.


"Demi Almarhumah Ibumu, yang telah melahirkanmu jangan katakan hal seperti itu. Nikahi Mira dan rawat anakmu!" Seru Milan dengan keras.


Malvin tertegun saat Milan Dirgantara menyebutkan Almarhumah Ibunya.


Ya, Malvin Dirgantara sangat menyayangi Almarhumah Ibunya yang meninggal saat ia berusia 7 tahun. Dan Malvin sangat merindukannya meskipun Alexa telah menggantikan peran Ibunya sejak ia berusia 8 tahun.


"Jangan bawa nama Ibu," lirih Malvin.


"Percayalah Malvin, Ibumu tidak akan mau kamu melakukan hal itu. Bertanggung jawablah," pinta Milan Dirgantara. Nada suara Milan pun mulai melembut.


Malvin terdiam.


"Baik Pah, aku akan menikahi Mira dan bertanggung jawab pada anak itu. Tetapi jangan pernah hentikkan aku untuk mendapatkan Renatta." ujar Malvin sambil menatap mata Papanya.


"Malvin? Tolonglah, lupakan Renatta! Dan fokus pada pernikahanmu," ujar Milan.


"Baik, aku akan fokus pada pernikahanku saat ini. Tetapi jangan pernah meminta aku untuk melupakan Renatta!" Ujar Malvin dengan tajam.

__ADS_1


"Masih ada yang harus aku lakukan, terserah kalian jika kalian mau tetap ada di sini," ujar Malvin, kemudian ia meninggalkan Alexa dan Milan, yang menghela nafas dengan berat.


Memang sangat sulit untuk merubah pemikiran Malvin, tetapi paling tidak ia telah setuju untuk menikah dengan Mira dan bertanggung jawab atas anaknya.


Mengenai Renatta, Alexa tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menolong gadis itu.


Saat berjalan menuju pintu keluar Alexa dan Milan berpapasan dengan Arka. Alexa pun tahu siapa itu Arka dan ia pun tahu jika Arka dulu bekerja pada Alfaro, Kakaknya.


"Mas, aku mau bicara sebentar dengan Arka." ujar Alexa pada suaminya, Milan Dirgantara.


Milan mengangguk dan menunggu Alexa di dalam mobil.


Alexa pun memanggil Arka. Dan mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius untuk beberapa saat.


Setelah mobil yang di tumpangi oleh Alexa dan Milan melaju, Arka segera naik ke ruang kerja Malvin di pandu oleh Garda.


"Selamat sore Pak," sapa Arka saat ia masuk ke dalam ruangan kerja Malvin, dan mendapati Bosnya itu tengah duduk termenung.


"Arka," ucap Malvin, dan Garda meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Arka.


Malvin terdiam. Awalnya ia memanggil Arka untuk menculik Renatta Azaria. Namun setelah kedatangan kedua orang tuanya dan ingatan akan Ibunya, serta janjinya pada Papanya untuk fokus pada pernikahannya yang telah dalam hitungan hari, untuk sementara ia pun merubah pemikirannya.


"Mata - matai Renatta Azaria dan laporkan padaku apa yang ia lakukan," perintah Malvin pada Arka.


"Itu saja Pak? Atau ada yang lain?" tanya Arka sedikit heran.


"Untuk sementara itu saja dulu, karena ada sesuatu hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu," jawab Malvin.


Ya, Untuk sementara Malvin harus menahan diri paling tidak sampai pernikahannya dengan Mira terlaksana dan setelah itu ia akan melakukan rencana awalnya yaitu menculik Renatta.


" Tunggu saja. Aku pasti akan mendapatkanmu kembali, Renatta Azaria" batin Malvin.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf Jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2