
Ah, sweet banget sih!
***
Aku sudah berada di dalam mobil tanpa ada percakapan. Aku takut untuk memulai pembicaraan, tapi aku penasaran untuk bertanya suatu hal.
Setelah mengkumpulkan keberanian, akhirnya aku berbicara. Mempertanyakan suatu hal yang memang harus dia jawab.
"Ke-na-apa, Tuan datang melamarku? Sedang Tuan sama sekali tidak mengenaliku, 'kan?" tanyaku memberanikan diri.
"Karena kamu berbeda," jawabnya datar.
"Berbeda? Yah, aku memang berbeda. Aku wanita miskin juga jelek, sedang Tuan lelaki kaya juga tampan," ucapku sambil melihat lurus ke depan.
Dia malah berbalik melihat ke arahku lalu ... .
"Tidak sama sekali! Diam lah. Kita akan singgah dulu ke salon untuk membersihkan badanmu."
Hah! Salon, bagaimana salon itu? Aku sama sekali tidak pernah pergi ke salon walau hanya sekedar melihat-lihat saja.
***
Aku mengikutinya dari belakang memasuki sebuah bangunan yang plangnya bertuliskan Salon Rini. Wah! Bersihnya dan juga harum banget. Karena saking menikmati indahnya salon ini, aku sampai menabrak Azril lagi. Ceroboh!
"Maaf, Tuan! Aku tidak sengaja," ujarku.
"Jangan panggil aku tuan!"
"Lalu apa?" tanyaku.
"Sayang!" ucapnya santai.
"Tidak! Aku tidak mau, Tuan!" Spontan aku menolak.
__ADS_1
Sayang? Gila, ya! Bagaimana bisa aku memanggilnya sayang, sedang berada di dekatnya saja pipiku sudah merona apalagi kalau memanggilnya sayang, bisa-bisa pipiku jadi semerah tomat.
"Panggil aku sayang, kalau tidak--"
"Aku panggil kakak saja, bagaimana?" selaku cepat.
"Tidak buruk juga. Okelah dari pada kau panggilku tuan," ujarnya membuat diriku lagi-lagi tersipu.
Pengawai salonnya cantik-cantik. Aku berada di antara mereka rasanya paling jelek deh! Dua pegawai cantik, tangannya sudah menari-nari di kepalaku. Merapikan rambutku yang panjangnya sudah sebokong.
Setelah memotong rambutku sampai sebahu dan keramas. Pegawainya lanjut membersihkan badanku. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi mereka menggosok-gosok badan dan keluar lah kotoran-kotoran yang mungkin itu dari kulitku. Kotor sekali!
Ternyata begini rasanya perawatan di salon, enak sekali! Rambut dan badanku segar, harum dan juga halus banget! Saat hendak bangkit pengawainya melarangku.
"Mukanya belum, Kak," katanya.
"Oh, muka juga? Kirain udah selesai," ucapku.
"Kata suami Kakak, seluruh badan."
Saat semuanya sudah selesai, aku memakai baju yang pegawai salon berikan kepadaku. Katanya dari Azril. Ukuran bajunya sangat cocok di badanku yang ramping ini. Bajunya berwarna biru mengkilap. Ini pasti gamis mahal deh? Kainnya aja selembut begini.
Setelah memakainya, aku takjup sendiri melihat pantulan diri di cermin. Cantik banget! Ini betul aku? Buriknya mana? Rambut lurus, wajahku putih bersih nggak kotor lagi. Padahal aku setiap hari kok, cuci muka pakai sabun lifeb**y.
Saat kukenakan jilbab pasangan baju pemberian Azril. Datanglah lagi pegawai salonnya.
"Kak, jilbabnya dibuka dulu. Mau didandanin," ucapnya. Aku pasrah saja deh, ini pasti perintahnya Azril.
"Kak, jangan dandanin aku yang tebal-tebal, ya!" ujarku sebelum dia mendandanku.
Setelah didandan, pegawainya juga memakaikanku jilbab. Setelah semuanya benar-benar selesai, aku bercermin. Betapa terkejutnya aku ... Ya Allah, apakah ini beneran Himeka Alisya?
***
__ADS_1
Aku berjalan bagai putri ingin menemui sang pangerannya. Ah! Ini semua seakan mimpi.
Saat aku sudah tepat berada di depan Azril yang lagi sibuk dengat ponselnya. Aku beranikan diri memanggilnya.
"Tuan! Eh ... em, Kak Azril!" panggilku kikuk.
Azril mendongakkan kepalanya lalu berdiri, mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa berkedip. Apa aku masih jelek, ya?
"Cantik," ucapnya membuatku tersenyum malu.
"Ayo, kita pergi! acaranya setengah jam lagi dimulai," ajaknya menarik lembut tanganku.
Tanganku dingin, degup jantung tak beraturan. Bagaimana tidak! Azril berjalan memegangi tanganku. Perlahan kutarik agar lepas dari genggamannya. Namun, Azril malah memegang lebih erat. Ya Allah! Jangan sampai dia melihat wajahku yang merah merona ini.
Aku sudah duduk di dalam mobil dan berusaha men-positifkan pikiran. Aku sangat takut hadir di pesta itu, atau aku menolak untuk pergi saja. Menyuruh Azril mengantarkanku pulang?
"Em-m, Kak!" panggilku kepada Azril yang duduk di sebelah kanan.
"Ya!" jawabnya menatap lurus ke depan.
"Em-m, a-ku kayaknya tidak usah pergi deh! Aku baiknya di rumah saja," ucapku seketika membuatnya menoleh.
"Kamu takut?" tanyanya. Seolah tahu perasaanku. Mungkin kelihatan dari wajahku yang sudah keringat dingin, padahal AC mobil nyala.
"Ya!" jawabku menunduk.
"Tidak usah takut, ada aku kok!" ucapnya menenangkanku.
Aku tak berbicara lagi, berharap dia betul menepati janjinya. Bila ada sesuatu dia harus melindungiku. Aku percayakan kepadanya!
Next.
Makasih sudah berkenan membaca, ya!
__ADS_1
ikuti terus kisah Azril dan Himeka.